Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Sebab padanya tersimpan memori beragam kejadian penuh hikmah yang menjelaskan eksistensi Tuhan. Yakni ketika Dia mampu menggerakkan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram, Mekkah, hingga Masjidil Aqsha, Yerusalem, dan membawanya ke Sidratil Muntaha (haribaan Allah) dalam satu malam.
Perjalanan dari Al-Haram menuju Al-Aqsha, dalam peristiwa Isra’, apabila menggunakan mode transportasi di zaman tersebut, berupa unta, maka seharusnya Nabi SAW akan menghabiskan 40 hari. Hal ini diabadikan oleh Allah Swt dalam QS. Al-Isra’ ayat 1: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnyaagar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Sementara kabar Mi’raj, perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Bumi ke Sidratil Muntaha itu diabadikan dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 13-15: “Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Pada moment Mi’raj ke Sidratil Muntaha ini, Nabi Muhammad SAW menerima ketetapan syariat Islam secara langsung dari Allah ta’ala. Yakni berupa salat sebanyak lima puluh kali dalam sehari-semalam. Namun di waktu tersebut, Nabi Saw bernegosiasi dengan Allah, sehingga disahkan kewajiban salat lima kali sehari-semalam, sebagaimana yang kita saksikan dan kerjakan selama ini.
Kisah penetapan salat lima puluh waktu dalam sehari-semalam dan proses negosiasi itu, secara langsung dikisahkan Rasulullah SAW melalui hadisnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata: Rasulullah bersabda, maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh shalat. Aku pun kembali dengan ketetapan itu, hingga aku melewati Nabi Musa. Ia bertanya, ‘Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Allah mewajibkan lima puluh shalat.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku pun kembali (kepada Allah), lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangi separuhnya.’ Ia berkata lagi, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup.’Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku kembali kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Shalat itu lima waktu, tetapi nilainya lima puluh. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah.’ Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Namun aku menjawab, ‘Aku merasa malu kepada Tuhanku.’ Kemudian aku dibawa pergi hingga sampai ke Sidratul Muntaha, yang diselubungi oleh warna-warna yang aku sendiri tidak mengetahui hakikatnya. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga. Ternyata di dalamnya terdapat anyaman dari mutiara, dan tanahnya adalah kasturi.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dari kisah perjuangan nabi meringankan kewajiban syariat kita dalam peristiwa Mi’raj ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga betapa besar kasih sayang dan tanggung jawab Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.
Kewajiban salat yang semula berjumlah lima puluh kali tidak serta-merta beliau terima tanpa memikirkan kemampuan umat, ditambah dengan masukan dari Nabi Musa As. Dengan penuh kerendahan hati, Nabi SAW berulang kali kembali menghadap Allah, demi meringankan beban umatnya. Meskipun akhirnya Nabi merasa malu untuk memohon keringanan lagi.
Hikmah lainnya, keringanan salat menjadi lima waktu adalah rahmat besar dari Allah sekaligus amanah yang tidak boleh disepelekan. Meski jumlahnya diringankan, nilainya tetap lima puluh, menandakan betapa agungnya salat dalam Islam.
Maka, tidak pantas bagi kita meremehkan shalat yang sudah dipermudah oleh Allah melalui perjuangan Nabi-Nya. Oleh sebab itu, selanjutnya, mari kita bertekad untuk tetap mengerjakan shalat lima waktu, tanpa terlewat.[]
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy