Bandung – Beberapa hari terakhir, beredar video yang memperlihatkan Profesor Zulfiadi Zulhan asal Aceh, melakukan eksperimen di laboratorium Priometalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan reaktor plasma hidrogen. Reaktor ciptaan Profesor Zulfiadi dan tim ini ternyata bisa mengubah tanah menjadi logam dan nikel.
Dalam tayangan video, terlihat Profesor Zulfiadi meletakkan sekeping tanah ke dalam reaktor plasma hidrogen. Lalu, setelah dihitung waktunya, hanya 1 menit 45 detik, tanah tadi berubah menjadi logam. “Kurang dari dua menit udah jadi logam,” ujar Profesor Zulfiadi sambil memperlihatkan bongkahan kecil logam hasil eksperimen tersebut.
“Sebenarnya kita sudah melihat logam terbentuk setelah lima detik,” imbuh profesor dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB ini, seraya menambahkan bahwa sebelumnya percobaan tersebut bisa berjam-jam lamanya.
Lantas, seperti apa tepatnya penjelasan tanah diubah menjadi logam?
Profesor Zufiadi sebelumnya telah memaparkan orasi ilmiah dalam Forum Guru Besar ITB pada Sabtu, 12 Oktober 2024, berjudul ‘Reaktor Plasma Hidrogen untuk Produksi Logam yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan’.
Dilansir dari laman resmi ITB, di orasi tersebut Zulfiadi menjelaskan logam yang ada di bumi berasal dari meteor. Logam tersebut kemudian bereaksi dengan air dan oksigen sehingga berkarat dan menjadi bijih.
Keberadaan bijih, kata Zulfiadi, akan dipetakan lewat kegiatan eksplorasi teknik geologi dan teknik geofisika. Selanjutnya, proses penambangan bijih dilakukan oleh teknik pertambangan, hingga akhirnya tiba di pabrik pengolahan yang menjadi tanggung jawab teknik metalurgi.
Bijih yang sudah masuk ke pabrik pengolahan akan melalui berbagai proses hingga akhirnya menjadi logam. Proses tersebut yaitu kominusi, konsentrasi, ekstraksi, dan pemurnian. “Tidak hanya mengolah logam, teknik metalurgi juga berperan dalam mendaur ulang logam yang sudah tidak terpakai menjadi logam baru lagi,” ujarnya.
Baca Juga: Profesor ITB Asal Matang Glumpang Dua Bikin Reaktor Plasma Hidrogen: Ubah Tanah Jadi Logam!
Profesor Zulfiadi menyoroti kenaikan temperatur muka bumi yang kini sudah mencapai angka 1,58 derajat celcius. Salah satu kontributornya, kata dia, industri pengolahan logam yang menggunakan blast furnace sehingga menghasilkan emisi karbon monoksida cukup banyak. Masalah ini, menurut Zulfiadi, harus segera diatasi sebelum menyebabkan risiko kekeringan, gelombang panas, juga curah hujan yang tidak teratur.
Dalam upaya memproduksi logam yang tidak meninggalkan jejak karbon, Zulfiadi mengenalkan reaktor plasma hidrogen yang memanfaatkan hidrogen sebagai reduktornya. Sampai saat ini, kata dia, telah dilakukan berbagai percobaan dalam skala laboratorium untuk memproduksi logam menggunakan reaktor plasma hidrogen.
“Percobaan awal dilakukan dengan menggunakan bijih besi limonit atau gutit. Dalam waktu 1 menit, bijih tereduksi sebagian menjadi logam. Lalu, dalam waktu 2 menit, bijih berhasil tereduksi sempurna menjadi logam,” ujar Guru Besar dalam bidang ilmu Proses Metalurgi Temperatur Tinggi ini.
Percobaan kemudian dilanjutkan menggunakan bijih nikel saprolit untuk menghasilkan feronikel. Dalam waktu 1,5 menit, kata Zulfiadi, dihasilkan feronikel dengan kandungan lebih 20 persen dan angka recovery mendekati 100 persen.
Selain itu, Zulfiadi juga melakukan percobaan terbaru dengan mencoba mencampurkan bijih nikel dan kromit untuk menghasilkan baja tahan karat. Dalam skala pabrik, proses produksi baja tahan karat membutuhkan waktu sangat panjang dan menggunakan berbagai alat.
Profesor Zulfiadi mencoba mencampur 30-35 persen bijih kromit dengan bijih nikel menggunakan satu alat. Hasilnya, baja tahan karat atau stainless steel. Harapan Zulfiadi, percobaan ini dapat dikembangkan ke skala pabrik.
Menutup orasinya, Zulfiadi memproyeksikan cita-cita pengolahan logam di masa depan supaya dapat dibuat suatu mesin yang memanfaatkan artificial intelligence (AI). Mesin tersebut dapat menghasilkan berbagai jenis logam sesuai bahan yang dimasukkan oleh penggunanya.
“Reaktor plasma hidrogen menggunakan green hydrogen dan sumber listrik EBT (Energi Baru Terbarukan) merupakan alternatif produksi logam yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Mari kita realisasikan pengolahan logam yang greener, cleaner, faster, smarter bersama.”
Zulfiadi berasal dari Matang Glumpang Dua, Bireuen. Zulhan sendiri singkatan dari Zulkifli Hanafiah, almarhum ayahnya, pengusaha percetakan ‘Florida’ di Matang.
Dia meraih gelar Doktor der Ingenieurwissenschaften (Dr.-Ing) bidang ferrous metalurgi dari RWTH Aachen, salah satu universitas teknik terkemuka di Jerman, dengan IPK ‘auszeichnung’ atau summa cumlaude. Zulfiadi menjadi dosen sejak 1998. Namun, ia juga pernah bekerja paruh waktu di beberapa perusahaan skala nasional dan internasional. Lalu, sejak September 2023 hingga saat ini, ia menjadi profesor penuh bidang Priometalurgi di ITB.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy