Lhoksukon – Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir di Aceh Utara sebanyak 81 jiwa dan hilang 90 orang, menurut data sementara dari BPBD, Senin, 1 Desember 2025, pukul 15.36 waktu Aceh.
“Korban bencana banjir (terendam) 50.772 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 150.154 jiwa. Pengungsi 31.179 KK atau 103.740 jiwa. Pengungsian tersebar di 852 lokasi. Prioritas, ibu hamil 116 jiwa, balita 715 jiwa, lansia 713 jiwa, dan disabilitas 15 jiwa,” kata Muntasir Ramli, Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, dalam keterangannya, Senin sore (1/12).
Baca juga: Data Sementara Bencana Aceh: Korban Meninggal 156 Orang, dan 1.838 Terluka
Muntasir menyampaikan rumah rusak berat sebanyak 3.970 unit, rusak sedang 12.685 unit, dan rusak ringan 15.890 unit.
Adapun kerusakan tanggul 57 titik, jembatan 27 unit, sekolah 101 unit, box culvert Jalan Paya Bakong, jalan 48 ruas (rusak berat 39, rusak sedang 9). Lalu, irigasi 8 DI (5 rusak berat, 3 rusak sedang), dan 8 DIT rusak sedang.
“Sekolah TK, SD dan SMP rusak berat 246, rusak sedang 80, dan rusak ringan 12 unit. Peraga pendidikan 923 set, mobiler 1.751 set, alat TIK 1.720 unit, alat laboratorium 560 set, KIT IPA, 1.651 set, dan buku 25.000 eksamplar”.
Terendam banjir dan lumpur, rumah 38.586 unit, sawah 12.783 hektare, dan tambak 10.653 hektare.
Muntasir menyebut kebutuhan saat ini logistik bantuan masa panik untuk pengungsi dan warga yang masih terisolir. Lalu, kebutuhan khusus perempuan, anak-anak, ibu hamil, balita, lansia dan disabilitas.
Berikutnya, kebutuhan transportasi air, seperti Rigid Inflatable Boat atau perahu karet untuk evakuasi dan distribusi logistik ke pengungsian dan daerah terisolir.
Pemulihan saluran komunikasi, listrik, air bersih, MCK, dan gas elpiji di titik pengungsian. “Peralatan (alat berat) untuk normalisasi saluran pembuangan dan pembukaan daerah terisolir”.
Sembilan kecamatan masih terisolir di Aceh Utara ialah Langkahan, Seunuddon, Baktiya, Baktiya Barat, Pirak Timu, Nisam Antara, Samudera, Lapang, dan Sawang.
Muntasir menyampaikan banjir Aceh Utara diakibatkan kedangkalan sungai, cuaca ekstrem, dan intensitas curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut. “Disertai jebolnya tebing sungai (Krueng) Pase di Kecamatan Samudera dan Nibong, Krueng Peutou di Lhoksukon dan Krueng Langkahan serta meluapnya sungai Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye dan Krueng Sawang”.
Dampak banjir, lanjut dia, jaringan listrik dan komunikasi di wilayah Aceh Utara padam total, baik internet maupun layanan panggilan. “Kondisi tersebut menghambat komunikasi, termasuk laporan keadaan darurat, koordinasi evakuasi dan distribusi logistik”.
Muntasir menyebut pemukiman penduduk masih tergenang banjir dan lumpur. Logistik masa panik sudah didistribusikan ke titik pengungsian melalui kantor kecamatan.
Penetapan status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Banjir telah ditandatangani Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa) di Lhoksukon pada 25 November 2025.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy