Gandeng Warga, Tim PKM Unimal Petakan Strategi Kampung Tangguh Banjir di Paya Gaboh

Tim PKM Unimal di Paya Gaboh
Foto bersama Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Malikussaleh (Unimal), mahasiswa, beserta perangkat desa dan warga Gampong Paya Gaboh setelah pemaparan program ketangguhan iklim. Foto: Dok. Tim PKM Unimal

Aceh Utara, Line1News – Perubahan cuaca yang semakin sulit ditebak kini menjadi tantangan nyata bagi masyarakat di pedesaan. Curah hujan tinggi yang kerap datang mendadak dalam durasi singkat rentan memicu genangan hingga luapan banjir. Menyadari ancaman laten tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Malikussaleh (Unimal) bergerak turun ke lapangan untuk memperkuat benteng pertahanan warga.

Melalui program pemberdayaan bertajuk “Peningkatan Resiliensi pada Kawasan Permukiman Berbasis Pemberdayaan Masyarakat melalui Identifikasi Tipologi Bangunan dan Strategi Adaptasi terhadap Dampak Perubahan Iklim”, tim akademisi ini mendampingi warga Gampong Paya Gaboh, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Sabtu, 26 September 2026.

Tim tersebut digawangi oleh Yenny Novianti, S.T., M.T., Dina Meitriana, S.PWK., M.P.W.K, dan Muthmainnah, S.T., M.T. Bagi tim ini, ketangguhan sebuah gampong tidak boleh hanya bersifat reaktif setelah air merendam rumah. Ketangguhan sejati harus dirajut sejak dini melalui kesiapan mental warga, pemahaman kondisi lingkungan, serta kemampuan adaptasi kawasan hunian itu sendiri.

“Banjir tidak hanya berkaitan dengan genangan air. Saat terjadi secara berulang, dampaknya akan memengaruhi kondisi bangunan, lingkungan, aktivitas sosial dan kehidupan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, upaya menghadapi banjir tidak cukup hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Akan tetapi, harus dibentuk kesiapan masyarakat, kondisi lingkungan, dan kemampuan kawasan untuk menyesuaikan diri (adaptasi) menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan,” tulis tim tersebut dalam keterangannya diterima Line1News pada Senin (28/9/2026).

Membaca Peta Alam Lewat Teknologi dan Diskusi Kampung

[Tim PKM Unimal berdiskusi dengan warga saat mengidentifikasi peta risiko kerentanan banjir dan peta kontur wilayah Gampong Paya Gaboh. Foto: Dok. Tim PKM Unimal]

Dalam aksi pengabdian ini, tim Unimal juga memboyong para mahasiswa, yaitu Taufik Alfairuz, Ahmad Syauqi Arvian, Sarah Diana, dan Suci Faradilla. Keterlibatan mereka menjadi jembatan ilmu akdemik, di mana mereka mempraktikkan langsung ilmu pemetaan spasial, analisis sistem informasi geografis (GIS), penggunaan citra satelit, hingga pendokumentasian tipologi bangunan gampong secara nyata bersama warga.

Berdasarkan hasil analisis spasial dan pemetaan risiko bencana yang dipadukan dengan diskusi bersama perangkat serta masyarakat gampong, terungkap fakta penting mengenai karakteristik topografi Paya Gaboh. Wilayah desa ini rupanya memiliki kontur tanah yang beragam.

Di satu sisi, terdapat area dengan kontur tanah relatif rendah yang menjadi titik paling rawan genangan, terutama pada kawasan hamparan persawahan warga. Di sisi lain, sebuah titik terang terlihat karena sebagian besar area permukiman hunian penduduk justru berada di posisi kontur yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat dampak banjir terhadap rumah-rumah warga cenderung lebih terbatas dibandingkan wilayah persawahan.

“Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam memahami kondisi dan risiko kawasan. Risiko banjir tidak hanya ditentukan oleh keberadaan genangan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi topografi, penggunaan lahan, karakteristik bangunan, lingkungan permukiman, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko,” tulis tim tersebut.

Menempatkan Warga Sebagai Jantung Resiliensi

Tim PKM Unimal menekankan bahwa arti dari kata resiliensi (ketangguhan) bukan sekadar tentang seberapa kokoh dinding beton sebuah rumah dalam menahan terjangan air. Lebih dari itu, ketangguhan merupakan ikatan menyeluruh yang menghubungkan aspek fisik bangunan, kesiapsiagaan sosial, kemampuan beradaptasi, hingga kecepatan warga untuk bangkit memulihkan ekonomi dan aktivitas mereka pascabencana.

Lewat pendekatan humanis ini, masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek atau penerima informasi pasif. Warga diajak menjadi aktor utama yang dilatih untuk mengenali potensi risiko di sekitar rumah mereka sendiri, membaca peta kontur kerentanan, serta merumuskan aksi mitigasi mandiri berbasis kearifan lokal. Warga dibekali pengetahuan kognitif mengenai langkah taktis apa yang harus diperbuat—baik sebelum bencana mengetuk pintu, saat air mulai meninggi, hingga langkah pemulihan setelah banjir surut.

Melalui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan—mulai dari hasil identifikasi kawasan, pemetaan risiko dan kerentanan banjir, peta kontur, hingga peta cuaca ekstrem—tim pengabdian Unimal berharap data awal ini bisa menjadi “kompas” penuntun bagi masyarakat. Langkah kecil dari ruang kelas yang dibawa ke tengah gampong ini diharapkan mampu memicu lahirnya Gampong Paya Gaboh yang jauh lebih adaptif, mandiri, dan selalu siap menghadapi tantangan perubahan iklim di masa depan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy