Gaya Nyentrik Wali Kota Muslim New York: Salat Iduladha Pakai Jersi Arsenal Malah Berujung Debat Politik

Zohran Mamdani salat Iduladha 1447 H memakai jersei Arsenal
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, saat melaksanakan salat Iduladha di kawasan Bronx, New York, Rabu, 27 Mei 2026. Foto: Reuters

New York – Kehadiran Wali Kota New York, Zohran Mamdani, dalam pelaksanaan salat Iduladha 1447 H di Taman Macombs Dam, kawasan Bronx, Rabu, 27 Mei 2026, mendadak jadi sorotan global. Tak sekadar merayakan hari besar keagamaan bersama warganya, momen yang terekam kamera itu dengan cepat viral di media sosial dan bergeser menjadi debat politik yang panas terkait ruang ekspresi identitas di ranah publik.

Sentuhan Pop Culture dan Gaya Membumi Sang Wali Kota

Melansir CNN, Jumat, 29 Mei 2026, sebagai salah satu wali kota muda yang biasanya lekat dengan setelan jas formal dari Suitsupply, Mamdani memilih tampil beda untuk merayakan Iduladha. Di tengah lautan manusia yang mengenakan pakaian tradisional berwarna hijau seafoam, ungu tua, hingga linen putih, jersi unik Mamdani langsung mencuri perhatian.

Pakaian tersebut didesain menyerupai jersi tandang klub sepak bola Inggris favoritnya, Arsenal, lengkap dengan pola kilatan petir berwarna biru dan tiga garis khas Adidas di bagian samping. Busana yang memicu perdebatan daring mengenai apakah lebih tepat disebut kurta khas Asia Selatan atau Thobe khas Timur Tengah ini, ternyata merupakan hasil kolaborasi Jason Andrew—salah satu pendiri klub penggemar Arsenal Brooklyn Invincibles—dengan penjahit langganannya.

[Kurta unik Zohran Mamdani merupakan rancangan Jason Andrew, co-founder klub penggemar Arsenal ‘Brooklyn Invincibles’. Foto: Michael Brochstein/Sipa USA]

Pilihan busana ini dinilai cerdas. Selain karena Arsenal baru saja menjuarai Liga Inggris minggu lalu dan ersiap menghadapi final Eropa akhir pekan ini, gaya kasual Mamdani sukses memperkuat citranya yang membumi di mata warga. Melalui akun X miliknya, Mamdani menyampaikan pesan humanis:

“Iduladha mengingatkan kita bahwa pengorbanan bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.”

Salat Id yang Bergeser Jadi Panggung Polarisasi Politik

[Mamdani membagikan momen kebersamaannya saat melaksanakan salat Iduladha melalui akun media sosial pribadinya. Foto: Reuters]

Melansir Al Jazeera, Kamis, 28 Mei 2026, kehangatan ibadah di lapangan sepak bola Taman Macombs Dam tersebut seketika memicu gelombang kritik tajam dari kalangan sayap kanan dan konservatif di Amerika Serikat. Kepala Wilayah Bronx, Vanessa Gibson, sebenarnya menjelaskan bahwa fasilitas ruang terbuka ini disiapkan bersama para imam karena kapasitas masjid lokal sudah tidak mampu menampung sekitar 2.000 keluarga yang hadir.

Namun, bagi kelompok oposisi, kehadiran Mamdani dan pesan solidaritasnya ditangkap secara berbeda. Perwakilan Republik, Randy Fine, menyerang Mamdani lewat unggahan video dengan narasi provokatif bahwa New York telah “jatuh” ke tangan pengaruh Islam mainstream.

Sebaliknya, anggota Kongres faksi Demokrat, Ritchie Torres, pasang badan membela Mamdani. Ia menegaskan kebebasan beragama adalah nilai fundamental yang dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS, dan hak tersebut harus berlaku setara untuk semua warga negara tanpa terkecuali.

Kontroversi Hijab AOC: Solidaritas atau Pencitraan?

[Zohran Mamdani menyapa warga dan berswafoto usai melaksanakan Salat Iduladha. Foto: @NYCMayor]

Selain jersi Mamdani, penampilan Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) yang mengenakan hijab selama menghadiri pelaksanaan salat Iduladha justru memicu badai kritik yang jauh lebih besar di berbagai platform media sosial.

Beberapa kritikus sayap kanan dan akun pro-Israel menuduh AOC tengah melakukan “pencitraan politik” demi menggaet suara komunitas Muslim di daerah pemilihannya. Mereka bahkan mempertanyakan konsistensi AOC yang selama ini kerap menyuarakan isu-isu feminisme serta hak-hak perempuan secara global.

Meski begitu, tidak sedikit netizen dan aktivis kemanusiaan yang membela AOC. Mereka menilai tindakan sang politisi murni sebagai bentuk penghormatan budaya, toleransi, dan rangkulan hangat seorang pejabat publik terhadap kelompok minoritas.

Cermin Keberagaman di Panggung Politik Modern

Bagi para pengamat sosial, polemik salat Iduladha di Bronx ini menjadi cermin besarnya polarisasi yang sedang terjadi di Amerika Serikat. Ketika tokoh dari kelompok minoritas berhasil menduduki posisi strategis, ruang publik yang inklusif sering kali dipandang secara sinis oleh sebagian kelompok sebagai ancaman budaya, bukan sebagai kekayaan pluralisme.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan lagi sekadar soal selembar kain hijab atau jersi bola, melainkan tentang bagaimana Amerika terus menguji batas-batas kebebasan berekspresi dan keberagaman di panggung politik modern mereka.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy