Iran Sebut ‘Pesta Vampir’ AS Berakhir, Khamenei Bongkar Siasat Licik Baru Musuh

Pemimpin Iran Ayatollah Mojtaba Khamanei
Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei. Foto: Dok. Press TV

Teheran – Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, dan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran (SNSC), Ali Bagheri, kompak menegaskan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah gagal total dalam agresi militer mereka terhadap Iran.

Melansir Press TV, 28 Mei 2026, akibat kekalahan telak di medan perang tersebut, kedua negara sekutu kini mulai melancarkan siasat licik baru untuk memecah belah internal Iran dari dalam.

Berikut adalah fakta-fakta mencengangkan terkait situasi panas yang terjadi di Timur Tengah:

1. Plot Licik AS & Israel Usai Kalah Militer

Dalam pesan pentingnya pada peringatan pembukaan Parlemen Iran (Majelis Permusyawaratan Islam), Ayatollah Mojtaba Khamenei memperingatkan adanya skema buta dari musuh.

“Siasat buta dan plot musuh—setelah perang yang dipaksakan, tekanan ekonomi, serta propaganda dan pengepungan—adalah menabur perselisihan dan fragmentasi sosial demi mengompensasi kekalahan mereka di medan militer,” tegas Ayatollah Khamenei, Kamis (28/5).

Ia menyatakan ketahanan rakyat Iran telah teruji dalam “Pertahanan Suci Ketiga”, yaitu pertempuran 40 hari untuk menghalau agresi AS-Israel yang berlangsung dari 28 Februari hingga 8 April 2026. Agresi tersebut berhasil dihentikan setelah Iran melancarkan serangan balasan yang menghancurkan pangkalan-pangkalan AS dan Israel di seluruh kawasan.

2. “Pesta Vampir Telah Usai!”

Sementara itu, dalam Konferensi Keamanan Internasional ke-14 di Moskow, Rusia pada Kamis (28/5), Wakil Sekretaris SNSC Ali Bagheri menyampaikan pidato berapi-api di hadapan perwakilan lebih dari 120 negara.

Bagheri menegaskan bahwa pertahanan kuat Iran membuktikan bahwa “pesta para vampir” telah resmi berakhir. AS tidak bisa lagi menggunakan negara-negara sekawasan sebagai tameng pelindung pangkalan militer mereka.

3. Pengorbanan Darah dan Tragedi Kemanusiaan

Perang agresif yang diluncurkan oleh AS dan rezim Zionis ini telah memakan korban jiwa yang sangat besar di pihak Iran, di antaranya:

* Gugurnya Pemimpin Besar Revolusi Islam terdahulu, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

* Gugurnya dua Sekretaris SNSC secara berturut-turut, Laksamana Ali Shamkhani dan Dr. Ali Larijani.

* Tragedi kemanusiaan serangan sengaja terhadap sebuah sekolah di Minab yang menyebabkan 168 anak-anak gugur sebagai martir.

Meskipun ditekan lewat kekejaman tersebut, Bagheri menyatakan sistem militer dan kalkulasi musuh gagal total menghadapi proyeksi kekuatan Republik Islam Iran.

4. Kritik Keras Terhadap “Pharaoh’s Pact” (Perjanjian Firaun)

Bagheri juga membongkar kebohongan politik AS di Timur Tengah dalam 25 tahun terakhir yang bergeser dari ide “Greater Middle East” menjadi ide rasis “Greater Israel”. Ia menyebut Abraham Accords (kesepakatan normalisasi hubungan Arab-Israel) dengan nama asli Pharaoh’s Pact” (Perjanjian Firaun), di mana rezim Zionis bertindak sebagai Firaun modern yang ingin menguasai kawasan lewat pembantaian anak-anak.

5. Agenda Rekonstruksi Ekonomi Iran

Menghadapi situasi ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei menyerukan kepada parlemen dan pemerintah untuk bersatu demi menjaga persatuan nasional. Iran kini berfokus pada slogan “Ekonomi Perlawanan di Bawah Naungan Persatuan dan Keamanan Nasional” untuk tahun Persia 1405. Prioritas utama mereka saat ini meliputi:

* Rekonstruksi negara pascaperang.

* Pengendalian inflasi, stabilitas ekonomi, dan pengelolaan likuiditas.

* Revisi Rencana Pembangunan Ketujuh dengan memasukkan ketentuan rekonstruksi akibat perang kedua dan ketiga.

* Pemberantasan kemiskinan total dan korupsi finansial.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy