Proyek Rehabilitasi Irigasi Krueng Pase Lamban, Ribuan Petani Terancam Hilang Pendapatan

Proyek Rehabilitasi Irigasi Krueng Pase Lamban, Ribuan Petani Terancam Hilang Pendapatan
Alat berat di proyek rehabilitasi Irigasi Krueng Pase, Aceh Utara, Foto: Dok Istimewa

Lhoksukon – Pembangunan irigasi Krueng Pase di Aceh Utara sejak empat tahun lalu hingga kini tak kunjung selesai. Ketua Gerakan Pemuda Berusahatani (Gepeubut) Aceh Zulfikar Mulieng meminta proyek pembangunan itu segera dipercepat.

Sebab, kata Zulfikar, keterlambatan proyek itu tak hanya berdampak pada produksi pangan, tapi juga mempengaruhi ekonomi masyarakat setempat yang bergantung pada hasil pertanian.

“Kami telah menunggu terlalu lama. Kami memohon kepada pihak terkait untuk segera menyelesaikan pembangunan irigasi ini. Jika terus dibiarkan, kita tidak tahu bagaimana petani bisa bertahan,” ujar Zulfikar dalam keterangan tertulis, Senin, 26 Agustus 2024.

Dampak lanjutan dari keterlambatan penyelesaian Irigasi Krueng Pase, tambah dia, juga dapat mempengaruhi stabilitas harga pangan dan ketersediaan pangan di daerah tersebut. Menurut Zulfikar hal ini sudah sangat terasa sekarang bagi petani dan masyarakat di delapan kecamatan di Aceh Utara serta satu kecamatan di Lhokseumawe.

Zulfikar menambahkan, ada ribuan petani yang menggantungkan hidupnya pada sistem irigasi tersebut, kini semakin terpuruk akibat lambannya penyelesaian proyek.

Proyek rehabilitasi Irigasi Krueng Pase yang berada di perbatasan Desa Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, dengan Desa Maddi, Kecamatan Nibong, itu awalnya dimenangkan PT Rudi Jaya, dengan nilai kontrak Rp44,8 miliar dari APBN.

Namun, kata Zulfikar, perusahaan asal Sidoarjo, Jawa Timur, itu gagal menyelesaikan proyek dalam batas waktu kontrak sejak Oktober 2021 sampai 30 Desember 2022.

“Hasil tender ulang rehab bendungan itu dimenangkan PT Casanova Makmur Perkasa, yang beralamat di Banda Aceh, dengan nilai penawaran Rp22,8 miliar pada Maret 2024. Kini proyek itu masih dalam masa pengerjaan dan ditargetkan pada akhir tahun ini selesai,” ujarnya.

Gepeubut Aceh berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan proyek irigasi Krueng Pase yang sangat krusial bagi keberlangsungan hidup petani di 9 kecamatan.
Gepeubut Aceh berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan proyek irigasi Krueng Pase yang sangat krusial bagi keberlangsungan hidup petani di 9 kecamatan. Foto: Istimewa

8.922 Hektare Sawah Tak Bisa Digarap

Irigasi Krueng Pase dirancang untuk mengairi ribuan hektare sawah yang menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat di Kecamatan Meurah Mulia, Nibong, Matangkuli, Tanah Luas, Syamtalira Aron, Tanah Pasir, Samudera, Syamtalira Bayu serta Kecamatan Blang Mangat di Lhokseumawe.

Lantaran keterlambatan penyelesaian proyek itu, kata Zulfikar, banyak petani gagal panen akibat pasokan air tidak memadai.

“Dampak dari itu, 8.922 hektare areal sawah tidak bisa digarap selama empat tahun terakhir, sehingga petani kehilangan pendapatan mencapai triliunan rupiah,” ungkapnya.

Zulfikar berharap pemerintah daerah dan kontraktor proyek segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mempercepat penyelesaian pembangunan irigasi.

“Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa proyek ini selesai tepat waktu, sehingga masyarakat petani tidak lagi dirugikan.”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy