Gandeng Kasat Reskrim Lhokseumawe, PPKPT PNL Tegaskan Komitmen ‘Saling Jaga’ Bebas Kekerasan

Kasat Reskrim Lhokseumawe Dr Boestani pemateri di PNL
Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Dr. Boestani, S.H., M.H., M.S.M., M.I.K. M.Si., M.Kn. (kiri), saat memaparkan materi pentingnya menjaga martabat warga kampus dari segala bentuk kekerasan, didampingi oleh moderator Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, S.ST., M.T., CPS., CPPS., CMPS., CCLS., CTRS., CCHS., (kanan), di Ruang Theater PNL, Selasa (2/9/2026). Foto: Humas PNL

Lhokseumawe, Line1News – Suasana Ruang Theater Lantai V Gedung TDC Politeknik Negeri Lhokseumawe (PNL) tampak hangat namun penuh perhatian pada Rabu, 2 September 2026. Di tempat itu, berkumpul puluhan pasang mata dari berbagai unsur sivitas akademika dengan satu keresahan dan tujuan yang sama: memastikan kampus tercinta menjadi ruang yang ramah, aman, dan memanusiakan semua warganya.

Langkah nyata ini dimotori oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT) PNL melalui agenda sosialisasi bertajuk “Saling Jaga, Kampus Berdaya”. Demi memperkuat benteng perlindungan tersebut, PPKPT PNL menghadirkan Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Dr. Boestani, S.H., M.H., sebagai narasumber utama, dengan dipandu oleh Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, S.ST., M.T., selaku moderator.

Kampus Harus Lindungi Martabat, Bukan Ruang Relasi Kuasa

Hadir di tengah-tengah mahasiswa dan dosen, AKP Dr. Boestani membawakan pemaparan yang menggugah empati. Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi sejatinya adalah tempat bertumbuh yang suci dari segala bentuk intimidasi. Menurutnya, tidak ada ruang bagi pembenaran kekerasan di kampus, baik itu yang dibungkus dengan alasan bercanda, budaya senioritas, maupun pemanfaatan relasi kuasa.

Kekerasan, lanjut Boestani, kini memiliki banyak wajah. Tidak hanya berupa sentuhan fisik yang melukai, tetapi juga serangan psikis yang tak kasatmata, perundungan di dunia maya (doxing), komentar bernada seksual, hingga diskriminasi dan intoleransi.

“Kampus harus menjadi ruang yang melindungi martabat setiap orang. Kekerasan bukan candaan dan senioritas bukan alasan untuk merendahkan orang lain,” tegas Boestani secara langsung di hadapan audiens.

Ketika dugaan kekerasan terjadi, Boestani mengingatkan bahwa fokus utama yang tidak boleh ditawar adalah keselamatan dan pemulihan psikologis korban. Ia menekankan pentingnya mendampingi korban dengan rasa aman dan kerahasiaan penuh, mengamankan bukti-bukti, serta tetap menjamin hak keadilan bagi pihak terlapor secara berimbang sesuai prosedur.

Tanggung Jawab Bersama Sebuah “Keluarga”

[Penyerahan plakat penghargaan sebagai simbol sinergi kuat antara dunia pendidikan dan aparat penegak hukum dalam mewujudkan lingkungan PNL yang aman, inklusif, dan bebas kekerasan, Selasa (2/9/2026). Foto: Humas PNL]

Menyambung hal tersebut, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni PNL, Ir. Syukri, S.T., M.T., menyampaikan pesan menyentuh mengenai esensi sebuah institusi pendidikan. Baginya, menciptakan lingkungan yang aman bukan sekadar tugas satgas, melainkan panggilan nurani bagi seluruh penghuni kampus.

“Kampus harus menjadi keluarga kedua dan tempat yang aman dan nyaman bagi setiap orang untuk berkembang. Karena itu, kita semua harus memiliki keberanian untuk mencegah, melapor, dan melindungi,” harap Syukri dengan penuh ketulusan.

Senada dengan hal itu, Ketua Satgas PPKPT PNL, Novi Quintena Rahayu, S.H., M.H., menegaskan bahwa kehadiran mereka di kampus bukan sekadar untuk menjadi kotak aduan atau lembaga administratif penegak regulasi (Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024). Lebih dari itu, Satgas PPKPT adalah pelukan hangat yang siap mengedukasi, melindungi, dan merangkul siapapun yang membutuhkan pemulihan.

“PPKPT terus berupaya membangun kesadaran seluruh sivitas akademika. Pencegahan harus menjadi langkah utama, namun mekanisme penanganan juga harus siap ketika dugaan kekerasan terjadi,” jelas Novi.

Tumbuh Bersama dari Sosialisasi ke Aksi Nyata

Keberhasilan acara yang berlangsung interaktif ini memicu rasa syukur yang mendalam dari Ketua Panitia, Siti Aminah, S.E., M.S.M. Sinergi yang dibangun bersama pihak kepolisian ini diharapkan menembus dinding-dinding kelas dan menjelma menjadi kesadaran personal setiap individu.

“Kegiatan ini kami harapkan tidak berhenti pada sosialisasi. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bersama untuk menerapkan nilai-nilai kampus aman dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Siti Aminah penuh optimisme.

Agenda penting ini turut dikawal oleh Wakil Direktur Bidang Akademik dan Sistem Informasi PNL, Dr (C). Muhammad Arhami, S.Si., M.Kom., serta jajaran ketua jurusan, kepala bagian, hingga perwakilan mahasiswa yang antusias menyimak hingga akhir.

Melalui momentum ini, PNL tidak sekadar mengadakan seremonial, melainkan sedang meneguhkan hati untuk saling menjaga satu sama lain. Sebuah komitmen kolektif yang gaungnya jelas:

Berani mencegah. Berani melapor. Berani melindungi.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy