Jakarta – Keluarga Ramli Abu Bakar, warga Aceh korban penembakan di rest area Tol Tangerang-Merak, berencana mengajukan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Perlindungan ini demi keselamatan Ramli dan keluarganya dalam kasus tersebut.
Ramli ditembak pelaku saat membantu Ilyas Abdurrahman, rekannya sesama pengusaha rental mobil untuk mengejar dan menangkap pelaku pencurian mobil. Ilyas meninggal dunia dalam insiden pada Kamis dinihari, 2 Januari 2025. Sedangkan Ramli menderita luka tembak di punggung kanan tembus tangan kiri.
“Saya sedang proses menyiapkan berkas untuk pengajuan LPSK, namun kami belum sampai mengurus langsung ke pihak LPSK,” ujar anak Ramli, Alfia, pada Sabtu, 4 Januari 2025, dilansir dari Kompas.com.
Alfia mengatakan, alasan dia dan keluarganya ingin mengajukan perlindungan ke LPSK untuk mencari jaminan keselamatan bagi sang ayah yang sedang berhadapan dengan hukum.
Terkait dana restitusi yang kemungkinan diajukan oleh keluarga Ramli, Alfia mengatakan belum memikirkan sejauh itu. “Untuk minta restitusi dana dan lain-lain, kami belum sampai di tahap itu, jadi kamipun masih belum tahu,” ujarnya.
Istri Ramli, Anita, juga mengonfirmasi keluarganya bakal mengajukan perlindungan kepada LPSK. Bahkan, Anita mengatakan Alfia sedang cukup sibuk mengurus berkas-berkas yang bakal diajukan ke LPSK. “Iya untuk pendampingan, untuk segala macem. Sekarang dia (Alfia) lagi ngurus surat-surat untuk LPSK.”
Baca Juga: Anggota TNI AL Penembak Ilyas Beli Mobil Rental yang Disewa Ajat Seharga Rp40 Juta
Ramli sendiri berasal dari Gampong Peulandok, Kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya. Sedangkan Ilyas berasal dari Gampong Dayah Keurako, Kecamatan Indrajaya, Pidie. Keduanya sudah lama tinggal di kawasan Tangerang, Banten.
Ramli hingga kini masih dirawat di RSCM, Jakarta Pusat. Kondisinya masih belum sadarkan diri dan mesti dioperasi untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di tubuhnya.
Malam nahas itu, sebut Anita, Ramli pergi tanpa berpamitan dengan dirinya. “Itu kan temennya organisasi rental, jadi salah satu temannya butuh bantuan dia pokoknya ditelepon temennya langsung jalan. Saya enggak sempet nanya kemana-mana,” ungkap Anita.
Kamis pagi, telepon Anita berdering. Dia melihat nomor Ramli yang menelepon. Tapi saat telepon diangkat, hanya terdengar suara dari teman Ramli yang mengabarkan sang suami tertembak. Mendengar berita mengejutkan itu, Anita sempat kebingungan. Dia tidak tahu mesti pergi ke mana.
“Hari Kamis pagi sekitar hampir 04.30 WIB, ditelepon melalui bapaknya (Ramli), saya tanya kenapa yang angkat HP temannya? ‘Bapak ketembak Bu’ cuma gitu aja, terus ditanya di mana, Balaraja. ‘Terus kami kemana?’ ‘ke rumah sakit Balaraja’. Nah kata yang telepon, langsung ke sana fokus ngurusin bapaknya (Ramli),” ujar Anita.
Dia mengaku tidak mengenal Ilyas yang tewas tertembak dan meminta pertolongan Ramli. Hingga akhirnya, Ramli dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mendapatkan perawatan intensif.
“Karena dari Rumah Sakit Balaraja tak sanggupi punya alat lebih lengkap, kami nyari rumah sakit di manapun lebih cepat, ketemunya di sini ya udah ke sini. Rumah Sakit Polri penuh, rumah sakit yang lain penuh.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy