Atlanta – Timnas Inggris nyaris saja menuliskan salah satu tinta paling hitam dalam sejarah sepak bola mereka. Menghadapi Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) di babak 32 besar Piala Dunia 2026, armada Thomas Tuchel sempat menatap jurang kehancuran sebelum akhirnya diselamatkan oleh magis sang kapten, Harry Kane.
Bertanding di bawah atap stadion futuristik Atlanta yang megah, Rabu malam, 1 Juli 2026 WIB, Inggris yang sempat tertinggal sukses membalikkan kedudukan secara dramatis menjadi 2-1. Kemenangan ini sekaligus mengamankan tiket mereka ke babak 16 besar untuk menantang tuan rumah Meksiko.
Bayang-Bayang Tragedi Kelam
Sejak peluit pertama dibunyikan, RD Kongo yang tampil tanpa beban langsung menghentak. Laga baru berjalan tujuh menit, lini pertahanan Inggris kocar-kacir. Brian Cipenga yang berdiri bebas tanpa kawalan sukses memperdaya Jordan Pickford. Skor 1-0 untuk keunggulan tim Afrika tersebut.
Frustrasi mulai menjalar. Di pinggir lapangan, Thomas Tuchel tampak tegang. Di lapangan, Jude Bellingham bahkan nyaris frustrasi dan diganjar kartu kuning. Bayangan tragedi memalukan seperti saat didepak Islandia di Euro 2016 atau kalah dari Amerika Serikat di Piala Dunia 1950 mulai menghantui benak para pendukung The Three Lions.
Ditambah lagi, kiper RD Kongo, Lionel Mpasi, tampil bak kesetanan dengan mementahkan rentetan peluang emas dari Bellingham dan Kane.
Sentuhan Magis ‘Hiu’ Bernama Harry Kane
Melihat buntu dan waktu yang terus menipis, Tuchel melakukan perjudian besar. Ia memasukkan Anthony Gordon dan Bukayo Saka, serta menggeser Declan Rice menjadi bek kanan.
Strategi ini berbuah manis. Di menit ke-75, berawal dari umpan silang Anthony Gordon, Harry Kane berhasil lolos dari pengawalan dan melepaskan sundulan mematikan yang gagal dihalau Mpasi. Skor imbang 1-1 membuat napas publik Inggris kembali lega.
Empat menit sebelum bubaran, Kane menunjukkan mengapa dirinya disebut penyerang kelas dunia. Menerima sodoran bola dari Gordon, striker berusia 32 tahun itu mengecoh dua bek lawan sebelum melepaskan tembakan keras kaki kanan yang menghujam jala gawang RD Kongo. Stadion Atlanta pun bergemuruh, Inggris berbalik unggul 2-1!
Usai laga, Thomas Tuchel tidak bisa menyembunyikan rasa kagum sekaligus leganya. Ia menyamakan Kane dengan monster bawah laut yang mematikan.
“Mereka semua (striker top) seperti hiu. Mereka bisa mencium bau darah. Harry sangat, sangat bagus. Dia kapten kami, pemimpin kami. Dia menentukan hasil pertandingan dengan penyelesaian akhir yang luar biasa,” puji Tuchel.
Kemenangan ini bukan hanya menyelamatkan wajah Inggris, tapi juga karier Tuchel yang dipastikan berada di ujung tanduk andai Inggris gugur lebih cepat.
Kane Lewati Pele, Cetak Rekor Gila!
Dua gol di laga menegaskan status Harry Kane sebagai salah satu striker terhebat sepanjang sejarah. Tambahan dua gol ini membawa Kane mengoleksi 13 gol di panggung Piala Dunia, resmi melewati rekor sang legenda Pele untuk duduk di peringkat keenam pencetak gol terbanyak sepanjang masa turnamen.
Secara total, Kane kini telah mengemas 84 gol internasional, sejajar dengan legenda Hungaria, Ferenc Puskas. Statistiknya musim ini luar biasa mengerikan: 72 gol dalam 62 penampilan untuk klub dan negara!
Menantang Kutukan “Tangan Tuhan” dan Musuh Tak Terlihat di Meksiko
Ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Di babak 16 besar, Inggris harus terbang ke Mexico City untuk menantang co-host Meksiko di stadion legendaris, Estadio Azteca, pada Senin (6/7) mendatang.
Estadio Azteca adalah tempat yang penuh trauma bagi Inggris, tempat di mana Diego Maradona mencetak gol “Tangan Tuhan” yang menyingkirkan mereka pada Piala Dunia 1986. Selain keangkeran stadion—di mana Meksiko hanya kalah 2 kali dari 89 laga kompetitif terakhir mereka—Inggris juga harus menghadapi musuh tak terlihat: faktor ketinggian.
Estadio Azteca berdiri di ketinggian 7.200 kaki (sekitar 2.200 meter) di atas permukaan laut. Pada level ini, udara sangat tipis dan kadar oksigen sangat rendah, sebuah siksaan fisik bagi tim yang tidak terbiasa. Celakanya, Tuchel mengakui timnya tidak punya waktu untuk beradaptasi.
“Ketinggian itu akan menjadi kerugian besar bagi kami karena secara fisik kami tidak bisa beradaptasi. Waktunya terlalu singkat, kami hanya punya tiga hari di antara pertandingan,” ungkap Tuchel jujur.
Meskipun dihadapkan pada misi mustahil di dataran tinggi Meksiko, Tuchel meminta dukungan penuh dari seluruh masyarakat Inggris, bahkan memberikan pesan menggelitik untuk para orang tua agar mengizinkan anak-anak mereka begadang demi menonton laga yang disiarkan dini hari tersebut.
“Tulis surat izin untuk sekolah dan biarkan anak-anak menonton! Sekolah bisa masuk kapan saja, tapi Piala Dunia hanya ada empat tahun sekali. Biarkan mereka menonton, kami butuh dukungan semua orang,” pungkasnya.
Bagi Inggris, tantangan di depan mata teramat berat. Namun, selama mereka memiliki sang ‘Hiu’ Harry Kane di lini depan, harapan itu akan selalu ada.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy