Pidie Jaya – Puluhan nyak-nyak menggelar lapak dagangan di Pasai Suboh Lueng Putu, Rabu, 2 April 2025, bakda salat Subuh. Para warga yang ingin membeli berbagai bahan kebutuhan pokok pun mulai berdatangan ke pasar di bibir Jalan Medan-Banda Aceh, Meunasah Keude Lueng Putu, Ibu Kota Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya itu.
Roda perekonomian berputar di pasar tradisional tersebut sejak usai salat Subuh hingga pukul 10.00 waktu Aceh. Pasai Suboh Lueng Putu menjadi potret gerakan ekonomi rakyat kecil yang menggairahkan aktivitas pagi.
Pasai (Pasar) Suboh (Subuh) hanya sepelemparan batu dari Dayah Jeumala Amal Lueng Putu. Jika Dayah Jeumala Amal diresmikan oleh Gubernur Aceh Profesor Ibrahim Hasan pada 2 Januari 1988, Pasai Suboh Lueng Putu sudah ada jauh lebih lama dari itu.
“Cuma dulunya belum ada bangunan (beratap dan papan informasi bertuliskan) ‘Pasai Suboh Lueng Putu’. Bangunan ini belum sampai 10 tahun,” kata Yusuf, warga Lueng Putu kepada Line1.News.
Yusuf menyebut keunikan Pasai Suboh Lueng Putu, nyak-nyak atau kaum ibu–sebagian di antaranya berusia lanjut–yang berdagang tidak menggunakan meja sebagai lapak. Namun, mereka menggelar tikar bekas, karung bekas, atau plastik bekas di tanah sebagai alas barang dagangannya. Ada pula kaum laki-laki yang berdagang di Pasai Suboh itu, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Di Pasar Suboh ini dijual berbagai sayur-mayur hasil kebun masyarakat Kecamatan Bandar Baru dan sekitarnya, serta rempah-rempah. Ada juga sayuran yang dipasok dengan truk dari luar Pidie Jaya.
Sayur-sayuran yang dijual di pasar tersebut antar lain on rumpun (kangkung), bayam, selada, kacang panjang, boh pik (gambas), tomat, cabai merah, cabai hijau, bawang merah, bawang putih, wortel, labu air, dan labu siam.
Ada pula bunga pepaya, melinjo muda, jagung muda, boh gantang (kentang), serai, dan sayuran lainnya. Selain itu, mentimun, pisang termasuk pisang barangan, ubi jalar, boh gadong (ubi ungu) hingga daun pisang.
“Boh gadong limong blah ribe sikilo, na kureung (harga ubi ungu Rp15 ribu satu kilogram, bisa dikurangi),” kata seorang ibu lansia penjual ubi ungu.
“Boh bi limong ribee (harga ubi jalar Rp5 ribu per kilogram),” tambahnya.
Di Pasai Suboh itu dijual pula boh manok kampong (telur ayam kampung) dan boh itek (telur bebek). “Boh manok lhee ribe (Rp3 ribu per butir), boh itek dua ribe sitingoh (Rp2.500 per butir),” ucap nenek penjual telur.
Rasanya tak lengkap jika di Lueng Putu tanpa putu. Ini kue tradisional Aceh yang terbuat dari tepung beras, kelapa parut, dan gula, lalu dikukus dalam tabung bambu atau aluminium.
Di Pasai Suboh itu, ada seorang perempuan tua penjual putu. Dia membuka lapak persis di bibir Jalan Banda Aceh-Medan, Simpang Jalan Perdagangan Keude Lueng Putu. Di ujung Jalan Perdagangan dekat jembatan tua, ada juga seorang wanita muda menjual putu. Harga satu putu Rp2.500.[] Foto-foto: Line1.News/Rma











Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy