Jakarta – Gubernur Aceh mengutus Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Jamaluddin menjajaki peluang kerja sama dengan pemerintah Australia di bidang pendidikan, pelatihan, dan peternakan.
Pertemuan antara Jamaluddin dengan Kedutaan Besar Australia yang diwakili Hannah Derwent, Counsellor Human Development, dan staf lainnya berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu.
Jamaluddin yang didampingi tim teknis T Murdani menyampaikan kondisi Aceh kini sangat kondusif untuk berinvestasi.
“Aceh memiliki kekayaan alam sangat melimpah, namun memiliki masalah pada sumber daya manusia sehingga tidak mampu mengonversinya untuk kesejahteraan rakyat,” ujar Jamaluddin dikutip dari siaran pers BRA, Jumat, 3 Oktober 2025.
Karena itu, dia berharap Australia bersedia berinvestasi di bidang pendidikan, khususnya memberikan kemudahan bagi putra-putri Aceh untuk melanjutkan sekolah ke sana baik strata satu, master, ataupun program doktor.
“Kalau tidak bisa di semua bidang, sekurang-kurangnya dalam beberapa bidang yang sangat dibutuhkan oleh Aceh saat ini seperti perindustrian, perminyakan, pertambangan, dan sebagainya,” sebut Jamaluddin.
Selain itu, kata dia, Aceh juga sangat membutuhkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang memiliki standar seperti Australia. Kebutuhan ini, tambah Jamaluddin, sangat penting agar nantinya putra-putri Aceh memiliki keahlian mumpuni untuk berpartisipasi dalam pembangunan Aceh dan memiliki kemampuan bekerja di Australia.
“BLK ini juga nantinya mampu memberikan kesempatan bagi mantan kombatan dan para korban konflik untuk ikut berpartisipasi sebagai salah satu upaya menyelesaikan konflik Aceh secara menyeluruh, bermartabat, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Topik penting lain yang dibahas di pertemuan tersebut tentang potensi penggemukan sapi. Aceh disebut memiliki kondisi alam yang sangat hijau sebagai modal utama melakukan peternakan dan penggemukan sapi sepanjang tahun.
Di samping itu, posis Aceh berada di pintu gerbang perdagangan internasional di jalur Samudra Hindia. Keberadaan pelabuhan bebas Sabang, kata Jamaluddin, membuka peluang besar menjadikan Aceh sebagai hub penggemukan sapi.
“Aceh juga dikenal daerah yang paling halal di Indonesia dalam bidang produksi makanan, sehingga sangat berpotensi untuk menjual sapi hidup, daging, maupun produk turunan seperti rendang atau Sie Reuboeh ke Timur Tengah khususnya Arab Saudi,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, kata dia, kebutuhan daging sapi di kawasan Timur Tengah terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan standar hidup, serta faktor religius (kebutuhan daging halal yang berkualitas tinggi).
“Kebutuhan sapi saat pelaksaan haji untuk membayar denda (dam) karena berbagai pelanggaran ibadah juga sangat besar. Begitu pula ketika umat islam di Timur Tengah melakukan ibadah qurban. Dengan kondisi alam di Timur Tengah tentunya sangat sulit untuk melakukan baik peternakan maupun penggemukan sapi. Sementara Indonesia, khususnya Aceh, memiliki alam yang sangat hijau,” ujarnya.
Dengan berbagai kondisi tersebut, Aceh disebut Jamaluddin merupakan kawasan yang sangat strategis untuk mendatangkan bibit sapi bakalan dari Australia, melakukan proses penggemukan (fattening), kemudian mengekspor daging sapi segar maupun sapi hidup ke Timur Tengah dalam upaya menggerakkan ekonomi (economic power house) baru bagi Aceh dan Indonesia.
Menanggapi hal itu, Hannah menyambut baik inisiatif Gubernur Aceh yang disampaikan melalui Jamaluddin. Dia menjelaskan saat ini Australia sudah banyak terlibat dalam membantu Aceh. Salah satunya, program bantuan melalui SKALA. Menyangkut beasiswa, Hannah berjanji akan mencari solusi agar dapat membantu anak-anak Aceh agar dapat melanjutkan studinya ke Australia.
Sementara Renee Bryant selaku First Secretary of Economic menyampaikan pemerintah Australia sangat senang dengan inisiatif program penggemukan sapi. Dia menjelaskan ramai para peternak di Australia yang ingin berinvestasi di Indonesia, namun memiliki kendala di regulasi.
Terkait hal itu, Jamaluddin menjelaskan Aceh mempunyai UUPA, regulasi yang memberikan kewenangan untuk bekerja sama dengan luar negeri. Untuk saat ini, kata dia, Aceh berkomitmen mempermudah proses pengurusan berbagai izin yang dibutuhkan investor.
Mendengar informasi tersebut, Bryant menyampaikan akan mengomunikasikannya dengan asosiasi peternak sapi di Australia. Dia juga akan mengirimkan undangan kepada Gubernur Aceh dan Ketua BRA untuk hadir di acara investment submit di Bali pada 27 Oktober nanti, sekaligus mempertemukan angsung dengan para peternak sapi dari Australia.
Selain itu, kata Renee, tahun depan Kedubes Australia akan mengundang Gubernur Aceh dan Ketua BRA melalui program short course untuk berkunjung langsung ke negara tersebut, melihat model peternakan dan penggemukan sapi di sana.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy