Festival Media Selat Malaka: Menembus Batas Laut, Menantang Jurnalis Mengawal Isu Kelautan

Lokakarya Fesmed Selat Malaka 2026 Mengawal Isu Kelautan
Suasana lokakarya Festival Media Selat Malaka 2026 bertema “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas” yang berlangsung di Kampus Politeknik Negeri Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (19/9/2026). Foto: Dok. Panitia Fesmed Selat Malaka

Batam, Line1News – Lautan bukan sekadar tentang hamparan air dan komoditas perikanan. Di balik luasnya samudra, ada denyut nadi kehidupan masyarakat pesisir, isu lingkungan, ekonomi, hingga intrik industri dan transportasi laut yang menanti untuk diceritakan.

Kesadaran inilah yang mengemuka dalam lokakarya Festival Media Selat Malaka 2026 bertema “Mengawal Isu Kelautan melalui Karya Jurnalistik Berkualitas”. Bertempat di Gedung Technopreneur Politeknik Negeri Batam, Sabtu, 19 September 2026, sebanyak 21 mahasiswa dan akademisi berkumpul untuk membedah tantangan peliputan kelautan yang dipandu oleh Ketua AJI Ambon, R. Khairiyah.

Mengendus Jejak Gelap di Tengah Laut

Menembus isu kelautan membutuhkan kegigihan ekstra. Jurnalis Jaring.id, Abdus Somad, membagikan pengalamannya melakukan liputan investigasi di tengah laut selama hampir dua pekan. Ia menyaksikan langsung dinamika perairan, termasuk melacak kembalinya kapal eks-asing yang kerap bermain mata dengan aturan pajak, melakukan kerja paksa (forced labour), hingga nekat melakukan alih muatan (transshipment) di tengah laut.

Untuk membongkar praktik ini, Abdus menekankan pentingnya jurnalisme berbasis data. Memanfaatkan dokumen resmi, media sosial (terkait informasi mengenai aktivitas kapal dan awaknya sebagai petunjuk awal untuk verifikasi lebih lanjut), hingga platform terbuka seperti Global Fishing Watch dan MarineTraffic adalah kunci untuk memetakan kepemilikan korporasi di balik kapal-kapal tersebut.

“Penelusuran dokumen dan juga penelusuran setiap orang, salah satunya melihat siapa yang punya, perusahaan siapa yang punya, koleganya siapa,” kata Abdus.

Namun, di balik serunya investigasi, ada harga mahal berupa keselamatan yang harus dibayar. Kondisi di laut lepas sangat kontras dengan peliputan nyaman di daratan.

“Kalau di laut itu enggak ada rumah sakit. Enggak ada juga pohon untuk berteduh,” ujarnya mengingatkan para peserta.

Membaca Laut dari Daratan: Lebih dari Sekadar Peristiwa

Senada dengan Abdus, pemateri dari Mongabay Indonesia, Asad Asnawi, menyoroti pentingnya media memperluas cara pandang. Baginya, persoalan di laut tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan apa yang terjadi di daratan dan kebijakan negara tetangga.

Asad mendorong jurnalis untuk tidak hanya datang saat ada peristiwa bombastis seperti penangkapan kapal asing, tetapi juga setia merawat laporan mendalam tentang ekosistem bentang laut dan nasib masyarakat yang menggantungkan hidup di sana.

Dalam sesi diskusi yang hangat, riak persoalan lokal Kepulauan Riau (Kepri) pun mencuat. Mulai dari kontroversi tambang pasir laut hingga aktivitas kapal asing yang kerap meresahkan nelayan setempat.

‘Menerjemahkan Bahasa Langit Menjadi Narasi Bumi’

Tantangan di Kepri makin nyata mengingat wilayahnya didominasi oleh perairan. Akademisi Universitas Ibnu Sina, Hengky Oktavrizal, mengingatkan bahwa Batam dikelilingi ratusan pulau kecil yang membuat masyarakatnya rentan terisolasi dari akses kesehatan dan pendidikan yang layak.

Di sinilah, menurut Hengky, jurnalis memegang peran krusial sebagai “penerjemah” informasi ilmiah yang kaku agar bisa dipahami dan menggerakkan perubahan di masyarakat.

“Yang namanya jurnal ataupun artikel ilmiah, mungkin tidak semua orang paham masalah data, masalah, dan bentuk sajian data. Tapi, inilah peran teman-teman jurnalis untuk menerjemahkan itu,” ucap Hengky yang berlatar belakang kesehatan masyarakat.

Apalagi, isu kelautan di Kepri mencakup ruang lingkup yang sangat masif, mulai dari kualitas air, terumbu karang, hingga ancaman nyata perubahan iklim.

“Kalau bahas tentang isu kelautan, kita lihat lagi Provinsi Kepulauan Riau itu hampir 96 persennya adalah laut,” tambahnya.

Melalui kolaborasi antara ketajaman pena jurnalis dan basis data akademik, lokakarya ini diharapkan mampu melahirkan generasi peliput baru yang tidak hanya sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyuarakan keadilan bagi bentang laut dan masyarakat pesisir Nusantara.[]

Baca Juga:

Seminar Internasional Fesmed Selat Malaka Kupas Hambatan dan Masa Depan Jurnalisme

Resmi Dibuka, Fesmed AJI Angkat Isu Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy