Semarang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat replikasi teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar cair setara solar bernama Petasol.
Teknologi itu diterapkan melalui mesin Fast Pyrolysis 5.0 dan diharapkan mampu mengatasi masalah sampah plastik serta menyediakan alternatif bahan bakar bagi nelayan dan petani.
Teknologi itu dikembangkan oleh Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Kepala OREM BRIN Cuk Supriyadi mengungkapkan mesin Faspol generasi 5 itu bisa menghasilkan bahan bakar mendekati standar migas sehingga dapat dilakukan uji coba pada kendaraan.
“Berbagai upaya pengujian Petasol sudah dilakukan dari aspek Life Cycle Assessment (LCA), level cetana 51, hingga uji coba penggunaan pada alat transportasi perahu nelayan, mobil dinas pengangkut sampah, dan traktor alat mesin pertanian,” ujar Cuk dikutip dari Laman BRIN, Senin, 12 Mei 2025.
Periset BRIN Tri Martini Patria menambahkan, riset itu sudah dilakukan sejak 2022 dengan pendekatan pirolisis termal dan uji lingkungan menggunakan alat LCA.
“Hasil kajian LCA dari cradle to gate Petasol tidak mengganggu lingkungan karena pembakarannya sempurna, tidak menimbulkan asap pembakaran terbuka, meminimalisasi cemaran saat pilah pilih sampah, hingga bau yang ditimbulkan dalam proses pembakaran,” terang Tri Martini.
Merek Petasol sudah memiliki sertifikat Hak Cipta dan nama Faspol juga sudah terdaftar patennya dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Uji mutu Petasol telah dilakukan di Laboratorium BRIN, Lemigas, dan Universitas Diponegoro.
Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, menyebutkan implementasi mesin Fastpol 5.0 di Semarang menjadi contoh model bisnis teknologi yang berhasil karena melibatkan berbagai pihak.
“Replikasi ini adalah model kolaboratif yang melibatkan pemerintah kota, komunitas masyarakat, dan asosiasi, serta divalidasi oleh BRIN agar bisa diterapkan di tempat lain.”
Anggota Dewan Pengarah BRIN Tri Mumpuni menekankan pentingnya kolaborasi antara BRIN dan BRIDA Jawa Tengah dalam upaya mengurangi sampah plastik sekaligus membuka peluang ekonomi lokal.
“Harapannya, melalui kolaborasi penanggulangan sampah plastik ini dapat menambah pendapatan dengan pengumpulan sampah plastik yang akan dikelola bank sampah, kemudian diolah menjadi bahan bakar cair yang bernilai jual bagi penduduk lokal. Sementara hilirisasinya dikelola BRIDA ataupun Pemprov dan Pemkot Semarang,” ujarnya.
Teknologi fast pyrolysis itu, kata Tri Mumpuni, awalnya dikembangkan Bank Sampah Banjarnegara dan kini telah diterapkan di berbagai lokasi, termasuk Semarang.
“Ke depan diperlukan dukungan regulasi pemerintah agar setiap Pemda berhak dan boleh mengedarkan petasol untuk kebutuhan nelayan, petani yang bisa mendapatkannya dari bank sampah di wilayahnya.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy