Soal Bendera GAM, Ini Kata Mediator Perdamaian Aceh Juha Christensen

Mediator Perdamaian Aceh asal Firlandia Juha Christensen
Mediator Perdamaian Aceh asal Firlandia, Juha Christensen. Foto: Fakhrurrazi/Line1News

Banda Aceh, Line1News – Mediator Perdamaian Aceh asal Firlandia, Juha Christensen, menyatakan bahwa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) harus dihormati sebagai bagian dari sejarah.

“Kita harus menghormati bendera GAM sebagai bagian dari sejarah. Itu yang paling penting,” kata Juha usai peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Bale Meuseuraya Aceh, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Baca Juga: Peringati HDA ke-21, Pemerintah Aceh Tegaskan Komitmen Rawat Perdamaian

Hormati Sejarah, Jangan Salah Gunakan

Juha mengatakan, bendera Bulan Bintang merupakan pendapat dan hasil diskusi dalam perundingan MoU Helsinki pada 2025 lalu. Namun, Juha mengingatkan agar simbol itu tidak disalahgunakan.

“Untuk menggunakan bendera GAM untuk kepentingan lain, menurut saya, tidak bagus. Itu tidak baik untuk suasana,” tegas Juha.

Prinsip Moral dalam Perjanjian Helsinki

Juha juga menekankan salah satu butir dalam Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki, yakni dignity for all atau prinsip moral bahwa setiap manusia berhak diperlakukan dengan hormat, adil, dan tanpa diskriminasi karena nilai kemanusiaannya.

“Artinya, ada pihak pemerintah pusat dan ada pihak yang mewakili GAM. Kita harus menjaga agar tidak ada hal-hal sensitif yang justru kita munculkan kembali,” ucap Juha.

Baca Juga: 21 Tahun Damai Aceh, Wagub Fadhlullah Sebut Masih Ada Kekurangan

Kejar Sisa Target MoU 100 Persen

Juha mengakui masih ada butir-butir MoU Helsinki yang belum dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Menurutnya, hal itu harus diupayakan dengan kerja sama antarsemua pihak.

“Tentu tidak semua butir sudah terealisasi 100 persen. Itu harus terus kita upayakan dan jaga bersama-sama supaya bisa mencapai 100 persen,” pungkasnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy