TVRI Pusat Respons Krisis Anggaran, Belasan Kontributor TVRI Aceh Segera Diaktifkan Kembali

Kantor TVRI Stasiun ACeh
Kantor TVRI Aceh di Jalan Jenderal Sudirman, Mata Ie, Gampong Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Dok. TVRI Aceh

Banda Aceh, Line1News – Kabar baik akhirnya berembus ke Tanah Rencong. Di tengah mendungnya ruang redaksi akibat badai krisis anggaran yang sempat mengancam dapur para jurnalis daerah, Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Pusat mulai mengulurkan tangan.

Sebuah titik balik terjadi pada Sabtu sore, 12 September 2026. Lewat tatap maya Zoom Meeting, jajaran Direktur Operasional Pemberitaan dan Keuangan TVRI Pusat duduk bersama manajemen TVRI Aceh. Agenda tunggal mereka: menyelamatkan nasib 17 kontributor lapangan dan 6 penyiar yang menjadi napas sekaligus mata-telinga stasiun televisi publik tersebut.

Plt. Kepala Stasiun TVRI Aceh, Yusril, tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya atas angin segar yang berembus dari ibu kota ini.

“Alhamdulillah, kami sangat bergembira dengan respons positif dari TVRI Pusat. Ini menjadi harapan baru bagi kami untuk menyelesaikan persoalan kekurangan anggaran, khususnya untuk mendukung kegiatan para kontributor dan penyiar,” ujar Yusril kepada Line1News, Minggu (13/9/2026).

Mengganti Badai WhatsApp dengan Surat Pengaktifan

Jika beberapa hari lalu ponsel para kontributor bergetar menerima pesan pendek bernada pahit yang merumahkan mereka sejak 8 September, maka awal pekan ini akan membawa cerita yang berbeda. Manajemen lokal TVRI Aceh bergerak cepat menjemput kepastian.

Yusril mengungkapkan bahwa pada Senin, 14 September 2026, pihaknya akan melayangkan surat resmi untuk mengaktifkan kembali seluruh armada pemberitaan di daerah.

“Insya Allah, hari Senin (14/9) besok, kami akan melayangkan surat kembali terkait dengan pengaktifan para kontributor di daerah maupun penyiar. Kita berharap teman-teman kontributor bisa kembali bekerja seperti biasa,” tutur Yusril penuh optimisme.

Langkah taktis ini menjadi jembatan agar kamera dan mikrofon para kontributor di pelosok daerah bisa kembali merekam realitas, memastikan suara-suara warga yang sedang tertatih bangkit pascabencana tidak kembali senyap.

Menembus Tembok Regulasi dan Keterbatasan

Sebelum lampu hijau ini menyala, manajemen TVRI Aceh sebenarnya berada di posisi yang sangat pelik. Demi mempertahankan agar program kesayangan warga, Aceh Hari Ini, tetap mengudara hingga akhir tahun, mereka sempat mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp200 juta.

Bahkan, manajemen lokal sempat mencoba “ikat pinggang” dengan memotong biaya operasional internal kantor seperti listrik dan internet demi mengalihkan dana bagi honor para pekerja. Sesuatu yang sayangnya terbentur oleh dinding regulasi keuangan negara yang kaku.

Namun kini, dialog intensif dengan jajaran pusat membuka jalan keluar yang lebih manusiawi. Kehadiran jurnalis daerah diakui bukan sekadar urusan angka di atas kertas DIPA, melainkan komitmen moral sebuah televisi publik kepada pemilik sahnya: rakyat.

“Harapan kita tentunya pemberitaan dari daerah kembali bisa tercover dengan baik. Kontributor adalah bagian penting dalam menyampaikan informasi dari masyarakat Aceh. Dengan adanya dukungan anggaran ini, mudah-mudahan mereka dapat kembali menjalankan tugasnya secara maksimal,” tambah Yusril.

Solidaritas dan Terima Kasih untuk Media Lokal

Di balik melunaknya sikap pusat, ada andil besar dari gelombang solidaritas pers lokal di Aceh. Informasi dirumahkannya belasan wartawan ini sempat memicu pernyataan sikap bersama dari empat organisasi pers (AJI Banda Aceh, IJTI Aceh, PWI Aceh, dan PFI Aceh).

Yusril secara khusus memberikan ruang apresiasi yang mendalam bagi media lokal, termasuk Line1News, yang setia mengawal dan menyuarakan keluh kesah para pekerja media ini ke permukaan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Line1News yang telah ikut berpartisipasi dan terus mengawal persoalan TVRI Aceh. Alhamdulillah, berkat dukungan teman-teman media lokal di Aceh, persoalan ini mendapat perhatian dan respons dari pihak pusat,” ungkapnya hangat.

Bagi manajemen, jurnalisme yang berimbang dan berani bersuara terbukti mampu menjembatani sumbatan komunikasi antara daerah dan pusat.

“Alhamdulillah, apa yang menjadi keluhan dan persoalan manajemen TVRI Aceh akhirnya mendapat respons positif. Kita tentu sangat mengapresiasi dukungan media yang telah ikut mengawal persoalan ini sampai mendapatkan perhatian dari pusat,” pungkasnya.

Senin ini akan menjadi lembaran baru. Sembari menunggu realisasi anggaran sepenuhnya turun ke daerah, harapan agar suara dari pelosok-pelosok terjauh Aceh kembali terdengar di layar kaca kini bukan lagi sekadar impian kosong.[]

Baca Juga: 

Buntu Anggaran, TVRI Aceh Ungkap Alasan Berat Rumahkan Belasan Kontributor

TVRI Aceh Rumahkan Belasan Kontributor di Tengah Pemulihan Pascabencana, Ini Poin Protes 4 Organisasi Wartawan

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy