Cut Tara Nazila: Perjalanan Narasumber Inspiratif Menemukan Jati Diri

Cut Tara Nazila
Cut Tara Nazila. Foto: Dokumen Pribadi

Lhokseumawe – Setiap orang pasti memiliki impian dan harapan dalam hidupnya. Begitu pula dengan Cut Tara Nazila, 22 tahun, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh (Unimal). Tara bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri atau ke luar daerah. Namun impiannya kandas ketika orang tuanya menolak memberikan izin lantaran pandemi covid-19 saat itu sedang melanda.

“Saya merasa [saat itu] dunia ini runtuh. Semua usaha dan persiapan yang saya lakukan sejak Sekolah Dasar seolah sia-sia,” ungkap Tara dengan mata berkaca-kaca kepada Line1.News, Kamis, 12 Desember 2024, saat mengenang momen tersebut.

Tak disangka oleh Tara, keputusan orang tuanya itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat merasa terpuruk, Tara menonton podcast-podcast motivasi dari Maudy Ayunda, Cinta Laura, dan motivator lainnya yang memberikan insight-insight bagus dari segi perempuan.

“Di situ saya mendapatkan banyak kata-kata motivasi seperti ‘kamu sebenarnya bukan gagal, hanya saja orang tua kamu tahu mana yang lebih baik untuk kita. Dan habbit kamu harus diatasi dengan bagus kalau kamu mau menempah karier kamu yang bagus'” ujarnya.

Motivasi para motivator itu melekat erat di benak Tara hingga memantik kembali semangatnya yang meredup. Dia kemudian memutuskan mendaftar di Unimal; langkah baru yang kemudian menjadikannya sosok super aktif seperti sekarang ini.

Unimal seolah menjadi gerbang pembuka bagi Tara untuk memulai produktivitas dan memotivasi dirinya berkembang.

Sejak menjadi mahasiswa Unimal, Tara mulai doyan mengikut webinar dan seminar. Ia juga bergabung dengan beberapa komunitas dengan impact besar di Lhokseumawe dan Aceh Utara.

“Menurut saya, kita kalau mau dikenal orang banyak, harus bisa menjual skill kita. Dari situ saya mulai bentuk sedikit-sedikit dari segi sosial media saya, seperti Instagram, Facebook, dan LinkedIn,” ujarnya.

Dari situ, Tara kepincut menjadi narasumber. Dia menawarkan diri menjadi narasumber kepada temannya yang aktif berorganisasi jika dibutuhkan dalam kegiatan mereka. “Saya juga nanyain ke teman saya yang aktif organisasi, hari ini ada kegiatan apa, kalau kalian butuh narasumber boleh ya undang saya, tidak apa-apa jika tidak dibayar. Itu awal-awal saya menjadi narasumber,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Tara juga menemukan bakat terpendamnya dalam dunia modeling. “Awalnya ditarik dari branding duta wisata kabupaten Aceh Utara. Awalnya jobnya hanya promosi barang atau make up. Sekarang, Alhamdulillah jobnya ditarik sama Make Up Artist (MUA), Aulia Make Up Artist dan alf.beautycreasions”, jelasnya.

Dengan banyaknya kesibukan, ternyata Tara bisa mengatur waktu dengan sebaik mungkin menggunakan book planner (buku perencanaan). Tara akan menulis semua list kegiatan di setiap harinya dalam buku tersebut, kemudian setelah terlaksana ia akan mencentang list kegiatan yang telah terlaksana. Tak hanya itu, ia juga memanfaatkan alarm pada smartphonenya sebagai pengingat setiap kegiatannya.

Namun, di balik semua itu, ternyata Tara juga mengalami beberapa tantangan dalam menjalani semuanya. Mulai dari orang tua yang tidak mendukungnya, pertemanan yang toxic, cyber bullying, dan mempertahankan komitmen dalam menjalani semuanya.

“Orang tua saya tidak mendukung karena nggak tega melihat saya yang sibuk dan lelah setiap harinya sehingga tidak sempat beristirahat. Hingga akhirnya saya membuktikan kepada orang tua kalau saya bisa menyeimbangkan semuanya. Dan orang tua saya akhirnya perlahan setuju dengan jalan yang saya ambil,” tuturnya.

Tara kini dikenal sebagai sosok yang inspiratif dan aktif di komunitasnya. Ia berhasil membuktikan meskipun tidak mendapatkan izin orang tua untuk kuliah di luar negeri, tetap bisa meraih kesuksesan dan menemukan jati dirinya di tempat lain. Dengan tekad dan kerja kerasnya, Tara menunjukkan setiap orang berpotensi bangkit dari keterpurukan dan mencapai impian mereka.

Dia juga berharap perjalanannya yang penuh lika-liku itu bisa menginspirasi lebih banyak orang agar tidak takut menghadapi kegagalan.

“Ayo kenali potensi kamu, kenali diri kamu, maafkan diri kamu yang lalu. Mari tetap jadi versi diri kamu yang terbaik. Mari sama-sama belajar, jangan lupa untuk terus berdoa dan berkomitmen dengan cita-cita dan list impian yang ingin kamu capai. Dan jangan lupa bersyukur,” tutupnya dengan senyuman penuh harapan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy