Takengon – Tanah longsor di Desa Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, pada Rabu, 26 November 2025, meninggalkan trauma psikologis mendalam bagi warga terdampak. Dua keluarga kakak beradik beserta anak-anak mereka hingga kini masih dihantui rasa takut usai bencana tersebut.
Asna, salah seorang warga di sana mengatakan longsor terjadi setelah hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut lima hari berturut-turut. Hari Rabu itu, sekira pukul 15.00 waktu Aceh, sebuah rumah di lereng perbukitan ambruk dan tertimbun material longsoran. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu karena pemilik rumah sedang tidak berada di tempat.
Namun, kata Asna, hujan deras yang tidak berhenti menyebabkan warga panik. Khawatir terjadi longsor susulan, beberapa keluarga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Malamnya, sekira pukul 22.00, kepanikan warga Kayu Kul mencapai puncak. Mereka kian dicekam ketakutan ketika suara gemuruh dari arah perbukitan terdengar semakin keras. Di antara gemuruh itu, kata Asna, material tanah bercampur bebatuan meluncur cepat menghantam permukiman warga.
“Akibatnya 12 rumah beton dan setengah permanen hancur total. Satu rumah mengalami rusak berat, serta tiga rumah lainnya terdampak serius,” ungkap Asna kepada Line1.News, Sabtu, 27 Desember 2025.
Dia melihat langsung detik-detik material longsoran itu menghancurkan rumah-rumah warga. Di tengah situasi panik dan syok yang menderanya tiba-tiba, Asna berusaha memanggil adiknya Nuriyah.
Saat itu, Nuriyah masih berada di dalam rumah bersama suami dan bayinya berusia 10 bulan serta anak-anak lain yang masih bersekolah di jenjang PAUD, MIN, dan MTs.
Melihat longsor kian mendekat, kedua keluarga kakak beradik tersebut bergegas menyelamatkan diri. Mereka mengungsi hanya dengan pakaian yang melekat di badan, di tengah hujan deras dan kondisi gelap. Beruntung, seluruh anggota keluarga selamat.
Keesokan hari, Asna bersama Nuriyah kembali ke rumah mereka untuk memeriksa kondisi bangunan. Keduanya bersyukur karena rumah mereka tidak ikut tersapu longsor, meskipun jaraknya sangat dekat dengan titik kejadian.
Kini di sisi kiri rumah, terdapat sebatang kayu gelondongan besar yang terseret material longsor. Kayu berdiameter besar itu memiliki ujung terpotong rapi menyerupai bekas gergajian. Sementara bagian pangkalnya masih dipenuhi akar dan tanah yang mengering.
Meski selamat secara fisik, peristiwa itu meninggalkan dampak psikologis berat, terutama bagi Asna dan anak-anaknya.
“Sampai sekarang kami masih dihantui rasa takut, mudah cemas saat hujan turun, sulit tidur, dan sering terbangun di malam hari,” ungkapnya.
Trauma serupa juga dirasakan warga lainnya. Karena itu, Asna berharap otoritas terkait memberikan perhatian bagi warga Kayu Kul.
“Khususnya dalam bentuk pendampingan psikologis dan program trauma healing bagi anak-anak korban bencana, agar mereka dapat kembali beraktivitas serta melanjutkan pendidikan secara normal.”[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy