Pilgub Aceh 2024

Pengamat: Para Cagub Aceh Sedang Adu Strategi, Rakyat Berharap Kedewasaan Politik

M Akmal Dosen Ilmu Politik Unimal
Dr. M. Akmal, M.A., Dosen Ilmu Politik FISIP Unimal. Foto: Istimewa

Lhokseumawe – Pengamat Politik Dr. M. Akmal menilai situasi politik saat ini terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) Aceh Tahun 2024 sangat menarik, karena sedang terjadi proses adu strategi antar-bakal calon gubernur (cagub). Sementara ini dua bakal cagub Aceh, Mualem Vs Bustami, memperoleh dukungan partai politik hampir sama kuat.

“Jika dilihat dari aspek peta koalisi Pilgub Aceh kali ini sangat menarik, karena proses rivalitas para calon gubernur ini sama kuat,” kata Akmal kepada Line1.News, Senin, 26 Agustus 2024.

Menurut Akmal, semakin sama kuat para cagub Aceh, sama-sama punya kekuatan dukungan dari parpol-parpol yang kuat, baik parlok dan parnas, maka akan menghasilkan pemimpin terkuat untuk membangun Aceh yang sudah jauh tertinggal dengan provinsi- provinsi lain. “Pemimpin yang kuat akan lahir dari sebuah kompetisi yang levelnya sama,” ujarnya.

Seperti diketahui, bakal cagub Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), diusung Partai Aceh, partai lokal yang meraih jumlah kursi terbanyak yaitu 20 kursi dari total 81 kursi DPRA periode 2024-2029 hasil Pileg 2024. Mualem berpasangan dengan Fadhlullah (Dek Fad) untuk bakal calon wakil gubernur (cawagub) Aceh, didukung Partai Gerindra sebagai partai Presiden Indonesia terpilih, yang memperoleh lima kursi DPRA.

Mualem-Dek Fad juga didukung PKS (4 kursi di DPRA), dan PDIP (1 kursi DPRA). Selain itu, Mualem-Dek Fad dikabarkan mendapat dukungan PKB (9 kursi DPRA), Demokrat (7 kursi DPRA), dan PNA (1 kursi DPRA).

Sedangkan bakal cagub dan cawagub Aceh, Bustami Hamzah dan Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop), sementara ini sudah menerima dukungan dari empat parpol untuk maju di Pilkada 2024. Empat parpol itu NasDem (10 kursi di DPRA), Golkar (9), PAN (5), dan PAS Aceh (4 kursi).

Bustami-Tu Sop dikabarkan sedang melobi beberapa partai politik lain untuk bisa meraih tambahan kekuatan parlemen Aceh.

Akmal menegaskan siapa pun gubernur Aceh yang terpilih ke depan harus menghitung dukungan kekuasaannya di lembaga parlemen, sehingga proses pengambilan keputusan antara eksekutif dan legislatif Aceh tidak akan menghambat pembangunan di Aceh. Jangan sampai terjadi lagi hambatan dalam hubungan antara lembaga eksekutif dan legislatif seperti di masa lalu yang sangat merugikan Aceh.

“Kita meyakini bahwa situasi politik Aceh yang sedang terjadi saat ini adalah proses adu strategi antar-cagub Aceh. Proses adu strategi ini adalah awal dari kematangan politik sebelum naik ke panggung pilkada. Kematangan politik Aceh sudah teruji saat pileg kemarin, sangat teduh dan damai. Adanya kedewasaan politik masyarakat dan para elite politik Aceh yang sudah tumbuh baik saat ini di Aceh,” ujar Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Malikussaleh itu.

“Masyarakat kita tentunya berharap kedewasaan politik Aceh saat ini juga bisa lebih terwujud lagi dalam proses Pilkada 2024, sehingga Aceh tetap damai untuk dapat menjemput pembangunan dan kesejahteraan rakyatnya di era ekonomi nasional dan global yang semakin sulit saat ini,” pungkas M. Akmal.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy