Ini Kata Haji Uma Soal Pemulangan 13 Nelayan Aceh Timur dari Thailand

Surat resmi Haji Uma (Sudirman) Anggota DPD RI asal Aceh kepada KJRI Songkhla terkait permohonan perlindungan hukum dan pemulangan 19 nelayan Aceh Timur yang ditangkap di Phuket Thailand.
Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma. Foto: Dokumen Pribadi

Banda Aceh, Line1News – Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman akrab disapa Haji Uma, terus mengawal asa dan kerinduan keluarga nelayan asal Aceh Timur yang ditahan di Thailand sejak Maret 2026. Melalui koordinasi intensif dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Songkhla, titik terang kepulangan mereka mulai terlihat.

Hingga Senin, 14 September 2026, Haji Uma memperoleh konfirmasi membahagiakan bahwa 13 nelayan dari Boat Anak Manja kini telah memasuki tahap persiapan untuk dipulangkan ke tanah air. Namun, perjuangan belum usai. Lima nelayan lainnya dari Boat Jalur Gaza saat ini masih tertahan, dan perkembangan proses hukum mereka terus dipertanyakan ke pihak KJRI Songkhla.

Sebelumnya, Boat Anak Manja melaut dengan membawa 14 nelayan. Satu di antaranya telah dipulangkan lebih awal karena statusnya yang masih di bawah umur. Kini, giliran 13 rekan mereka yang bersiap melangkah pulang menemui keluarga.

“Informasi yang kita terima dari KJRI Songkhla, 13 nelayan ini sudah dalam proses untuk dipulangkan dan kemungkinan dalam pekan ini. Untuk tanggal pastinya masih dikoordinasikan dengan Imigrasi Phuket. Begitu sudah ada kepastian, tentu akan segera kita sampaikan kepada keluarga,” kata Haji Uma dalam keterangannya, Selasa, 15 September 2026.

Ikhtiar untuk Lima Nelayan yang Masih Tertahan

Di sisi lain, kecemasan masih membayangi keluarga lima nelayan dari Boat Jalur Gaza yang belum bisa pulang. Mengerti betul akan kekhawatiran itu, Haji Uma tidak tinggal diam dan bergerak cepat meminta kejelasan dari KJRI Songkhla mengenai status hukum yang sedang dihadapi mereka.

“Kita juga masih mempertanyakan kembali kepada KJRI Songkhla terkait lima nelayan dari Boat Jalur Gaza yang sampai saat ini belum bisa dipulangkan. Kita ingin mendapatkan informasi yang jelas dan terus membangun komunikasi agar mereka juga mendapat perhatian serta pendampingan,” ujarnya.

Kepedulian mendalam ini bermula ketika Haji Uma menerima surat penuh harap dari keluarga para nelayan. Surat tersebut menjadi penyambung lidah dari para istri, anak, dan orang tua yang rindu dan ingin tahu bagaimana nasib serta kondisi orang-orang tercinta mereka di negeri gajah putih.

Menyahuti rintihan keluarga tersebut, pada 10 Agustus 2026, Haji Uma langsung melayangkan surat resmi kepada otoritas terkait untuk memantau kondisi para nelayan Aceh Timur yang ditangkap di wilayah Phuket sejak 10 Maret 2026.

“Setelah kita menerima surat dari keluarga, kita langsung membangun komunikasi untuk mengetahui kondisi dan perkembangan proses hukum para nelayan tersebut. Saat itu KJRI Songkhla menyampaikan bahwa mereka tetap mendapatkan pendampingan selama menjalani proses hukum,” katanya.

Sinergi Demi Menjemput Kepulangan

Demi menenangkan hati para keluarga yang cemas di kampung halaman, Haji Uma memastikan setiap informasi dan perkembangan terbaru dari KJRI Songkhla selalu disampaikan langsung kepada mereka.

Tak hanya mengandalkan jalur diplomasi di luar negeri, Haji Uma juga merangkul Pemerintah Aceh. Ia telah berkomunikasi intensif dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh untuk menyiapkan skema penjemputan, termasuk dukungan pendanaan proses pemulangan.

Jika sesuai rencana, 13 nelayan Boat Anak Manja akan diterbangkan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Setibanya di Indonesia, Pemerintah Aceh akan mengawal seluruh proses kepulangan mereka hingga benar-benar sampai ke rumah dan kembali ke pelukan hangat keluarga di Aceh.

Di akhir keterangannya, Haji Uma menyelipkan pesan penguat hati bagi keluarga yang sedang menanti di rumah, berjanji untuk terus mengawal proses ini bersama segenap pihak terkait.

“Kita berharap keluarga tetap bersabar. Mari sama-sama berkolaborasi dengan pemerintah agar proses ini berjalan dengan baik. Harapan kita semuanya dapat pulang dengan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga, termasuk lima nelayan lainnya yang saat ini masih kita komunikasikan dengan KJRI Songkhla,” pungkasnya.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy