Lhoksukon – Sejumlah Geuchik di Kecamatan Nibong, Kabupaten Aceh Utara mengembalikan bantuan masa panik dari PT Pema Global Energi (PGE) untuk masyarakat terdampak angin kencang.
Geuchik mengembalikan bantuan berupa beras, mi instan, telor, dan minyak goreng itu dengan cara mengantarkan langsung ke kantor PT PGE di Point A, Nibong, Senin siang, 14 Juli 2025.
Informasi diperoleh Line1.News, sedikitnya enam gampong di Kecamatan Nibong terdampak angin kencang pada Kamis, 10 Juli 2025.
Baca juga: Data Sementara: Tiga Kecamatan di Aceh Utara Diterjang Angin Kencang
Pihak PT PGE kemudian menyerahkan bantuan masa panik kepada Camat Nibong di Kantor Camat setempat, Senin pagi (14/7). Lalu, Camat Nibong menghubungi para Geuchik untuk mengambil bantuan dari PGE itu agar diserahkan kepada masyarakat yang terdampak angin kencang.
“Bantuan masa panik yang diserahkan oleh pihak PT PGE untuk Kecamatan Nibong berupa minyak goreng hanya 15 kilogram, telur 15 papan, mi instan 20 dus, air mineral ukuran gelas 10 dus, dan beras 30 sak,” kata Geuchik Gampong Nibong Baroh, Razali alias King Li, dihubungi Line1.News, Senin, sekitar pukul 15.50 waktu Aceh.
King Li menjelaskan setelah mengetahui jumlah bantuan dari PT PGE, para Geuchik bersama Ketua Forum Geuchik Kecamatan Nibong, dan Pj. Imum Mukim Datu Nibong mengadakan pertemuan. “Hasil kesepakatan para Geuchik dan Forum Geuchik, bantuan itu dikembalikan saja kepada PGE,” ujarnya.
“Karena jika hanya sejumlah itu bantuan, kiban ta bagi (bagaimana kita membagikan) per KK (kepala keluarga), per ons? Leubeh get hana (lebih baik tidak ada),” ungkap King Li.
Baca juga: Saham PT Pema pada PT PGE Rp12,7 Juta, Berapa Juta Dolar Pinjaman dari Perusahaan Grup Bakrie?
Menurut King Li, empat Geuchik—termasuk dirinya—dan seorang Pj. Sekdes kemudian mengantar kembali bantuan itu ke Kantor PT PGE di Point A. “Kami antar kembali dengan dua mobil: satu mobil pikap dan satu mobil Rush saya,” ucapnya.
Empat Geuchik yang ikut mengembalikan bantuan itu dengan cara diantar ke PT PGE ialah Geuchik Gampong Nibong Baroh, Nibong Wakheuh, Keude Nibong, dan Keupok Nibong. “Perwakilan dari Gampong Dayah Nibong dihadiri Pj. Sekdes,” tutur King Li.
King Li menyebut pihak PT PGE baru bersedia menerima bantuan yang dipulangkan oleh para Geuchik itu setelah melalui proses audiensi. “Setelah mediasi di Ruang Vendor Point A, baru keluar Humas PGE ke pintu gerbang Point A untuk menerima bantuan yang kami kembalikan,” ungkapnya.
Fasilitas Umum Terdampak
Dari sedikitnya enam gampong di Kecamatan Nibong yang terdampak angin kencang pada Kamis (10/7), Nibong Baroh terbanyak jumlah rumah warga yang mengalami kerusakan.
“Sebanyak 39 KK di Nibong Baroh terdampak. Hasil pendataan awal 37 KK terdampak sudah kami laporkan kepada Camat Nibong, dan disusul data 2 KK lainnya yang ikut terdampak. Total 34 rumah warga dan empat fasilitas umum juga mengalami kerusakan,” ujar King Li.
King Li menyebut empat fasilitas umum di Nibong Baroh terdampak bencana alam itu, yakni bangunan Poskesdes, meunasah gampong, balai desa, dan sekolah TK-PAUD.
“Yang rusak ringan: meunasah, balai desa, dan TK-PAUD sudah kami perbaiki. Poskesdes rusak parah, belum mampu kami perbaiki,” ujar King Li.
Menurut King Li, masyarakat Nibong Baroh yang terdampak angin kencang sempat mengungsi ke posko di halaman meunasah gampong itu pada Kamis sore hingga malam (10/7). “Di depan Cluster 2 PGE,” ucapnya.
Merasa Sedih
Sementara itu, External Relations Coordinator PT PGE, Agus Salim, dihubungi Line1.News, Senin sore, 14 Juli 2025, mengatakan, “Saya sebenarnya sedikit sedih juga, kenapa bantuan kita ditolak, padahal sudah kita sampaikan ini bantuan masa panik, tanggap darurat”.
Agus Salim menjelaskan sebelum menyerahkan bantuan masa panik itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Camat Nibong untuk meminta data. “Karena data kan pada Camat”.
“Sebenarnya mau kita serahkan bantuan itu kemarin (Minggu), tapi kemarin tidak buka Kantor Camat (libur kerja). Jadi, kita serahkan hari ini, dan di Kantor Camat juga sudah ada bantuan yang diserahkan Dinas Sosial, BPBD, dan instansi lain,” ujar Agus Salim.
Agus Salim menyebut pertimbangan pihaknya menyerahkan bantuan itu ke Kantor Camat lantaran Camat yang memiliki data masyarakat terdampak angin kencang. “Kita serahkan bantuan itu diterima pihak Muspika, dengan ijab kabul ‘ini bantuan masa panik, tanggap darurat’,” tuturnya.
Tiba-tiba, lanjut Agus Salim, satu jam kemudian Geuchik menelepon. “Geuchik menyampaikan ini tidak cukup. Saya sampaikan ini bantuan masa panik”.
“Geuchik menyampaikan ingin mengembalikan bantuan itu ke PGE. Saya bilang kami menyerahkan bantuan itu ke Kantor Camat, kalau tidak mau diterima, seharusnya dikembalikan ke Camat. Tapi Geuchik tidak mau, harus kembalikan ke PGE,” kata Agus Salim.
Menurut Agus Salim, saat berlangsung audiensi di Ruang Vendor Kantor Point A sebelum serah terima pengembalian bantuan tersebut, Geuchik menyampaikan sejumlah masalah lain, termasuk soal tenaga kerja dari lingkungan PGE.
“Akhirnya kita terima bantuan masa panik itu dikembalikan ke kita. Yang jelas, kita niat ikhlas membantu,” ucap Agus Salim.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy