Lhokseumawe, Line1News – Di balik deretan karya yang merekam luka, ketangguhan, dan kepedihan akibat bencana alam di Sumatra, terselip kebanggaan bagi keluarga besar Line1News. Dua foto jurnalistik buah dedikasi pewarta foto Line1News, Muhammad Yasir, sukses terpilih untuk berpartisipasi dalam pameran dan buku foto jurnalistik bergengsi bertajuk “Prahara Pulau Emas”.
Eksibisi dan kodifikasi visual kolaboratif yang diinisiasi oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat, Yayasan Riset Visual mataWaktu, dan PT PLN (Persero) ini merupakan bagian dari roadshow edukasi serta mitigasi kebencanaan. Dari puluhan karya yang diuji dan diseleksi secara ketat dari 3 provinsi—Sumatra Barat, Aceh, dan Sumatra Utara—bidikan kamera Muhammad Yasir berhasil mengamankan tempat di dinding pameran sekaligus ruang abadi lembaran buku sejarah bencana.
Suara dari Garis Depan Bencana
Program literasi visual ini melibatkan total 36 fotografer pilihan dari berbagai daerah terdampak bencana di pengujung tahun 2025 lalu. Mereka terdiri dari PFI Aceh, PFI Medan, PFI Padang, PFI Jakarta, hingga jurnalis foto lepas yang terpanggil nuraninya untuk menerobos medan berbahaya demi merekam realitas banjir bandang serta tanah longsor.
Bagi Muhammad Yasir, meloloskan karyanya ke dalam ruang pameran dan cetakan buku ini bukan sekadar pencapaian profesi, melainkan bentuk pertanggungjawaban moral seorang jurnalis kepada publik.
Sebagaimana diungkapkan oleh Kurator Pameran, Danu Kusworo, foto-foto ini merekam hal-hal yang melampaui kehancuran fisik. “Lebih dari itu, ia merekam keteguhan manusia dalam menghadapi kehilangan, solidaritas yang tumbuh di tengah keterbatasan, serta pelajaran terluhur tentang hubungan manusia dengan alam yang selama ini menjadi ruang hidup bersama,” tulisnya dalam catatan kuratorial pameran.
Perjalanan Karya: Menembus Ruang Publik Sumatra
Sebelum menyapa publik Serambi Mekah, rangkaian roadshow pameran ini telah lebih dulu dibuka di Istano Basa Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 27–30 Juli 2026.

[Pengunjung melihat foto udara karya jurnalis Line1News Muhammad Yasir saat berlangsungnya pameran foto ‘Prahara Pulau Emas’ di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada pekan pertama Agustus 2026. (Foto: Dok. PFI Aceh)]
Selanjutnya, karya foto udara Yasir ikut berjejer rapi di dinding Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, sepanjang 3 hingga 8 Agustus 2026. Pameran di Banda Aceh yang dibuka langsung oleh Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal ini sukses menyedot perhatian dan empati luas dari masyarakat. Setelah menyelesaikan agendanya di Aceh, pameran bergerak menuju destinasi terakhirnya di Sumatra Utara.
Baca Juga: Menolak Lupa Melalui Lensa: Pameran Foto ‘Prahara Pulau Emas’ Resmi Dibuka Wali Kota Illiza
Cerita di Balik Dua Bingkai Foto Muhammad Yasir
Kedua karya fotografer Line1News yang terpilih menyajikan lanskap emosi yang kuat—memperlihatkan bagaimana alam mengirimkan sinyal kerusakan sekaligus bagaimana manusia bertahan dalam keterbatasan:
* Karya Pameran: Saksi Bisu Kerusakan Alam
Sebuah foto udara memperlihatkan pemandangan memilukan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang diambil pada Sabtu (6/12/2025). Pascabanjir bandang dahsyat yang melanda pada Rabu (26/11/2025), jutaan gelondongan kayu besar terbawa arus dan menumpuk pekat menyelimuti sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Arakundo hingga mengepung permukiman warga. Foto udara ini menjadi bukti visual konkret mengenai parahnya kerusakan lingkungan dan dampaknya bagi puluhan rumah warga. Karya ini dipajang langsung di dinding galeri pameran.
* Karya Buku: Ketangguhan di Atas Puing Longsor

[Warga berjalan membawa hasil panen dan logistik melintasi area longsor di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (13/12/2025). (Foto: Muhammad Yasir / Line1News.com)]
Karya kedua Yasir berhasil menembus kurasi ketat untuk dicetak dalam Buku Foto Jurnalistik “Prahara Pulau Emas”. Foto tersebut merekam denyut bertahan hidup warga di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, pada Sabtu (13/12/2025). Akibat hujan berintensitas tinggi, jalur vital penghubung Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bener Meriah putus total akibat tertimbun material longsor. Namun hidup harus terus berjalan; kamera Yasir menangkap momen humanis saat warga dengan tegap berjalan kaki melintasi gundukan tanah longsor sambil memikul hasil panen dan pasokan logistik demi menyambung napas keluarga.
Lewat goresan cahaya ini, Line1News melalui dedikasi Muhammad Yasir berkomitmen untuk terus mengawal isu-isu kemanusiaan dan kebencanaan, menjadikan kamera sebagai alat perekam sejarah yang menggugah nurani publik.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy