Banda Aceh, Line1News – Dua dekade lebih telah berlalu sejak lembaran hitam konflik Aceh berganti dengan pelukan hangat perdamaian. Menjelang Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 pada 15 Agustus 2026, Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar, mengetuk kembali hati seluruh masyarakat.
“Saya mengajak semua pihak menjadikan momen bersejarah ini sebagai waktu untuk memperteguh komitmen, merawat persaudaraan, dan menjaga ketenteraman yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Aceh,” kata Malik Mahmud dalam seruan tertulis, dikutip Line1News pada Jumat (14/8/2026).
Meniti Jalan Dialog
Tanggal 15 Agustus bukan sekadar angka di kalender. Hari itu adalah saksi bisu keberanian dan kebesaran jiwa para pemimpin Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada tahun 2005 silam, mereka memilih jalan dialog demi masa depan anak cucu Aceh.
Kesepakatan damai di Finlandia tersebut tidak hanya menghentikan dentuman senjata. Lebih dari itu, MoU Helsinki membuka gerbang rekonsiliasi, memulihkan martabat, dan membangun kembali tatanan hidup yang lebih manusiawi bagi seluruh rakyat Serambi Mekkah.
Dari Air Mata Tsunami Menuju Kepercayaan Dunia
Lahirnya perdamaian 21 tahun lalu juga menjadi titik balik hadirnya simpati internasional. Di tengah duka mendalam akibat bencana tsunami, ketenangan politik di Aceh meyakinkan dunia untuk datang mengulurkan tangan.
Bantuan kemanusiaan dan dukungan berbagai negara mengalir deras. Solidaritas global itu membantu masyarakat Aceh memulihkan ekonomi, menata kembali kehidupan sosial, dan membangun ulang infrastruktur yang sempat hancur. Damai terbukti membawa harapan baru.
Ujian Berat dan Buah Manis Perdamaian
Lebih dari dua puluh tahun berjalan, wajah Aceh telah banyak berubah. Anak-anak kini bisa bersekolah dengan tenang, layanan kesehatan semakin dekat, dan roda ekonomi terus berputar. Semua pembangunan ini adalah buah manis dari rasa aman yang dijaga bersama.
Namun, ketangguhan Aceh kembali diuji belum lama ini. Bencana alam dahsyat pada 26 November 2025 lalu sempat melanda banyak wilayah dan membawa duka mendalam bagi warga. Dalam menghadapi musibah tersebut, semangat perdamaian telah melahirkan solidaritas, gotong royong, dan kepedulian antarsesama yang menjadi kekuatan utama masyarakat Aceh untuk bangkit dan melanjutkan pembangunan.
Amanah Lintas Generasi: Jaga dari Provokasi
Atas nama Lembaga Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud menyampaikan rasa hormat dan apresiasi terdalam kepada seluruh elemen bangsa. Ucapan terima kasih ini ia tujukan kepada para tokoh perdamaian, ulama, akademisi, mantan kombatan, aparat keamanan, pemerintah, hingga masyarakat akar rumput. Bagi Wali Nanggroe, damai adalah warisan suci yang harus dijaga melintasi generasi.
Menutup seruannya, Malik Mahmud mengingatkan agar harmoni yang sudah terawat dengan indah ini tidak dirusak oleh ego kelompok. Ia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan berpikir jernih menghadapi berbagai situasi politik dan sosial.
“Saya juga mengajak seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak atau unsur mana pun yang berpotensi mengganggu stabilitas, menebarkan kebencian, memecah belah persaudaraan, atau mengusik perdamaian Aceh yang selama ini telah terpelihara dengan sangat baik,” pungkas Malik Mahmud Al-Haytar.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy