Pendaki Gunung Bulusaraung Nyaris Terkena Serpihan Ledakan Pesawat ATR 42-500

Serpihan pesawat ATR 42 500
Serpihan pesawat ATR 42 500. Foto: Basarnas

Makassar – Resky, 20 tahun, pendaki Gunung Bulusaraung, nyaris terkena ledakan pesawat ATR 42-500 pada Sabtu, 17 Januari 2026. Saat itu, Resky dan rekannya Muslimin, 18 tahun, sedang berada di puncak gunung tersebut setelah memulai pendakian sekira pukul 10.00 WITA.

Sekira pukul 12.00 WITA, usai berfoto-foto keduanya duduk bersantai menikmati lanskap dari sekitar puncak. Kabut tebal yang menutupi jarak pandang, menyelimuti sekitar lokasi. Sementara angin berhembus kencang.

Tak lama, kata Resky, ia dan Muslimin mendengar suara pesawat. Mulanya, mereka mengira suara tersebut berasal dari pesawat yang melintas jauh di atas gunung. Namun, suara itu kian lama semakin dekat hingga akhirnya terdengar ledakan keras disertai api dan asap.

Baca juga: Pesawat Rute Yogyakarta-Makassar Hilang Kontak di Wilayah Sulsel

“Saya kira pesawat dari jauh, tapi suaranya makin mendekat. Tiba-tiba saya lihat ada ledakan, disertai api dan asap di puncak,” ujar Resky dilansir dari Tribunnews.com, Senin, 19 Januari 2026.

Namun, mereka tidak bisa melihat jelas badan pesawat karena terhalang kabut dan angin kencang.

“Yang terlihat hanya api,” katanya.

Baca juga: Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung

Resky memperkirakan jaraknya dari titik ledakan hanya sekitar 50 hingga 100 meter. Setelah ledakan, sejumlah dokumen dan serpihan serat puing pesawat beterbangan hingga ke puncak gunung setinggi 1.353 meter di atas permukaan laut itu.

Resky nyaris terkena serpihan serat yang terbakar jika tidak segera ditarik oleh Muslimin.

“Teman saya refleks langsung menarik saya untuk bersembunyi di balik batu,” ungkapnya.

Baca juga: Ini Fakta-Fakta Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Resky kemudian membawa turun dua dokumen turun ke base camp.

“Sebenarnya banyak barang, tapi hanya dua dokumen yang saya bawa turun, ada yang berbahasa Inggris dan logo,” jelasnya.

Di jalur pendakian, ia juga menemukan sejumlah dokumen lain yang berceceran. Selain itu, rombongan pendaki lain berjumlah empat orang juga menemukan sebuah peta berukuran cukup besar berbahan mirip plastik vinil.

“Di jalur pendakian juga ada kertas-kertas berceceran. Untuk peta yang ditemukan pendaki lain juga dibawa turun,” sebutnya.

Di base camp, awalnya tidak ada yang mengetahui adanya pesawat jatuh, selain dirinya dan Muslimin. Pendaki lain yang datang belakangan pun tidak menyaksikan langsung insiden tersebut karena tiba setelah kejadian.

“Saya baru melihat informasinya setelah turun. Rasanya seperti mimpi,” pungkas warga Coppeng-Coppeng, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan itu.

Diketahui, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Tim SAR gabungan menemukan badan dan ekor pesawat pada Ahad, 18 Januari 2026. Lokasi penemuan berada di lereng selatan puncak, sedangkan posisi badan pesawat di sebelah utara puncak Bulusaraung.

Sebelumnya, pesawat itu dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar, Sabtu, 17 Januari 2026. Ada 10 orang yang mengikuti penerbangan pesawat patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut. Terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Hingga kemarin, satu korban telah ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy