Bikin Stres vs Happy? Mengapa Tren Pesan Suara Picu Perdebatan Sengit di Dunia

Pesan suara populer di negara negara memiliki komunitas diaspora besar
Pesan suara sangat populer di negara-negara yang memiliki komunitas diaspora yang besar. Foto: Getty Images via BBC

Pada Agustus 2013 lalu, WhatsApp meluncurkan fitur voice note (pesan suara). Tanpa gembar-gembor besar, fitur ini hadir agar kita bisa langsung mengirimkan rekaman suara ke teman atau keluarga. Waktu itu, WhatsApp sempat menyatakan bahwa suara langsung dari orang tersayang tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun.

Namun belasan tahun kemudian, menerima voice note sepanjang 10 menit dari teman—yang isinya curhat drama kantor atau konflik keluarga—malah memicu perdebatan sengit. Ada yang suka banget, tetapi banyak juga yang malah risih.

Melansir BBC, 14 Mei 2026, di negara-negara seperti India, Meksiko, Hong Kong, dan Uni Emirat Arab, voice note ini laris manis sampai hampir mengalahkan popularitas chat teks biasa. Namun anehnya, orang Inggris sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan tren ini.

Survei Membuktikan: Banyak yang Malas Pakai

Survei terbaru dari YouGov terhadap 2.300 orang dewasa di Inggris menunjukkan fakta unik. Meskipun voice note agak naik daun setahun terakhir, ternyata hanya 15% orang yang rutin menggunakan fitur ini setiap minggu. Mau cowok, cewek, bahkan Gen Z sekalipun, voice note tetap jadi metode komunikasi yang paling tidak populer di sana.

Bahkan, Inggris dinobatkan sebagai negara yang paling anti-voice note dari 17 negara maju yang disurvei. Sebanyak 83% warganya lebih memilih mengetik teks daripada harus merekam suara, dan cuma 4% saja yang benar-benar menyukai voice note.

Mengapa fitur ini membuat orang terbelah? Kenapa di negara lain sukses besar tetapi di Inggris malah layu sebelum berkembang?

Bikin Happy vs Bikin Stres

Dulu di tahun 2011, peneliti dari University of Wisconsin-Madison di AS sempat mengecek hormon anak-anak saat ditelepon orang tua mereka versus saat cuma dikirimi SMS. Hasilnya, hormon stres (kortisol) langsung turun begitu mereka mendengar suara asli orang tuanya. Sebaliknya, hormon bahagia dan kedekatan (oksitosin) malah melonjak naik.

Walaupun penelitian itu menguji telepon langsung (bukan voice note), intinya tetap sama: mendengar suara orang terdekat memiliki efek emosional yang kuat.

Menurut Dr. Martin Graff, pakar psikologi komunikasi online, voice note memiliki kelebihan karena bisa menyampaikan emosi dan mengurangi salah paham dibanding teks biasa. Makanya, aplikasi kencan seperti Bumble atau Happn sekarang kompak merilis fitur pesan suara.

Lalu, kenapa banyak orang yang justru merasa stres?

Masalah Gengsi dan Budaya “Jaga Jarak”

Profesor Jessica Ringrose dari University College of London menilai orang Inggris cenderung lebih tertutup dan jaim dalam berkomunikasi dibanding budaya lain. Voice note dinilai lebih cocok untuk orang yang ekspresif, suka berbicara, dan senang menunjukkan emosinya secara blak-blakan. Sifat itu agak bertolak belakang dengan kultur Inggris yang cenderung menahan diri.

Seorang warga Inggris bernama Ramya juga jujur menceritakan mengapa dia benci banget dengan fitur ini: “Fitur ini egois. Bagi yang mengirim sih enak banget, tinggal pencet lalu berbicara panjang lebar. Tapi bagi yang menerima? Kita harus meluangkan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan suaranya.”

Apalagi kalau durasinya sampai 6 menit, kita tidak tahu isinya hal darurat atau cuma obrolan tidak penting. Belum lagi repotnya kalau sedang di tempat umum dan lupa membawa headphone.

Namun di sisi lain, bagi pencinta voice note seperti Josh Parry (reporter BBC), fitur ini penyelamat banget. “Kita bisa mendapatkan konteks dan nuansa yang pas, yang susah kalau cuma ditulis teks. Ditambah lagi, ini praktis banget dipakai pas lagi sibuk atau lagi jalan-jalan bawa anjing,” katanya.

Faktor Bahasa dan Komunitas Perantau

Di India, ceritanya beda total. Hampir setengah populasinya doyan banget kirim voice note. Bahkan, WhatsApp India sampai membuat iklan romantis tentang pasangan yang PDKT lewat pesan suara.

Alasannya ternyata ada pada bahasa. Di negara multikultural seperti India, orang sering mencampur bahasa (misalnya bahasa Hindi dan Inggris atau ‘Hinglish’). Mengetik bahasa daerah menggunakan papan ketik (keyboard) HP sering kali ribet banget, jadi mengucapkannya langsung lewat voice note jauh lebih gampang dan natural. Selain itu, fitur ini juga membantu masyarakat di pedesaan yang belum lancar membaca atau menulis.

Sebaliknya, pengamat media Rory Sutherland menilai bahwa bahasa Inggris sudah sangat efisien untuk diketik. “Kita tidak butuh mengetik belasan huruf cuma untuk bilang ‘sorry‘ (maaf),” ujarnya. Jadi orang Inggris merasa mengetik biasa sudah cukup cepat.

Selain itu, negara-negara yang punya banyak komunitas perantau (diaspora) seperti India dan Meksiko juga terbantu dengan voice note untuk mengobrol lintas zona waktu dengan keluarga di kampung halaman tanpa harus repot mencari waktu teleponan.

Masalah Sopan Santun

Pada akhirnya, semuanya balik lagi ke masalah etiket komunikasi. Sebagian orang menganggap mengirim pesan suara berdurasi panjang tanpa izin adalah tindakan yang tidak sopan karena menyita waktu orang lain.

Namun di tengah dunia yang makin sibuk dan membuat kita merasa jauh, mendengarkan rekaman suara singkat dari teman dekat rasanya bisa menjadi hiburan tersendiri. Lagipula, seperti kata Josh, “Gosip dalam hidup kita bakal kurang seru kalau tidak ada voice note!”[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy