Sabang, Line1News – Suasana khidmat menyelimuti Kota Sabang, wilayah paling barat Nusantara. Sebuah tonggak baru bagi penguatan moral dan pendidikan Islam di pulau ini resmi berdiri. Ulama kharismatik Aceh, Abu Syekh H. Hasanoel Bashry HG akrab disapa Abu Mudi, meresmikan Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah pada Rabu, 16 September 2026. Kehadiran dayah ini menjadi berkah ganda karena diresmikan bertepatan dengan momen bahagia Wisuda Sarjana Angkatan III Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Al-Aziziyah Sabang.
Sebanyak 54 wisudawan dan wisudawati tampak haru saat dikukuhkan. Angkatan ini terdiri dari 37 lulusan Program Studi Hukum Ekonomi Syariah dan 17 lulusan Program Studi Hukum Keluarga Islam. Momen bersejarah ini bukan sekadar perayaan akademik biasa, melainkan simbol kuat kokohnya tradisi keilmuan Al-Aziziyah yang kini mengakar lebih dalam di Kota Sabang.
Pesan Menyentuh Abu Mudi untuk Wisudawan
Dalam sambutannya yang menyentuh jiwa, Abu Mudi menitipkan pesan mendalam. Baginya, esensi sejati dari pendidikan Islam melampaui selembar ijazah. Ini adalah perjalanan membentuk manusia seutuhnya yang kaya akan ilmu, teguh dalam iman, mulia berakhlak, serta peka terhadap tanggung jawab sosial.
“Wisuda bukan akhir dari belajar, tetapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Jadilah sarjana yang bermanfaat, berintegritas, memiliki kompetensi, dan tetap beriman serta beradab,” tutur Abu Mudi yang juga menjabat sebagai Mustasyar PBNU 2022-2027, dilansir NU Online pada Sabtu (19/9/2026).
Langkah awal perjuangan dayah ini ditandai dengan pengukuhan Teungku Muslem Hamdani sebagai pimpinan perdana. Amanah besar ini menjadi nakhoda bagi dayah untuk mulai bergerak membumikan pendidikan keagamaan, menyemai pembinaan akhlak, mengkaji khazanah keislaman, sekaligus menjaga tradisi keilmuan dayah agar tak lekang oleh waktu di Kota Sabang.
Sinergi Tradisi Dayah dan Kampus Modern
Dukungan hangat pun mengalir dari berbagai pihak. Teungku H. Iskandar Zulkarnaen, Wakil Ketua PWNU Aceh sekaligus Ketua Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), menyambut kehadiran lembaga ini dengan penuh optimisme. Tokoh muda Nahdliyin ini melihat dayah sebagai benteng karakter tempat mencetak generasi emas pembawa perubahan.
“Kehadiran Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah tentu menjadi tambahan kekuatan bagi pendidikan Islam di Kota Sabang. Dayah harus terus menjadi tempat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat,” ungkapnya optimis.
Ia juga menaruh harapan besar pada sinergi antara pendidikan dayah tradisi dan bangku perguruan tinggi. Menghadapi dinamika zaman yang kian kompleks, ia menilai santri modern harus memiliki jangkar agama yang kuat sekaligus wawasan kontemporer yang luas.
“Tradisi dayah harus tetap dijaga, sementara kemampuan akademik dan wawasan generasi muda juga harus terus diperkuat. Keduanya dapat berjalan bersama,” tambah Iskandar.
Baginya, kolaborasi erat antara STIS Al-Aziziyah dan Dayah Raudhatul Muna memegang posisi yang sangat strategis. Sisi akademis akan mengasah ketajaman intelektual, sedangkan dayah akan menjadi ruang teduh untuk memperdalam spiritualitas, adab, dan karakter. Harmoni kedua lembaga ini diharapkan membawa kemaslahatan nyata bagi warga Sabang, Serambi Mekkah, hingga Indonesia secara luas.
Komitmen Merawat Warisan Ulama Aceh
Memikul tanggung jawab baru, Teungku Muslem Hamdani mengakui bahwa posisi sebagai pimpinan perdana merupakan amanah spiritual yang besar. Kendati begitu, ia berkomitmen menjadikan dayah ini sebagai rumah yang ramah bagi generasi muda untuk merawat tradisi luhur para ulama Aceh.
“Kami berharap Dayah Raudhatul Muna Al-Aziziyah dapat menjadi tempat pembinaan ilmu, akhlak, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah,” ucap Muslem.
Acara yang dipenuhi energi positif ini turut dihadiri oleh deretan tokoh agama dan akademisi terpandang. Di antaranya, Profesor Teungku Muntasir A. Kadir, Abi Zahrul Mubarraq, Aba Sayed Mahyeddin, Abiya H. Muhammad, Teungku Abrar Azizi, Abina Muhaimin, serta keluarga besar MUDI Mesjid Raya.
Kehangatan acara juga terpancar dari hadirnya elemen pemerintahan dan masyarakat. Tampak hadir Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al-Aziziyah, Keuchik Balohan, para tokoh masyarakat setempat, Wakil Ketua DPRK Sabang, Ketua Mahkamah Syar’iyah Kota Sabang, Ketua MPU, hingga Kepala Dinas Syariat Islam dan Pendidikan Dayah. Kehadiran kolektif ini menjadi saksi lahirnya pusat peradaban baru yang siap mencetak kaderisasi generasi penerus ulama dari ujung barat Indonesia.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy