‘Hari Raya’ Ulat Buku: Kala Gen Z Malaysia Borong Buku RM700 dan Berburu Cap di PBAKL 2026

Tuanku Haji Yusri ketiga dari kiri bersama Sekjen Cisah Mawardi dua dari kiri
CEO Galeri Ilmu Media Group, Tuan Haji Yusri bin Mohd Yusof (tiga dari kiri), dan Sekjend Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah), Mawardi Ismail al-Asyi (dua dari kiri) menunjukkan buku ACEH: Bangkit daripada Luka, yang diterbitkan oleh Galeri Ilmu Media Group. Foto: Cisah

Kuala Lumpur, Line1News – Siapa bilang generasi muda hari ini sudah meninggalkan buku demi layar gawai? Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) 2026 baru saja mematahkan stereotip tersebut. Ajang literasi terbesar di Asia Tenggara ini sukses menyatukan roh ilmu, teknologi, dan antusiasme luar biasa dari Generasi Z.

PBAKL 2026 yang berlangsung pada 29 Mei hingga 7 Juni 2026 resmi menutup tirai dengan mencetak rekor fantastis. Menurut laporan Berita Harian Online, sebanyak 2.416.009 pengunjung memadati koridor Pusat Dagangan Dunia Kuala Lumpur (WTC KL). Angka ini melonjak tajam dibanding tahun lalu yang mencatat 2,1 juta pengunjung.

Timbalan (Wakil) Menteri Pendidikan Malaysia, Wong Kah Woh, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah bukti nyata keberhasilan pemerintah dalam memajukan industri buku negara. Sebagai perbandingan, pengunjung PBAKL terus melesat dari 1,6 juta (2023), 1,8 juta (2024), hingga menembus angka 2,4 juta tahun ini.

Rela Rogoh RM700 Demi Buku

Di balik angka jutaan tersebut, ada cerita humanis tentang kecintaan pada ilmu. CEO Galeri Ilmu Media Group, Tuan Haji Yusri bin Mohd Yusof, membagikan pengamatannya saat berbincang hangat dengan Sekjend Center for Information of Sumatra Pasai Heritage (Cisah) Aceh, Mawardi Ismail al-Asyi, pada hari terakhir pameran.

“Anak-anak muda di Malaysia masih sangat antusias menghadiri pesta buku. Ada yang rela menghabiskan lebih dari RM700 (sekitar Rp2,4 juta, red) hanya untuk membeli buku dalam satu kunjungan,” ungkap Tuan Haji Yusri, dalam keterangan diterima Line1News, Kamis (11/6).

Tren Stamping: Mengubah Pameran Jadi Arena Bermain

PBAKL 2026 tidak lagi sekadar tempat transaksi jual-beli buku konvensional. Dalam artikelnya di Berita Harian Online, 9 Juni 2026, Doktor Miharaini Md. Ghani, Pakar Komunikasi Digital dari Universiti Sains Malaysia (USM), menyebut pameran tahun ini berevolusi menjadi sangat interaktif lewat fenomena stamping (mengumpulkan cap stan).

Banyak pengunjung muda membawa kartu khusus dan berjalan berjam-jam demi berburu cap eksklusif dari setiap penerbit. Aktivitas seru ini kemudian viral di media sosial seperti Threads dan TikTok. Kehadiran fisik ke pesta buku memberikan pengalaman emosional dan kenangan nyata yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma belanja online. Bagi para ulat buku, kata Miharaini, PBAKL telah menjelma menjadi ‘Hari Raya’ yang mereka rayakan dengan senyuman, buku di tangan, dan semangat untuk terus menimba ilmu tanpa jemu.

Baca Juga: Ketika Buku ‘ACEH: Bangkit daripada Luka’ Menjadi Karya Best Seller di Malaysia

Jembatan Literasi Malaysia – Aceh

Semangat literasi ini juga menjadi jembatan diplomasi budaya yang erat antara Malaysia dan Aceh. Dalam momentum PBAKL 2026, Galeri Ilmu Media Group memberikan dukungan penuh pada peluncuran buku kolaborasi lintas negara berjudul “ACEH: Bangkit daripada Luka“.

Buku ini ditulis oleh Relawan Rangers, sebuah tim yang terdiri dari empat penulis Cisah Aceh Utara dan enam penulis Halaqah Mukhlisin Malaysia. Selama pameran, Stan 623 yang memajang buku ini ramai dikunjungi tokoh penting, termasuk Datuk Doktor Asyraf Wajdi Dusuki, Ketua Majlis Amanah Rakyat (MARA).

Bagi Tuan Haji Yusri, kedekatan dengan Aceh memiliki ikatan emosional tersendiri. Ia mengenang kembali momen kunjungannya ke Krueng Geukueh, Aceh Utara, yang menginspirasi banyak program literasi bersama.

Melalui bendera Galeri Ilmu, ia juga terus menggaungkan konsep Ihya Turats—sebuah inisiatif besar untuk menghidupkan kembali kitab-kitab klasik warisan intelektual para ulama terdahulu agar dikemas lebih modern, mudah diakses, dan tetap relevan bagi generasi muda hari ini.

Hubungan emosional, angka kunjungan yang memecahkan rekor, serta gemuruh kreativitas anak muda di media sosial membuktikan satu hal: di era digital, budaya membaca tidak mati, melainkan sedang berevolusi menjadi jauh lebih indah.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy