Subulussalam, Line1News – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Subulussalam pada Sabtu malam, 26 September 2026, mengubah ketenangan warga menjadi suasana siaga. Sekitar pukul 18.30 waktu Aceh, Sungai Lae Souraya tak lagi mampu menampung debit air. Luapan air sungai yang keruh merangsek masuk, merendam ratusan rumah, dan melumpuhkan aktivitas permukiman penduduk di Kecamatan Sultan Daulat.
Berdasarkan data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang dirilis Minggu sore (27/9/2026), ketangguhan warga kini sedang diuji. Sebanyak 312 unit rumah warga terendam air. Pusaran dampak terbesar berada di Desa Jabi-Jabi dengan 292 Kepala Keluarga (KK) terdampak, sementara 20 KK lainnya di Desa Sigrun juga mengalami nasib serupa, harus menyaksikan lantai rumah mereka digenangi air luapan sungai.
Meskipun harus bertahan di tengah kepungan banjir, secercah rasa syukur tetap ada. Hingga laporan terakhir diterima, tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus mengungsi. Warga memilih tetap berjaga-jaga di kediaman mereka sembari memantau pergerakan air.
Kesigapan Petugas di Tengah Genangan
Merespons kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Subulussalam bergerak cepat ke lokasi. Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung diterjunkan menembus banjir untuk melakukan kajian cepat dan mendata seluruh kebutuhan mendesak warga.
Satu unit perahu penyelamat telah disiagakan di titik rawan. Perahu ini menjadi urat nadi penting, baik untuk bersiap mengevakuasi warga yang membutuhkan pertolongan darurat maupun mempermudah distribusi bantuan logistik agar tepat sasaran ke rumah-rumah yang terisolasi.
Hingga Minggu sore (27/9), petugas gabungan masih bersiaga di lapangan. Di tengah cuaca yang belum menentu, BPBD mengimbau warga yang tinggal di sepanjang daerah aliran Sungai Lae Souraya untuk tetap waspada. Warga diminta segera melapor jika debit air kembali merangkak naik demi keselamatan bersama.
Duka Aceh Tenggara: Lahan Tani Rusak, Akses Transportasi Lumpuh
Ujian akibat cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Aceh Tenggara. Beberapa jam sebelum Subulussalam terendam, tepatnya Sabtu dini hari (26/9/2026) pukul 00.15, dentum hujan lebat memicu luapan besar di Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga.
Banjir bandang dan luapan air ini menyapu tujuh kecamatan sekaligus, yakni Lawe Sumur, Bukit Tusam, Bambel, Ketambe, Babussalam, Darul Hasanah, dan Lawe Bulan. Sebanyak 52 KK atau 203 jiwa merasakan langsung dampak dari bencana ini.
Sawah Terendam, Jembatan Hanyut Tergerus Arus
Banjir kali ini memukul telak sektor pertanian yang menjadi tumpuan hidup masyarakat. Di Desa Terutung Megara Lawe Pasaran dan sekitarnya, 40 hektare lahan pertanian rusak. Derita petani bertambah setelah 10 hektare lahan sawah di Desa Kisam Gabungan ikut tenggelam terendam air. Tidak hanya itu, fasilitas umum seperti WC umum di Dusun Lawe Bulan, Desa Batumbulan Asli, kini kondisinya kritis dan terancam hanyut akibat abrasi sungai.

[Kerusakan parah pada infrastruktur jembatan akibat terjangan arus deras banjir bandang di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, Sabtu (26/9/2026). Foto: BPBD Aceh Tenggara]
Ganasnya arus sungai juga menjebol tanggul vital di Dusun Nasi (Desa Terutung Megara Lawe Pasaran) dan Desa Pancar Iman, membuat air bah leluasa menerjang rumah warga.
Aktivitas transportasi lumpuh total di beberapa titik:
● Jalan Nasional Kutacane–Blangkejeren (Desa Kati Maju) sempat tertutup material longsor dan pohon tumbang, bahkan menyebabkan tiang listrik PLN roboh.
● Jalan darurat antarkecamatan pada Jembatan Natam–Simpang Empat Tanjung dan Jembatan Mbarung menuju Kecamatan Lawe Alas hanyut terbawa arus.
● Oprit Jembatan Mbarung Datuk–Lawe Sikap amblas, membuat kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa melintas.
● Jalur Pulonas Baru menuju Lawe Rutung mengalami abrasi sepanjang 50 meter, serta sebagian badan jalan pada Jembatan Rangka Baja Biakmuli mulai amblas.
Gotong Royong Melawan Bencana
Melihat parahnya kerusakan, BPBD Aceh Tenggara langsung mengerahkan alat berat ekskavator untuk menutup tanggul yang jebol dan menormalisasi Sungai Lawe Kisam di Desa Pancar Iman. Petugas TRC juga bergerak cepat memotong pohon tumbang di Tanjakan Gurah Ketambe agar akses jalan nasional bisa kembali terbuka.
Memasuki Minggu (27/9), kondisi air di beberapa titik dilaporkan mulai surut, memberi sedikit napas lega bagi warga. Namun, pekerjaan rumah untuk memulihkan infrastruktur yang rusak masih panjang.
Kepala Pelaksana BPBA, Bahron Bakti, menegaskan bahwa pihaknya terus mengawal penuh proses penanganan di lapangan.
“BPBA terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Aceh Tenggara untuk memantau perkembangan kondisi banjir, termasuk dampak terhadap masyarakat, lahan pertanian, tanggul, jalan dan jembatan. Kami mengapresiasi langkah cepat yang telah dilakukan oleh BPBD dalam melaksanakan kajian, pendataan, pengerahan TRC, serta penggunaan alat berat untuk mendukung penanganan di lapangan,” ujar Bahron Bakti.
Bahron juga mengingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu. Ia meminta masyarakat, terutama yang berada di bantaran sungai dan kawasan rawan longsor, untuk selalu siaga memprioritaskan keselamatan jika hujan lebat kembali turun. Petugas memastikan akan terus mendampingi warga hingga kondisi benar-benar pulih dan aman.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy