Daya Beli Warga RI Turun tapi Tempat Hiburan Ramai, Efek Lisptik?

Pantai Bantayan 1
Pengunjung menikmati hawa vitamin sea di Pantai Bantayan Seunuddon, Aceh Utara, Minggu, 29 Desember 2024. Foto: Line1.News

Jakarta – Pakar bisnis Profesor Rhenald Kasali menyoroti fenomena ramainya warga RI memadati tempat hiburan di tengah daya beli di awal 2025 yang menurun, ditambah PHK massal hingga berkurangnya kelas menengah. Di sisi yang sama, beberapa produk mengalami peningkatan penjualan.

“Libur panjang, jalanan macet kembali, dan hari libur tahun ini diperkirakan lebih dari 100 hari dalam setahun, banyak libur ditambah Sabtu Minggu. Jadi, kenapa jalan tetap ramai? Padahal, banyak yang mengatakan daya beli turun, jumlah kelas menengah berkurang, pengangguran banyak, orang kena PHK apalagi, anak muda susah cari kerja,” ujar Rhenald dalam video diunggah di akun Instagram @rhenald.kasali, dikutip Rabu, 29 Januari 2025.

Rhenald mengatakan, situasi seperti itu kerap disebut dengan istilah efek lipstik atau lisptick effect, perubahan gaya konsumsi pada kondisi ekonomi tertentu.

Istilah itu pertama kali dicetuskan Chairman Emeritus The Estée Lauder Companies Inc Leonard Lauder saat tragedi 9/11 di Amerika Serikat. Ketika itu, Gedung World Trade Center runtuh karena serangan terorisme. Daya beli masyarakat kemudian turun dan susah mencari pekerjaan. Bahkan orang-orang juga kesulitan mengunjungi Amerika.

Namun Lauder melihat keanehan, di mana penjualan lisptik justru meningkat pada kala itu.

“Semua mencari kemewahan yang terjangkau. Masyarakat selalu mencari kemewahan bagi dirinya, untuk menghibur diri, untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang dicari adalah semakin yang terjangkau,” ujar Rhenald.

“Misalnya, mau beli mobil, harganya dia hitung-hitung, wah nggak masuk. Tiba-tiba masuk di mobil dari Cina yang harganya masih terjangkau, dan Cina memanfaatkan itu, harganya lebih murah. Kemudian liburan, liburan juga adalah kemewahan yang terjangkau. Tempat-tempatnya dekat-dekat, masih sekitar Jakarta, Bandung, Jogja, Jawa Tengah,” sambungnya.

Dengan demikian, kata Rhenald, terjadilah fenomena masyarakat mencari kemewahan terjangkau. “Dan lipstik adalah kemewahan yang tidak terlalu mahal. Lalu juga skincare banyak laku ketika terjadi COVID-19.”

Experience Economy

Berbeda dengan Rhenald, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, fenomena pergeseran belanja masyarakat untuk hal yang bersifat hiburan saat daya beli sedang tertekan disebut sebagai experience economy. Ini bentuk pelarian dari situasi ekonomi yang sedang sulit.

“Misalnya momentum liburan digunakan untuk habiskan uang ke tempat rekreasi, nonton bioskop, nongkrong di cafe atau sekedar eksplorasi tempat wisata baru. Padahal gaji tidak naik signifikan, cicilan KPR masih banyak, namun belanjanya diarahkan ke belanja hiburan,” ujar Bhima dikutip dari detikcom.

Menurutnya, fenomena ini di kota besar diikuti oleh menjamurnya tempat hiburan malam, karaoke, beach club yang makin spesifik. Contohnya, ada hiburan malam khusus Gen Z di bawah 30 tahun, kemudian beach club juga bertebaran tidak hanya di Bali tapi juga di Yogyakarta.

Kemudian arus dana investasi juga marak masuk ke experience economy. Ada juga kecenderungan konsumen perkotaan mencari cafe hidden gem. Padahal cuma ingin beli secangkir kopi, tetapi menurutnya, pengalaman mencari cafe di tengah hutan jadi sensasi yang menarik.

“Meski anomali, namun experience economy mendatangkan manfaat ke ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja baru, pengembangan potensi wisata daerah hingga konservasi alam,” imbuhnya.

Namun demikian, Bhima menilai, booming experience economy harus disikapi dengan bijak. Misalnya, tetap punya skala prioritas dalam belanja, 40 persen dari pendapatan harus dicukupkan dulu untuk kebutuhan pokok seperti makan minum, serta cicilan wajib.

Setelah itu, 40 persen sisa pendapatan bisa ditabung hingga di investasikan. Baru 20 persen pendapatan untuk aktivitas experience economy. Ia menekankan, masyarakat harus bijak, mungkin jangan memaksa ke tempat hiburan dengan mengandalkan pinjaman.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy