Ketika BPK Tinjau Perkembangan Mesin Pengolah Sampah di Lhokseumawe

BPK tinjau renovasi gedung A TPA Alue Lim
Tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh bersama Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe, Zulfikar Syarif, meninjau langsung pekerjaan renovasi Gedung A Pengolah Sampah Deposit TPA Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Jumat sore (18/9/2026). Foto: Line1News/Fajar Siddik

Lhokseumawe, Line1News – Riuh rendah suara mesin sesekali memecah keheningan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Jumat sore, 18 September 2026. Di tengah hamparan deposit sampah, sebuah asa besar sedang diuji. Hari itu, Tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Aceh turun langsung ke lapangan, melihat denyut nadi dari proyeksi besar bertajuk “Broeh Jeut Keu Peng” (Sampah Jadi Uang).

Program pemanfaatan limbah yang menjadi prioritas Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, ini memang memikul ekspektasi tinggi. Namun, jalannya tak langsung mulus. Mesin pengolah yang menjadi jantung program ini sempat menjadi catatan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK atas Laporan Keuangan Pemko Lhokseumawe Tahun Anggaran 2025.

Ketua Tim Pemeriksaan Kinerja Pendahuluan Efektivitas Pengelolaan Barang Milik Daerah dari BPK Perwakilan Aceh, Fajar Kurnia, menjelaskan bahwa kehadiran mereka sore itu adalah untuk melihat langsung bagaimana nasib aset daerah tersebut setelah sempat menjadi catatan.

“Jadi, kita pingin tau ni bagaimana progres kelanjutannya dari apa yang kawan-kawan kami capture pada saat pemeriksaan LK [Laporan Keuangan TA 2025],” kata Fajar Kurnia kepada wartawan yang meliput kunjungan Tim BPK Perwakilan Aceh.

Melihat Progres di Lapangan

Kunjungan sore itu terasa dinamis. Tim BPK tidak hanya berdiri mengamati, tetapi melakukan observasi saat mesin-mesin tersebut mulai dioperasikan secara bertahap. Langkah ini krusial untuk memetakan kendala teknis secara nyata di lapangan. Harapannya, hasil peninjauan ini melahirkan rekomendasi yang tepat guna untuk meningkatkan akuntabilitas sekaligus menyelamatkan fungsi barang milik daerah.

Sembari mengitari area gedung, Tim BPK tampak berdiskusi dengan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe, Zulfikar Syarif. Dialog mengalir mencari tahu apa saja batu sandungan yang membuat mesin ini belum bekerja optimal.

Dari hasil pengamatan visual, titik lemahnya perlahan terkuak. Mesin utama pemilah sampah yang terletak di Gedung A tampak masih memerlukan penanganan khusus.

“Mungkin itu menjadi salah satu kenapa pada saat teman-teman kami meng-capture di mesin ini secara keseluruhan belum bisa berjalan, karena memang ada kendala di situ,” ungkap Fajar.

Meski begitu, Fajar mengapresiasi langkah cepat yang sedang diambil oleh DLH Kota Lhokseumawe. Di lokasi, terlihat ada aktivitas perbaikan struktur yang sedang dikebut pekerja demi menghidupkan kembali fungsi Gedung A.

“Jadi, sudah ada progres untuk itu,” ujarnya.

Sejak awal, pengadaan mesin ini diniatkan sebagai solusi ganda: meminimalkan pencemaran lingkungan sekaligus memutar roda ekonomi dari material yang dibuang masyarakat. BPK pun berharap agar Pemko Lhokseumawe bisa segera mengoperasikannya secara penuh sesuai dengan target rencana kerja.

Siasat DLH Akali Kendala Teknis

[Tim BPK Perwakilan Aceh bersama Plt. Kepala DLH Lhokseumawe, Zulfikar Syarif, melihat langsung proses peleburan sampah di Gedung C Lhokseumawe, Jumat sore (18/9/2026). Foto: Line1News/Fajar Siddik]

Di tempat yang sama, Plt. Kepala DLH Lhokseumawe, Zulfikar Syarif, memberikan penjelasan teknis yang lebih humanis. Ia meluruskan bahwa secara mekanis mayoritas mesin berada dalam kondisi prima. Masalahnya hanya ada pada detail kecil namun fatal pada mesin pemilah di Gedung A, yaitu komponen bantalan (bearing). Tanpa bantalan yang presisi, mesin itu akan bergetar sangat hebat dan rentan rusak jika dipaksakan.

“Mesin pemilah ini merupakan fungsi utama dari semua aktivitas pengolahan sampah di TPA sebagai penghasil bahan baku berupa plastik dan botol bekas yang akan diolah,” ujar Zulfikar Syarif.

Sementara di sisi lain, denyut aktivitas di Gedung B sebenarnya sudah mulai terlihat menjanjikan. Dua mesin pencacah—baik untuk botol plastik maupun plastik kresek—sudah berfungsi dengan baik. Nantinya, hasil cacahan dari Gedung B ini akan dibawa ke Gedung C untuk dilebur menjadi biji plastik berkualitas, siap pakai untuk berbagai industri hilir.

Namun, kendala di Gedung A sempat membuat rantai produksi terputus akibat ketiadaan bahan baku yang tersortir secara mekanis. Menolak pasrah pada keadaan, Zulfikar memutar otak. Sembari menunggu perbaikan mesin utama yang ditargetkan selesai bulan depan, ia mengubah strategi operasional dari hulu.

“Mesin di Gedung A ini, Insya Allah, akan aktif di pertengahan Oktober 2026. Namun demikian, kami telah berupaya agar mesin-mesin lainnya selain mesin di Gedung A untuk bisa segera beroperasi,” tuturnya.

Siasat itu bernama perubahan Standar Operasional Prosedur (SOP) petugas kebersihan di jalanan. Mulai minggu ini, para penyapu jalan mengemban tugas baru yang lebih mulia: memilah sampah plastik langsung dari sumbernya di jalan-jalan kota.

Plastik dan botol hasil pilahan manual para petugas di lapangan ini langsung disuplai ke Gedung B sebagai bahan baku alternatif. Hasilnya nyata, roda produksi tidak lagi mati total.

“Insya Allah, ini sudah mulai berjalan dan mesin di Gedung B sudah mulai aktif,” tambah dia.

Optimisme Menuju Akhir Tahun

Menutup sore yang produktif itu, Zulfikar mematok target optimistis. Sebelum kalender 2026 berakhir, TPA Alue Lim diharapkan sudah bisa melakukan pemanfaatan perdana biji plastik hasil olahan mandiri tersebut.

“Mohon doa dan dukungan masyarakat, secara bertahap kita akan menyempurnakan dan melakukan perbaikan perbaikan segala kekurangan. Tapi, kita optimis, Insya Allah, mengubah sampah menjadi barang bernilai guna ini akan terwujud,” pungkas Zulfikar Syarif.[]

Baca Juga:

Kapan akan Terealisasi Program ‘Broh Jeut Keu Peng?’ Ini Kata Wali Kota Sayuti

Lhokseumawe Luncurkan Program ‘Broh Jeut Keu Peng’, Bagaimana Teknisnya?

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy