Jakarta – Proses kaderisasi dijalankan partai politik (parpol) di Indonesia selama ini dinilai tidak sehat. Akibat buruknya kaderisasi di partai menguatnya kader kekerabatan dan kader instan.
Menurut penulis buku Pemilu dan Pilkada, Iwan Satriawan, fenomena tersebut dapat merusak kaderisasi yang sehat yang seharusnya menjadi landasan demokrasi berbasis masyarakat.
“Karena demokrasi berbasis pada masyarakat. Parpol juga harus jelas kerjanya dalam rekrutmen politik,” kata Iwan Satriawan dikutip dari NU Online, Sabtu, 20 Juli 2024.
Akademisi Hukum Tata Negara (HTN) Universitas Negeri Lampung (Unila) itu menyebut belum ada contoh yang dapat dijadikan teladan baik dalam kaderisasi dari organisasi masyarakat maupun parpol.
Iwan mencontohkan sejumlah kader yang berpotensi dalam beberapa organisasi seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah sering kali tersingkir karena kurangnya modal baik dalam bentuk jabatan maupun kapital.
Menurut Iwan, salah satu cara yang dapat diterapkan adalah meniru sistem kaderisasi dunia sepak bola. Terdapat seleksi ketat pada tingkat kelompok umur sebelum kader masuk ke level nasional atau tim inti.
“Artinya, mereka harus lolos seleksi terlebih dahulu pada tingkat kelompok umur,” ucap Iwan.
Namun, kata Iwan, untuk mencapai hal ini parpol harus terlebih dahulu memastikan keuangan mereka sehat. Sehingga tidak tergantung pada bantuan dari pihak ketiga seperti penyandang modal dalam kompetisi memperebutkan suara rakyat.
“Selama pendanaan partai politik kecil dan partai politik tidak boleh melakukan usaha bisnis, jangan harapkan partai politik sehat. Karena kondisi seperti ini sangat mudah bagi penyandang modal untuk membeli rekomendasi partai politik dengan mengesampingkan kader potensial hanya karena tidak punya uang,” tegasnya.
Menurut Insan Harapan Harahap, performa yang rendah dalam kaderisasi telah memunculkan polemik serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap peran parpol sebagai perwakilan yang efektif dalam menyampaikan aspirasi dan tuntutan publik kepada pemerintah.
“Lemahnya performa partai politik ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti rendahnya kualitas pola rekrutmen dan mekanisme kaderisasi dalam tubuh partai politik,” tulis Insan dalam jurnal Kaderisasi Partai Politik dan Pengaruhnya Terhadap Kepemimpinan Nasional.
Menurut Insan, pola rekrutmen dan mekanisme kaderisasi meliputi rekrutmen anggota, pembinaan kualitas kader, serta penempatan strategis dalam jabatan partai, menjadi krusial dalam menentukan daya tarik dan kepercayaan masyarakat terhadap suatu parpol. Kualitas kader yang dihasilkan sangat bergantung pada proses rekrutmen dan kaderisasi yang baik.
“Dihasilkannya kader-kader yang berkualitas dan berkapabilitas tentu akan menyorot partai politik asal kader tersebut muncul. Jadi, kualitas kader-kader yang ada dalam partai politik sangat dipengaruhi oleh pola rekrutmen dan mekanisme kaderisasi partai tersebut,” ujar Insan.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy