Ekspor Aceh Agustus 2025 Capai 57,13 Juta USD, Didominasi Komoditas Nonmigas

batubara
Ilustrasi - batubara. Foto: Istimewa

Banda Aceh – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Aceh pada Agustus 2025 mencapai 57,13 juta USD, lebih tinggi dibandingkan nilai impor yang sebesar 29,30 juta USD.

“Seluruh yang diekspor merupakan komoditas nonmigas,” ujar Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, Rabu, 1 Oktober 2025.

Tasdik menyampaikan nilai ekspor tersebut mengalami penurunan sebesar 6,89 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca juga: BPS: Penumpang Penerbangan dan Angkutan Laut di Aceh Turun pada Agustus 2025

Dia mengatakan komoditas utama yang diekspor pada Agustus 2025 didominasi oleh batubara, dengan nilai mencapai 34,81 juta USD, atau berkontribusi sebesar 60,93 persen terhadap total ekspor.

“Di posisi kedua adalah minyak kelapa sawit (CPO) sebesar 12,86 juta USD (22,51 persen), diikuti oleh kopi dan rempah-rempah sebesar 4,15 juta USD (7,27 persen),” jelasnya.

Dari sisi negara tujuan ekspor, kata dia, India menjadi mitra dagang terbesar dengan nilai ekspor mencapai 48,86 juta USD (85,53 persen), didominasi oleh komoditas batubara dan minyak kelapa sawit (CPO). Selanjutnya, Jepang dengan nilai 2,36 juta USD, komoditas utama berupa cangkang kernel kelapa sawit.

“Ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar 1,27 juta USD, dengan komoditas utama kopi dan rempah-rempah,” tutur Tasdik.

Ekspor komoditas asal Tanah Rencong yang dilakukan melalui pelabuhan di wilayah Provinsi Aceh tercatat sebesar 48,65 juta USD atau 85,16 persen dari total ekspor.

“Sisanya sebesar 8,48 juta USD diekspor melalui pelabuhan di provinsi lain, dengan nilai terbesar melalui Provinsi Sumatera Utara sebesar 8,32 juta USD,” ujarnya.

Sementara itu, kata Tasdik, total impor Aceh selama Agustus 2025 didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral/gas senilai 26,11 juta USD, diikuti oleh pupuk sebesar 2,57 juta USD, dan bahan kimia anorganik senilai 0,93 juta USD.

Negara asal impor terbesar adalah Amerika Serikat dengan nilai 26,11 juta USD, berupa gas butana/propana. Selain itu, Tiongkok menyumbang nilai impor sebesar 2,57 USD juta berupa pupuk.

“Dan Jepang menyumbang nilai impor sebesar 0,93 USD juta berupa bahan kimia anorganik,” kata Tasdik.

Tasdik menambahkan BPS Aceh mencatat neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh mengalami surplus sebesar 27,23 USD juta pada periode Agustus 2025.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy