Iduladha dirayakan umat Islam di seluruh dunia dengan semangat ibadah dan kebersamaan. Namun, di balik makna religiusnya, setiap daerah memiliki tradisi unik yang menambah warna dalam perayaan ini.
Di Arab Saudi, unta menjadi hewan kurban paling istimewa. Ukurannya besar, nilainya tinggi, dan dianggap lambang kehormatan. Meski demikian, kambing dan domba tetap menjadi pilihan umum, tergantung kemampuan masing-masing keluarga.
Berbeda dengan Pakistan. Di sana, hewan kurban diperlakukan bak pengantin. Mereka dimandikan, dihias dengan bunga dan cat warna-warni. Sebuah bentuk penghormatan sekaligus perayaan.
Tradisi lain datang dari perempuan di Afganistan dan Pakistan. Menjelang Iduladha, mereka menghias tangan dengan henna. Tak hanya gadis muda, para ibu dan nenek pun ikut meramaikan—menciptakan suasana yang mirip pesta pernikahan.
Di Kosovo, perayaan Iduladha dikenal sebagai Kurban Bajramit. Anak-anak mengenakan pakaian tradisional warna-warni, lengkap dengan kopiah khas. Sebuah cara menjaga budaya dan merayakan hari suci dengan sukacita.
Sementara di Bangladesh, perayaan berlangsung panjang. Iduladha di sana bisa dirayakan hingga 40 hari. Keluarga berkumpul, memasak daging kurban, dan berbagi kebahagiaan. Momen ini juga menjadi ajang mudik dan silaturahmi.
Indonesia pun tak kalah kaya. Dari Meugang di Aceh yang menjadi penanda datangnya hari raya, hingga Grebeg Gunungan di Yogyakarta dan tradisi Apitan di Semarang—semuanya memperlihatkan bagaimana kearifan lokal berpadu dalam semangat Iduladha.
Tradisi-tradisi ini bukan hanya mencerminkan budaya masing-masing, tapi juga memperlihatkan betapa beragamnya cara umat Islam di seluruh dunia dalam menyambut hari kurban.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy