Lhokseumawe, Line1News – Lantunan ayat suci Surah Yasin menggema syahdu membelah keheningan malam di Mimbar Upacara Lapangan Hiraq, Kota Lhokseumawe, Aceh, Jumat malam, 18 September 2026. Di atas tikar yang membentang, puluhan jurnalis dari Lhokseumawe dan Aceh Utara duduk bersila menundukkan kepala. Mereka melingkari poster besar bertuliskan “Patah Tumbuh, Hilang Tak Terganti“, lengkap dengan wajah-wajah sahabat mereka yang hingga kini belum ditemukan.
Sambil menggenggam kitab suci dan kartu pers (press card) yang diletakkan di tengah-tengah lingkaran, para jurnalis ini menggelar doa bersama dan yasinan. Aksi solidaritas penuh haru ini didedikasikan untuk lima jurnalis serta tiga kru kapal yang hilang kontak sejak 7 September 2026, saat menjalankan tugas mulia meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.
Lima jurnalis yang hilang kontak tersebut adalah:
• Arie Basuki (Jurnalis Merdeka.com)
• Yudhistiro Pranoto (Jurnalis iNews)
• M. Bagus Khoirunnas (Pewarta Foto ANTARA)
• Firdaus Wajidi (Jurnalis Anadolu News Agency)
• Donal Husni (Jurnalis Lepas)
Ketukan doa juga dikirimkan untuk tiga kru kapal yang setia menemani perjalanan mereka: Warta (Kapten Kapal), Surakman (ABK), dan Heriyanto (Guide).
Tim SAR gabungan telah melakukan operasi pencarian sejak 7 September 2026 lalu. Operasi pencarian tersebut dihentikan pada Kamis (17/9/2026).
Koordinator kegiatan, Rahmad YD, mengungkapkan bahwa duka ini adalah duka bersama seluruh insan pers di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Berbagai organisasi profesi seperti AJI, PWI, IJTI, PFI, hingga PWA melebur dalam satu saf doa yang sama.
“Kita memohon pertolongan dan mukjizat dari Allah SWT supaya lima jurnalis dan awak kapal yang hilang tersebut segera ditemukan,” ujar Rahmad YD, yang juga Fotografer LKBN ANTARA.
Suasana kian khusyuk dan menyentuh hati saat Yasinan dan doa bersama dipimpin oleh Abi Irfan Jalaluddin, Pimpinan Dayah Keumaral Al-Aziziyah, Landing, Aceh Utara, yang juga Pimpinan Balai Pengajian Darul Yaqin Al-Aziziyah Lhokseumawe.
Dalam keteduhan malam, Abi Irfan mengajak seluruh jemaah untuk mengetuk pintu langit demi keselamatan para jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas tersebut.
“Malam ini kita memohon kepada Allah SWT, dengan berkat surah Yasin, lima saudara kita, jurnalis yang telah hilang sampai 11 hari belum ditemukan. Kalau memang kepada mereka masih diberikan umur yang panjang, agar dipertemukan kembali dengan kita semua dan keluarganya,” ucap Abi Irfan.
Namun, di tengah ketidakpastian yang menyelimuti perairan Selat Sunda, keikhlasan dan ketetapan hati juga turut dipanjatkan.
“Kalau memang Allah berkehendak lain, mungkin ajalnya sudah sampai, kita mohon kepada Allah SWT dengan berkat surah Yasin ini, semoga almarhum-almarhum husnul khatimah. Semoga Allah tempatkan di sisi Allah, Allah jadikan kuburan almarhum, satu kebun daripada kebun surga,” lanjutnya.
“Insya Allah, dengan berkat surah Yasin, kita mohon agar pahala membaca surah Yasin disampaikan kepada almarhum kelima jurnalis tersebut kalau memang Allah berkehendak mereka sudah kembali kepada Allah SWT,” ucap Abi Irfan.
Kamera-kamera yang biasa para jurnalis pakai untuk merekam peristiwa, malam itu tergeletak bisu di atas poster penanda duka. Di Lhokseumawe, jarak boleh memisahkan ribuan kilometer dari Selat Sunda, namun ikatan batin dan doa para jurnalis ini menembus batas lautan, berharap ada keajaiban yang membawa pulang sahabat-sahabat mereka.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy