Konjen Cape Town Terima Delegasi Indonesia, Bahas Film Tsunami Aceh

Konjen Cape Town Tudiono berdiskusi delegasi Indonesia yang menghadiri sidang Asosiasi Pengobatan Federasi Islam di Afrika Selatan, Senin, 12 Agustus 2024. Foto: Istimewa
Konjen Cape Town Tudiono berdiskusi delegasi Indonesia yang menghadiri sidang Asosiasi Pengobatan Federasi Islam di Afrika Selatan, Senin, 12 Agustus 2024. Foto: Istimewa

Cape Town – Konsul Jenderal (Konjen) Cape Town Tudiono menerima kunjungan rombongan delegasi Indonesia yang menghadiri sidang Asosiasi Pengobatan Federasi Islam atau Federation of Islamic Medication Association (FIMA) council meeting ke-42 di Cape Town, Afrika Selatan, Senin, 12 Agustus 2024.

Delegasi RI terdiri Dekan Fakultas Kedokteran Safrizal Rahman dan Iflan Nauval dari Universitas Syiah Kuala (USK), Dekan Fakultas Kedoteran UIN Syarif Hidayatullah Achmad Zaki; Ketua Bidang Hubungan Internasional Ikatan Dokter Indonesia yang juga Sekretaris Jenderal FIMA, Eka Ginanjar; Raisya dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; dan Iwang Yusuf dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung.

Di pertemuan itu, Safrizal Rahman dan Iflan Nauval dari Universitas Syiah Kuala memaparkan tentang bencana tsunami yang melanda Aceh. Keduanya memaparkan pengalaman pribadi yang terdampak dan terlibat langsung dalam penanggulangan bencana tersebut.

Saat melaksanakan humanitarian relief, mereka menemukan banyak bayi dalam koper yang mengambang. Hal ini mengindikasikan banyak orang tua di Aceh yang tsunami berupaya menyelamatkan anak-anak mereka, atau paling tidak jasad anak-anak mereka ditemukan dalam kondisi baik.

Sidang FIMA sendiri digelar di Cape Town pada 10 hingga 11 Agustus 2024. Peserta sidang menyepakati Banda Aceh sebagai tuan rumah pertemuan FIMA ke-43 pada 2025.

Peserta sidang menyambut antusias penyelenggaraan pertemuan di Banda Aceh. Banyak dari mereka yang hadir memiliki ikatan emosional dengan Banda Aceh. Mereka terlibat langsung selama beberapa bulan dalam misi kemanusiaan penanggulangan bencana tsunami di Banda Aceh pada 2004.

Sementara itu, Tudiono menyampaikan KJRI bekerja sama dengan produser film Rumah Produksi Summerland Wendra Lingga Tan tengah menyiapkan pembuatan film komersial berlatar tsunami Aceh. Pembuatan film ini bekerjasama dengan mitra dari Cape Town.

Pengambilan gambar akan dilakukan di Aceh dan Cape Town tahun ini. Pembuatan film tersebut mendapat dukungan yang sangat luas termasuk dari Pemerintah Aceh, Wali Naggroe Aceh, insan perfilman Aceh dan USK.

Delegasi Indonesia juga antusias dan mendukung pembuatan film tersebut. Mereka menyampaikan film tersebut dapat diputar sebagai side event dari penyelenggaraan pertemuan 43 FIMA. Selain itu, pembuatan film tersebut momentumnya sangat tepat karena bersamaan dengan peringatan 20 tahun tsunami Aceh.

Berfoto bersama di luar KJRI Cape Town. Foto: Istimewa
Berfoto bersama di luar KJRI Cape Town. Foto: Istimewa

Rektor USK Profesor Marwan melalui konferensi video dengan Tudiono yang difasilitasi Safrizal juga mendukung pembuatan film tersebut. Marwan menekankan sisi waktu yang sangat cepat Aceh dan masyarakat Aceh bangkit dari tsunami, serta peran Islam dalam proses recovery.

USK, kata Marwan, memiliki Tsunami and Disaster Mitigation Research Center yang mampu melakukan simulasi tsunami serta dampak yang diakibatkan. Fasilitas itu dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembuatan film.

Tudiono menimpali, pemutaran film itu di pertemuan FIMA ke-43 akan menjadi kesempatan penting untuk menyosialisasikan film tsunami Aceh di tataran dunia. Hal ini diharapkan dapat mendukung kerjasama internasional dan pariwisata Aceh.

Delegasi Indonesia dari berbagai universitas tersebut akan mendukung upaya diseminasi film tsunami Aceh. Mereka mengusulkan sekiranya teaser film tersebut dapat disiapkan untuk diseminasi ke anggota FIMA.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy