Getah Nangka Berpotensi Atasi Periodontitis, Ini Penjelasan Peneliti Brasil

Buah nangka
Ilustrasi - Buah Nangka. Matriks mukoadeasif hasil kombinasi bahan alami yang berpotensi mempercepat penyembuhan jaringan tulang dan gusi akibat periodontitis. Foto: Liliane Mey/Pixabay

Brasília – Kombinasi biomaterial dengan ekstrak kulit delima dan statin terbukti efisien dalam melawan infeksi, peradangan, serta keropos tulang pada gigi.

Melansir media Estado de Minas, Sabtu, 4 Juli 2026, para peneliti asal Brasil berhasil mengembangkan sebuah biomaterial berbahan dasar getah nangka, ekstrak kulit delima, dan simvastatin (obat golongan statin). Kombinasi ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan untuk mengobati periodontitis dalam uji laboratorium.

Apa Itu Periodontitis?

Periodontitis adalah penyakit peradangan kronis akibat infeksi yang secara bertahap merusak jaringan pendukung gigi. Jika dibiarkan, kondisi ini menyebabkan penyerapan tulang (keropos tulang) dan hilangnya struktur gigi, yang berujung pada gigi tanggal.

Keterbatasan Pengobatan Konvensional

Selama ini, pengobatan konvensional hanya fokus mengendalikan infeksi dan peradangan tanpa bisa meregenerasi jaringan periodontal secara efektif. Akibatnya, hasil jangka panjangnya cenderung terbatas.

Beberapa teknik seperti regenerasi jaringan terpandu dan cangkok tulang memang sudah sering disarankan, namun efek klinisnya masih tidak menentu dan sulit diprediksi.

Inovasi Baru dari Bahan Alami

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti berfokus mengeksplorasi biomaterial alami dan bioaktif yang dapat bekerja secara terintegrasi. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Medis dan Kesehatan (FCMS) Pontifícia Universidade Católica de São Paulo (PUC-SP) di Sorocaba, Brasil. Hasil riset mereka telah dipublikasikan pada Maret 2026 di jurnal Polymer Bulletin.

“Kami melihat getah yang diekstrak dari buah nangka sebagai alternatif yang sangat menarik karena memiliki sifat perekat alami. Karakteristik ini membuat kami berpikir bahwa bahan tersebut dapat bertahan lebih lama di area yang terkena periodontitis. Hal ini mendukung pelepasan senyawa obat yang lebih terarah dan berpotensi mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik sistemik secara oral,” ujar Profesor Eliana Aparecida de Rezende Duek dari Departemen Bedah FCMS, selaku koordinator riset yang didukung oleh Fapesp.

Kombinasi Bahan Aktif yang Saling Melengkapi

Setelah diekstrak, getah nangka tersebut dikombinasikan dengan ekstrak kulit delima—yang sudah dikenal luas memiliki potensi antimikroba kuat untuk penggunaan lokal—serta simvastatin, obat antiinflamasi yang belakangan gencar diteliti karena kemampuannya merangsang pembentukan tulang.

Gabungan elemen-elemen ini menghasilkan matriks mukoadeasif (gel yang dapat menempel pada lapisan mukosa tubuh) yang mampu bekerja langsung di lokasi luka atau infeksi.

Mengapa Digunakan Secara Lokal, Bukan Diminum?

Penggunaan simvastatin secara lokal di area gigi ini dinilai jauh lebih efektif. Sebab, jika obat tersebut diminum secara oral, zatnya akan lebih banyak tertahan di organ hati dan hanya sebagian kecil yang masuk ke aliran darah sistemik. Akibatnya, pasien membutuhkan dosis yang lebih tinggi, yang justru meningkatkan risiko efek samping berbahaya seperti degenerasi otot akut.

Proses Pengujian di Laboratorium

Dalam eksperimennya, para ilmuwan mengekstrak getah nangka yang baru dipetik secara manual, lalu memurnikannya lewat proses yang sangat hati-hati. Ke dalam matriks getah inilah ekstrak kulit delima kemudian dimasukkan. Selama studi berjalan, serangkaian uji fisikokimia dan biologis dilakukan untuk memahami struktur serta perilaku material baru tersebut.

Untuk menguji efektivitasnya, tim peneliti melakukan uji laboratorium (in vitro) menggunakan sel punca (stem cell) yang diambil dari jaringan lemak manusia. Mereka menguji formula gel tersebut dengan berbagai tingkat konsentrasi simvastatin (0,3%, 0,6%, dan 1,2%) yang dipastikan aman dan tidak mengubah struktur gel.

Hasil yang Sangat Menjanjikan

Hasilnya luar biasa. Semua konsentrasi tersebut mampu meningkatkan proses osteoinduksi—yaitu memicu sel punca untuk berubah menjadi osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang baru)—dalam waktu 14 hari. Efek ini bahkan terlihat jauh lebih kuat setelah memasuki hari ke-21, yang semakin memperkuat bukti bahwa material ini sangat potensial untuk menyembuhkan periodontitis.

“Secara keseluruhan, hasil riset ini membuat kami sangat bersemangat. Kami melihat biomaterial baru ini punya potensi besar untuk diaplikasikan dalam pengobatan periodontitis di masa depan, bahkan di bidang medis lainnya. Apalagi, bahan ini termasuk yang masih sangat jarang dieksplorasi dalam literatur ilmiah untuk pemanfaatan biomedis,” kata Eliana.

Tantangan Riset Selanjutnya

Meski hasilnya sangat menjanjikan, sang peneliti mengingatkan bahwa perjalanan riset ini masih panjang. Masih ada tahapan-tahapan penting berikutnya yang harus dilewati, seperti uji coba langsung pada hewan serta pengujian klinis kepada pasien manusia.[]

Catatan Kesehatan: Informasi yang disajikan di atas bersifat umum dan bertujuan untuk edukasi berdasarkan publikasi ilmiah mutakhir. Artikel ini tidak dapat menggantikan diagnosis medis, saran perawatan profesional, atau konsultasi langsung dengan dokter gigi Anda.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy