Jakarta – Gempa Megathrust di Indonesia tinggal menunggu waktu untuk terjadi. “Potensi gempa di zona megathrust bukan hal baru, apa yang saya sampaikan bukan pernyataan ‘warning’, hanya mengingatkan potensi,” cuit Daryono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di Twitter, dilihat Rabu, 14 Agustus 2024.
Daryono membandingkan Megathrust Nankai di Jepang dengan Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Megathrust Nankai, tulis Daryono, terakhir kali mengalami gempa dengan kekuatan besar Magnitudo 8.4 pada 1946, 78 tahun lalu. Sementara ‘seismic gap’ Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sudah dua ratus tahun lebih belum melepaskan gempa besar.
“Ilmuwan, pejabat dan publik Jepang sudah khawatir dan begitu siaga. Kita, ‘seismic gap’ Selat Sunda sudah usia 267 tahun dan Mentawai-Siberut sudah usia 227 tahun, sementara segmen-segmen lain sudah release, tugas saya mengingatkan kewaspadaan,” ujar Daryono.
Saat ini, tambah Daryono, kekhawatiran ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai, sama persis dirasakan ilmuwan Indonesia. “Khususnya terhadap ‘seismic gap’ Megathrust Selat Sunda Magnitudo 8.7 dan Megathrust Mentawai-Suberut Magnitudo 8.9.”
Pelepasan gempa di kedua segmen megathrust Indonesia itu, kata Daryono, tinggal menunggu waktu.
Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 disebutkan, segmen Megathrust Mentawai-Suberut dan Megathrust Selat Sunda terakhir kali gempa lebih dari ratusan tahun lalu.
Megathrust Selat Sunda panjangnya 280 kilometer, lebar 200 kilometer, dan pergeseran (slip rate) 4 centimer per tahun. Sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut panjangnya 200 kilometer, lebar 200 kilometer, dan slip rate 4 centimeter per tahun,
Megathrust Selat Sunda mengalami gempa pada 1699 dan 1780 dengan Magnitudo 8.5. Sedangkan Mentawai-Siberut pernah gempa Magnitudo 8.7 pada 1797 dan Magnitudo 8.9 pada 1833.
InaTEWS BMKG
Meski begitu, Daryono meminta masyarakat tidak khawatir karena BMKG sudah menyiapkan sistem monitoring, prosesing, dan diseminasi informasi gempa bumi, serta peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat sebagai upaya antisipasi dan mitigasi.
BMKG memiliki sistem InaTEWS atau Indonesia Tsunami Early Warning System, yang bisa digunakan untuk segera menyebarluaskan informasi mengenai gempa bumi dan peringatan dini tsunami di seluruh wilayah Indonesia.
Selain itu, BMKG juga telah melakukan berbagai upaya mitigasi lainnya seperti memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, drill, hingga evakuasi dengan berbasis pemodelan tsunami. Upaya mitigasi ini disampaikan kepada instansi terkait, masyarakat, pelaku usaha pariwisata pantai, hingga industri pantai dan infrastruktur kritis pelabuhan dan bandara pantai.
“Kami berharap melalui upaya dalam memitigasi bencana gempa bumi dan tsunami tersebut bisa menekan sekecil mungkin risiko dampak bencana yang mungkin terjadi, bahkan hingga dapat menciptakan zero victim,” pungkas Daryono dikutip dari detik.com.
Apa itu Megathrust?
Megathrust merupakan daerah pertemuan antar lempeng tektonik bumi yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami. Para pakar memperkirakan megathrust bisa “pecah” secara berulang, namun dengan jeda hingga ratusan tahun.
Sementara zona megathrust adalah istilah untuk menyebut jalur subduksi lempeng bumi yang sangat panjang, tapi relatif dangkal.
Indonesia memiliki tiga zona megathrust yang termasuk dalam zona subduksi aktif, yaitu subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba. Lalu ada subduksi Banda, subduksi Lempeng Laut Maluku, subduksi Sulawesi, subduksi Lempeng Laut Filipina, dan subduksi Utara Papua.
Juga ada tiga segmentasi megathrust di Samudra Hindia selatan Jawa. Segmentasi megathrust tersebut terdiri dari segmen Jawa Timur, segmen Jawa Tengah-Jawa Barat, dan segmen Banten-Selat Sunda.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy