Bukan Cuma Pisau Tajam, Ini Rahasia Memuliakan Hewan Kurban Sejak Langkah Pertama

Sapi kurban Prabowo disembelih di halaman Masjid Syura Kandang
Sapi kurban dari Presiden RI Prabowo Subianto disembelih di halaman Masjid Syura, Kandang, Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Sabtu, 7 Juni 2025. Foto: Line1.News/Yasir

Jakarta, Line1News – Ibadah kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan dan membagikan dagingnya. Di balik itu semua, ada esensi ihsan—sebuah seni memperlakukan makhluk hidup dengan penuh cinta, kelembutan, dan penghormatan, bahkan sesaat sebelum mereka dikurbankan.

Memastikan hewan kurban merasa nyaman dan bebas stres adalah bagian mendasar dari esensi tersebut. Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Henny Nuraini, menegaskan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare) justru dimulai sejak kaki pertama ternak tersebut menyentuh tanah di lokasi pemotongan.

Menurut Henny, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau panitia kurban memegang tanggung jawab besar dalam menyiapkan fasilitas penerimaan yang layak. Tahapan ini sering kali luput dari perhatian dan dianggap sebagai urusan teknis semata. Padahal, momen bongkar muat ini sangat menentukan kenyamanan psikologis hewan dan kualitas penanganan kurban secara keseluruhan.

“Fasilitas pemotongan hewan, DKM atau panitia kurban harus menyiapkan tahapan proses penerimaan hewan,” ujar Henny di Jakarta, dilansir MUI Digital, Rabu, 13 Mei 2026.

Menjaga Jantung Ternak dari Stres

Dalam proses penerimaan, panitia diimbau menyediakan rampa—jembatan landai untuk menurunkan ternak—yang posisinya dekat dengan area penampungan. Keberadaan rampa ini menjadi krusial untuk mencegah cedera fisik sekaligus meredam rasa takut dan stres pada hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh.

Henny, yang juga aktif sebagai auditor halal di LPPOM, menekankan bahwa detail kecil pada desain rampa tidak boleh diabaikan. Permukaannya harus dibuat kasar agar tidak licin, bebas dari celah yang bisa menjepit kaki hewan, serta memiliki sudut kemiringan kurang dari 30 derajat.

“Rampa dibuat tidak licin, tidak ada celah, sudut kemiringan kurang dari 30 derajat, dan tidak melukai ternak,” jelasnya. Dengan begitu, hewan dapat melangkah turun dengan tenang tanpa tekanan yang berlebihan.

Tak Harus Mahal, Cukup dengan Kepedulian

Menghadirkan fasilitas yang ramah hewan ternyata tidak selalu menuntut biaya mahal atau infrastruktur yang rumit. Henny meyakinkan bahwa di tengah keterbatasan sarana di lapangan, panitia kurban tetap bisa berinovasi melakukan modifikasi sederhana.

“Dapat dimodifikasi sesuai kondisi yang ada, contoh menggunakan papan atau tumpukan karung berisi pasir,” tuturnya.

Pada akhirnya, perhatian kecil pada rampa penurun ternak ini menjadi bukti nyata. Ibadah kurban yang sempurna tidak hanya dinilai dari tajamnya pisau saat menyembelih, melainkan dari bagaimana kita memuliakan dan menyayangi bernyawa tersebut sejak awal kedatangannya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy