Lhokseumawe, Line1News – Pagi itu, Jumat, 31 Juli 2026, langit di atas Gampong Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, menjadi saksi kepakan sayap harapan. Ratusan pasang mata anak-anak menatap dengan binar penuh mimpi. Tepuk tangan riuh segera pecah setelah Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, menggunting pita.
Sejurus kemudian, Wali Kota bersama Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Yulinda Sayuti, didampingi para pejabat dan perwakilan siswa Sekolah Rakyat melepas balon oranye-putih ke udara. Lalu, bersama-sama, tangan-tangan terangkat. Mereka melepas sekawanan burung merpati ke angkasa bebas.
Simbolisasi epik tersebut menandai pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Halaman Upacara Sekolah Rakyat Terintegrasi 2. Momen ini menjadi awal babak baru bagi 268 anak kurang mampu.

[TERBANG TINGGI: Pelepasan burung merpati ke udara oleh Wali Kota Sayuti Abubakar bersama Bunda PAUD Yulinda dan jajaran pejabat menandai babak baru dimulainya aktivitas akademik bagi anak-anak kurang mampu di Sekolah Rakyat, Jeulikat, Lhokseumawe, Jumat (31/7/2026). Foto: Prokopim Setda Lhokseumawe]
Alunan Suara Harapan dan Untaian Motivasi
Acara diwarnai penampilan yang menggugah emosi hadirin. Berdiri rapi di atas panggung berlatar spanduk “Selamat Datang Peserta MPLS”, sekelompok siswa-siswi menyanyikan lagu tentang kasih sayang ibu. Mengenakan seragam formal jas merah maroon dipadu bawahan putih, mereka juga menyuarakan optimisme generasi baru.
Usai mereka unjuk bakat, Wali Kota Sayuti bersama Bunda PAUD Yulinda Sayuti naik ke atas panggung. Keduanya berdiri di tengah-center kelompok paduan suara untuk berfoto bersama, merangkul erat anak-anak tersebut tanpa sekat pembatas.
Suasana semakin khidmat saat Wali Kota Sayuti berdiri di sisi panggung utama. Menggenggam mikrofon dan lembar catatan di tangannya, ia memberikan arahan dan motivasi kepada ratusan siswa yang duduk rapi. Mayoritas siswa itu berasal dari keluarga kategori desil satu dan desil dua.
“Sekolah Rakyat ini adalah sekolah dengan fasilitas paling lengkap di Lhokseumawe,” ujar Sayuti, dikutip dari sebuah video. “Ini sekolah gratis. Belum pernah ada sekolah sebelumnya yang gratis dengan fasilitas paling lengkap dan semuanya ditanggung oleh negara. Dan yakinlah pendidikan di Sekolah Rakyat ini adalah pendidikan yang berkualitas,” tambahnya.
Jejak Tangan, Langkah Menuju Masa Depan
Komitmen besar tersebut tidak hanya diucapkan, tetapi juga diukir secara visual. Usai berpidato, Sayuti bersama Yulinda dan jajaran pejabat menempelkan telapak tangan mereka yang telah dilumuri cat oranye ke atas kain putih besar. Spanduk tersebut bertuliskan pesan mendalam: “Jejak Tangan, Langkah Menuju Masa Depan“.
Usai menempelkan cap, Wali Kota bersama jajaran Forkopimda berdiri berjejer memamerkan telapak tangan mereka yang berwarna oranye terang. Di depan mereka, barisan siswi berhijab hitam tersenyum mendampingi. Foto bersama ini menjadi simbol janji bersama untuk mengawal masa depan anak-anak prasejahtera.
Sebagai penanda dimulainya perjalanan akademik, Wali Kota juga menyematkan tanda peserta MPLS secara simbolis. Ia merapikan kalung pengenal seorang perwakilan siswa di atas panggung utama dengan penuh perhatian.

[KEAYAHAN: Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar membungkuk menyemangati seorang siswa prasejahtera saat pelaksanaan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 di Gampong Jeulikat, Jumat (31/7/2026). Foto: Prokopim Setda Lhokseumawe]
Usai seremoni panggung, suasana formal segera mencair menjadi begitu hangat. Sayuti melangkah mendekati barisan siswa terkecil, lalu membungkukkan badannya. Tangan kanannya menyentuh lembut pundak seorang bocah laki-laki berbaju merah. Ia membisikkan kalimat penyemangat tepat di hadapan sang siswa yang menatapnya takzim.
Kehangatan berlanjut saat rombongan meninjau meja interaksi di dalam ruangan kelas sekolah binaan Kementerian Sosial ini. Tawa lepas pecah di antara Wali Kota, Bunda PAUD, dan para guru. Sekat pembatas antara pejabat daerah dan anak-anak seketika runtuh.
Sayuti berpesan agar anak-anak mengenyam pendidikan mereka sampai tuntas karena seluruh biaya sudah ditanggung pemerintah. Pemko Lhokseumawe berjanji akan memantau proses belajar ini secara berkala.
Fasilitas Modern Penghancur Kemiskinan
Sehari sebelum MPLS, Kamis (30/7/2026), Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, telah meninjau langsung sekolah seluas 8,4 hektare ini. Luas bangunannya mencapai 26.376 meter persegi. Dody memastikan infrastruktur utama sudah siap fungsional untuk menyambut siswa baru.
“Sekolah Rakyat ini sudah siap digunakan. Walau ada beberapa bangunan di belakang yang belum siap, tapi secara umum sudah bisa fungsional,” kata Dody, dikutip dari rilis Kementerian PU.
Langkah ini merupakan perwujudan program Presiden Prabowo Subianto dalam memuliakan anak-anak keluarga prasejahtera. Sekolah ini dirancang dengan fasilitas lengkap yang setara dengan sekolah berasrama (boarding school) swasta unggulan.
Para siswa akan mendapatkan perlengkapan pribadi, tempat tinggal di asrama, hingga laptop untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Kompleks terpadu ini dirancang mencakup jenjang SD, SMP, hingga SMA, lengkap dengan lapangan basket dan minisoccer.
“Sekolah Rakyat ini bukan untuk saingan dengan sekolah lain, melainkan complement (pelengkap) bagi adik-adik kita yang tidak memungkinkan masuk ke sekolah biasa karena keterbatasan biaya, karena ini semua gratis,” tambah Dody.
Megaproyek bernilai Rp262,3 miliar dari APBN Tahun 2025–2026 ini dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh melalui KSO PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Hingga Juli 2026, Kementerian PU telah membangun lima Sekolah Rakyat di Aceh. Target ke depan adalah satu Sekolah Rakyat di setiap kabupaten/kota.
Selaras dengan visi PU608 untuk menekan angka kemiskinan ekstrem hingga 0 persen, Sekolah Rakyat di Jeulikat kini berdiri kokoh.
Rangkaian acara MPLS ditutup dengan sesi foto bersama. Wali Kota, Bunda PAUD, para pejabat, para guru, dan seluruh siswa berkumpul di tengah lapangan sekolah, mengabadikan senyum kolektif sebagai lembaran pertama jembatan berharga bagi anak-anak kurang mampu untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy