Iran Peringatkan AS: Melanggar Kesepakatan, ‘Langkah Balasan’ Siap Menanti!

Pintu masuk gedung Dewan Keamanan Nasional Agung Iran
Foto ini memperlihatkan pintu masuk gedung Dewan Keamanan Nasional Agung Iran di Teheran. Foto: Press TV

Teheran – Hubungan geopolitik Timur Tengah kembali memasuki babak baru yang tegang namun krusial. Badan keamanan tertinggi Iran baru saja melayangkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS). Teheran menegaskan telah menyiapkan skenario “langkah balasan” yang terukur jika Washington berani melanggar kesepakatan damai yang baru saja diteken oleh kedua negara.

Pernyataan tegas ini dirilis oleh Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) pada Jumat, 19 Juni 2026, hanya berselang dua hari setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) secara digital. Kesepakatan bertajuk “Memorandum Saling Pengertian Islamabad” ini dirancang untuk mengakhiri agresi militer ilegal AS-Israel terhadap Republik Islam tersebut.

Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, mengapresiasi kerja keras para pejabat Iran dalam mencapai kesepakatan ini. Namun, ia menyentil bahwa Donald Trump terpaksa menggunakan berbagai kartu tekanan demi menutupi keputusasaannya.

“Dengan ketidakpercayaan penuh terhadap musuh yang khianat dan kerap melanggar janji, kami memantau ketat proses negosiasi dan implementasi ini. Jika terjadi pelanggaran dari pihak Amerika, langkah balasan akan langsung dieksekusi sesuai rencana yang telah ditetapkan,” tegas pihak SNSC, dilansir Press TV pada Jumat (19/6).

Poin-Poin Krusial ‘Kesepakatan Islamabad’

Kesepakatan 14 poin yang dimediasi secara intensif oleh Pakistan ini mencakup beberapa poin fundamental demi meredakan ketegangan di kawasan:

* Penghentian Perang Total: Berakhirnya permusuhan secara permanen di semua lini, termasuk Lebanon.

* Pencabutan Blokade & Sanksi: Penghapusan blokade laut terhadap Iran dalam waktu 30 hari serta pemulihan arus lalu lintas komersial di Selat Hormuz.

* Suntikan Dana Fantastis: Paket rekonstruksi dan pembangunan ekonomi untuk Iran yang didukung AS senilai minimal $300 miliar, pembebasan ekspor minyak, serta pencairan aset Iran yang dibekukan.

* Komitmen Nuklir & Negosiasi Lanjutan: Komitmen ulang Iran untuk tidak memproduksi senjata nuklir, sementara negosiasi komprehensif berikutnya akan dijadwalkan dalam waktu 60 hari ke depan.

Di Washington sendiri, MoU ini memicu kritik tajam dari sejumlah anggota parlemen yang menilai AS telah merugi besar akibat eskalasi militer selama berbulan-bulan, sementara Iran justru meraup keuntungan signifikan.

Pertemuan di Swiss Ditunda, Teheran Tuntut Syarat Nyata

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa agenda pertemuan lanjutan antara Iran dan AS di Swiss yang semula dijadwalkan pada hari Jumat terpaksa ditunda.

Baghaei menjelaskan bahwa penundaan ini terjadi karena salah satu agenda utama—yaitu penandatanganan dokumen pemutusan perang—sudah diselesaikan secara digital pada dini hari tanggal 18 Juni. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kelanjutan negosiasi menuju kesepakatan final sangat bergantung pada realisasi nyata di lapangan.

“Berdasarkan teks MoU, dimulainya negosiasi kesepakatan final bergantung pada implementasi nyata dan keberlanjutan dari poin-poin dalam klausul 1, 4, 5, 10, dan 11,” ujar Baghaei. Ia menambahkan bahwa konsultasi melalui mediator terus berjalan untuk menjadwalkan ulang pertemuan dalam beberapa hari ke depan.

Israel ‘Abaikan’ Gencatan Senjata, Menlu Iran: Mereka Candu Perang!

Faktor terbesar yang membayangi implementasi damai ini adalah sikap Israel. Berada di luar lingkaran negosiasi, rezim Tel Aviv secara terang-terangan menjauhkan diri dari MoU AS-Iran dan terus menggempur wilayah Lebanon.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok perlawanan Hizbullah dilaporkan mulai berlaku pada Jumat jam 16.00 waktu setempat, serangan udara Israel justru tetap menghantam Lebanon Selatan dan Timur tepat di menit-menit awal gencatan senjata dimulai. Serangan brutal tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 30 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Menanggapi agresi ini, pasukan Hizbullah membalas dengan menyerang balik pasukan invasi Israel, menewaskan 4 tentara dan melukai belasan lainnya.

Sikap konfrontatif Israel memicu kecaman keras dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menyoroti pernyataan provokatif dari menteri-menteri sayap kanan Israel, seperti Itamar Ben-Gvir yang secara mengerikan menulis di media sosial bahwa “seluruh Lebanon harus dibakar” dan “untuk setiap air mata ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis.”

“Ini bukan sekadar ocehan dari seorang psikopat acak yang haus genosida. Ini adalah unggahan publik dari Menteri Keamanan Nasional rezim Israel,” kecam Araghchi melalui akun X miliknya.

Araghchi menegaskan bahwa “kultus kematian” yang bermarkas di Tel Aviv adalah ancaman bagi seluruh umat manusia dan membuktikan bahwa satu-satunya kepentingan Israel saat ini adalah “perang permanen” (permanent war).

Menutup pernyataannya, jubir Kemenlu Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa AS memegang tanggung jawab langsung atas situasi ini sebagai sekutu utama Israel. Iran pun memastikan tidak akan tinggal diam dan siap mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan, keamanan, serta hak-hak sekutunya di front perlawanan.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy