Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Mencari rezeki yang halal di masa kini merupakan hal yang amat sulit. Karena secara sadar kita dapat merasakan, bahwa kian hari kebutuhan hidup semakin meningkat, akan tetapi lapangan pekerjaan justru sangat sedikit.
Di tengah himpitan kenyataan seperti itu, sebagian orang akhirnya mulai menurunkan standar penghasilan yang dijaganya dengan ketat. Sehingga hal itu sebagian dari kita berpikir bahwa yang terpenting saat ini, kita ada pemasukan dulu, cara dan sumbernya boleh dari mana saja meskipun haram. Na’udzubillah.
Pemikiran semacam itu merupakan kesalahan besar karena sesulit apapun kondisi kita, selagi masih mempunyai tenaga untuk berusaha, mencari rizki dan mengonsumsi makanan halal adalah kewajiban. Sebab, prinsip yang demikian adalah perintah langsung dari Allah Ta’ala. Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 168 dijelaskan: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”
Ayat tersebut merupakan ketentuan yang mewajibkan umat Islam mengonsumsi makanan dari sumber halal serta baik. Kaum muslimin diingatkan agar tidak menyantap sesuatu yang terlarang, baik karena substansinya, seperti melahap daging babi, maupun meneguk sesuatu yang bersifat memabukkan.
Selain itu, kita juga dilarang mengonsumsi makanan atau minuman yang diperoleh dari jalur yang tidak dibenarkan dalam agama. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, jilid 2, halaman 208: “Sahl berkata: Tidak sah mengonsumsi sesuatu yang halal kecuali dengan ilmu. Dan suatu harta tidak dapat dikatakan halal hingga ia benar-benar bersih dari enam perkara: riba, harta haram, suht (menyogok, dan lain-lain), yang merupakan istilah umum, ghulul (khianat terhadap amanah), perkara makruh, dan syubhat.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Mengonsumsi rezeki yang diperoleh dari cara halal tidak hanya perintah langsung dari Allah Ta’ala yang berbuah pahala. Akan tetapi, dengan berusaha melakukannya, doa kita juga akan cepat dikabulkan. Mengapa demikian? Karena dengan mengonsumsi yang halal, maka tidak ada penghalang doa kita. Berbeda dengan menyantap yang haram, doa kita secara langsung dapat tercegah.
Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW: “Dari Abu Hurairah Ra, dia berkata, ‘Rasulullah Saw kemudian menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia mengangkat kedua tangannya menghadap ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,” namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?’.” (HR. Muslim).
Selain mengakibatkan doa tidak terkabul, mengonsumsi sesuatu dari yang haram juga dapat mengakibatkan hati tidak tenang dan terhalang dari rahmat Allah Ta’ala. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Maraqil Ubudiyah, halaman 187, dengan mengutip pendapat Asy-Sya’rani: “(Kenyang karena yang halal saja dapat menjadi awal dari segala keburukan, maka bagaimana lagi jika berasal dari yang haram) Asy-Sya‘rani berkata: Sesungguhnya memakan sesuatu yang haram atau yang bersifat syubhat akan menggelapkan hati, menghalangi seseorang dari memasuki hadirat Allah Ta‘ala, serta menjadikan pakaian cepat rusak dan lusuh.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Mencari rezeki yang halal merupakan perintah langsung dari Allah Ta’ala. Kita dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang baik, baik dari segi zatnya maupun dari cara memperolehnya. Hal tersebut memiliki banyak manfaat, tidak hanya bagi kesehatan jasmani yang tampak secara lahiriah, tetapi juga bagi perilaku serta ketenangan hati kita secara batiniah.
Sebaliknya, mencari rezeki dari sumber yang haram akan menimbulkan banyak mudarat bagi diri kita. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh khatib sebelumnya, kita dilarang mengonsumsi makanan yang berasal dari hasil riba, perkara syubhat, mencuri, menipu, dan perbuatan haram lainnya.
Banyak dampak buruk yang dapat timbul akibat mengonsumsi sesuatu yang diperoleh dari jalan yang haram, di antaranya adalah terhalangnya terkabul doa serta rusaknya hati. Oleh karena itu, jika kita menginginkan kehidupan yang tenang dan penuh keberkahan, maka hendaklah kita membiasakan diri untuk mencari dan mengonsumsi rezeki yang halal.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy