Kabut Asap Meluas, Disdik Aceh Tegaskan Keselamatan Siswa Lebih Utama Dibanding Belajar Tatap Muka

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, S.Pd., M.S.P., Foto: Dokumen/Istimewa

Banda Aceh, Line1News – Kabut asap kiriman akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dilaporkan kian meluas dan merata di wilayah Aceh. Menyadari ancaman nyata ini bagi kesehatan generasi muda, Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh secara tegas mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar menaruh aspek keselamatan dan perlindungan siswa di atas rutinitas akademis formal.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengimbau seluruh kepala sekolah untuk bergerak cepat menyesuaikan metode pembelajaran dengan kepekatan asap di wilayah masing-masing. Jika paparan polusi udara dinilai sudah membahayakan sistem pernapasan, opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) harus segera dipertimbangkan sebagai tameng pelindung bagi siswa, guru, hingga tenaga kependidikan.

Langkah preventif ini menekankan pesan humanis bahwa di tengah situasi darurat lingkungan, pemenuhan hak belajar anak tidak boleh mengorbankan kondisi fisik mereka.

“Kehadiran siswa di ruang kelas tidak seharusnya menjadi satu-satunya tolak ukur ketika kondisi lingkungan berpotensi membahayakan kesehatan,” kata Murthalamuddin kepada Line1News.com, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Lima Panduan Taktis Sekolah Responsif Asap

Guna menghadapi situasi polusi udara, Dinas Pendidikan Aceh menggarisbawahi lima poin mitigasi krusial yang harus menjadi perhatian oleh manajemen sekolah:

• Prioritaskan Proteksi Jiwa: Mengutamakan keselamatan warga sekolah dengan menerapkan skema PJJ apabila tingkat kepekatan kabut asap dinilai berada pada ambang batas tidak sehat.

• Gunakan Masker: Jika aktivitas belajar tatap muka masih dipandang memungkinkan, seluruh siswa, guru, dan staf administrasi diimbau mengenakan masker pelindung selama berada di lingkungan sekolah.

• Maksimalkan Belajar dari Rumah: Kegiatan belajar mengajar tetap dijaga kontinuitasnya dengan mengoptimalkan grup WhatsApp, platform daring, atau modul PJJ alternatif yang adaptif sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing sekolah.

• Komunikasi Cepat dengan Orang Tua: Pihak sekolah segera menyampaikan informasi resmi kepada orang tua jika kelas tatap muka dihentikan sementara. Langkah ini penting agar orang tua bisa langsung mendampingi dan memantau aktivitas anak di rumah.

• Kebijakan Mandiri yang Bertanggung Jawab: Kepala sekolah didorong mengambil keputusan taktis yang berbasis pada realitas lapangan di daerah masing-masing, sembari menunggu surat edaran resmi dari Gubernur Aceh.

Menjaga Hak Belajar Tanpa Mempertaruhkan Kesehatan

Dampak buruk sebaran asap Karhutla saat ini menuntut kepekaan nurani serta respons terukur dari para pemangku kebijakan di sekolah. Tugas utama seorang kepala sekolah kini tidak lagi sekadar memastikan target kurikulum tercapai, tetapi juga memastikan ruang belajar anak tetap aman dan bebas dari polusi udara.

Menurut Murthalamuddin, kekuatan koordinasi antara pihak sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan menjadi kunci utama agar keputusan yang diambil tidak mengabaikan aspek keselamatan fisik anak-anak.

Pemberlakuan metode belajar dari rumah atau PJJ apabila diperlukan, secara esensial bukan bermaksud menghentikan roda pendidikan. Sebaliknya, pola ini menjadi jalan keluar alternatif agar anak-anak Aceh tetap memperoleh hak edukasinya secara aman tanpa perlu menghirup polusi udara jalanan yang berisiko memicu penyakit pernapasan.

Melalui instruksi ini, Dinas Pendidikan Aceh berusaha menyelaraskan dua misi kemanusiaan yang sama pentingnya: membentengi kesehatan warga sekolah sekaligus menjaga kelangsungan masa depan intelektual anak didik.[]

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kian Merata di Aceh, Mualem Instruksikan Faskes Siaga 24 Jam dan Imbau Warga Pakai Masker

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy