Takengon – Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Tengah Wahdi MS mengungkapkan dua madrasah di kabupaten itu masih menjadi tempat pengungsian warga korban bencana.
Kedua madrasah tersebut berada di Kecamatan Bintang, yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 19 dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6. Keduanya menjadi tempat pengungsian warga dari Desa Atu Payung, Konyel, dan Gele Pulo.
Meskipun belum normal, kata dia, proses belajar mengajar di MTsN 6 sudah berjalan kembali sejak Senin, 5 Januari 2026. Sedangkan MIN 19 masih digunakan sebagai lokasi pengungsian.
“Tapi fasilitas MTsN 6 masih dipakai sebagian pengungsi karena MIN dan MTsN ini satu kompleks,” ungkapnya dikutip dari Laman Kemenag Aceh, Jumat, 6 Februari 2026.
Ruang-ruang kelas yang tidak ditempati pengungsi dijadikan tempat belajar, dengan pengaturan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Ini bukan situasi ideal, tetapi anak-anak harus tetap belajar. Kita menyesuaikan dengan keadaan, memanfaatkan ruang yang ada,” ujar Wahdi.
Kepala MTsN 6 Aceh Tengah Abd Rahman mengatakan aktivitas pembelajaran terhenti total sejak akhir November lalu. Selain difungsikan sebagai tempat pengungsian, kata dia, banyak siswa dan guru yang turut terdampak banjir dan longsor.
“Anak-anak kita juga korban. Ada yang rumahnya rusak, ada yang orang tuanya mengungsi. Guru-guru pun sebagian tinggal jauh di kota [Takengon],” ujar Abd Rahman.
Bagi pihak madrasah, keputusan untuk tetap menerima pengungsi adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
“Kami tidak mungkin menutup pintu. Di satu sisi kami mendidik, di sisi lain kami juga melayani warga yang membutuhkan tempat aman.”
Hingga kini, belum ada kepastian kapan para pengungsi dapat kembali ke desa masing-masing. Sambil menunggu situasi membaik, madrasah terus berupaya menjalankan dua peran sekaligus: menjaga denyut pendidikan dan merawat nilai kemanusiaan di tengah bencana.
Sementara Wahdi juga menyebutkan 12 madrasah di Aceh Tengah lain juga belum sepenuhnya siap melaksanakan belajar mengajar secara normal. Ada yang akses jalannya terganggu. Ada juga yang gedung dan mobilernya rusak.
Di Aceh Tengah sendiri, ada 105 madrasah dengan berbagai jenjang. Berdasarkan laporan Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kemenag Aceh, Kankemenag Aceh Tengah, 31 madrasah terkena dampak banjir dan longsor.
Lima Raudatul Athfal terdampak dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat. Sementara itu, 12 Madrasah Ibtidaiyah, tujuh Madrasah Tsanawiyah, dan tujuh Madrasah Aliyah mengalami kerusakan serupa.
“Madrasah-madrasah ini perlu segera mendapat perhatian dan perbaikan agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy