Haru dan Bangga, Belasan Ton Komoditas Unggulan Aceh Mendarat di Malaysia

Komoditas Aceh tiba di Port Klang
Sofyan, pemilik komoditas Aceh yang diekspor ke Malaysia menggunakan KM Fajar 99 saat memantau langsung kedatangan komoditas tersebut di Port Klang, Malaysia, Senin (29/6/2026). Foto: Dok. ATC untuk Line1News

Lhokseumawe, Line1News – Sebuah lembaran sejarah baru bagi perekonomian Tanah Rencong resmi terukir dengan tinta emas. Air mata haru dan rasa bangga mengiringi keberhasilan ekspor perdana belasan ton komoditas unggulan Aceh ke negeri jiran, Malaysia, yang digerakkan oleh Aceh Trading Committee (ATC).

Setelah membelah lautan selama puluhan jam, KM Fajar 99 yang membawa harapan besar para petani lokal akhirnya berhasil bersandar dengan selamat di Kawasan Barter Trade Asa Niaga Port Klang, Malaysia, pada Senin pagi, 29 Juni 2026. Sebelumnya, kapal milik pengusaha asal Tanjung Balai, Sumatra Utara yang disewa oleh ATC tersebut dilepas dengan doa terbaik saat bergerak memecah sunyi dari Pelabuhan Umum Krueng Geukeuh, Aceh Utara, pada Kamis (25/6) dini hari.

[Aktivitas bongkar muat komoditas di Asa Niaga Port Klang, Senin (29/6/2026). Foto: Dok. ATC]

Sinergi Tanpa Batas Demi Petani Daerah

“Alhamdulillah, sujud syukur, KM Fajar 99 sudah sandar di Port Klang Asa Niaga. Setelah proses unloading (bongkar muat), sekarang sedang menyelesaikan clearance dokumen-dokumen. Insya Allah, perjuangan ini akan segera berlanjut ke shippment (pengiriman) berikutnya. Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Aceh,” ungkap Ketua ATC, Zulkarnaini—akrab disapa Bang Jol Paloh—kepada Line1News via telepon dengan nada penuh kebahagiaan, Senin siang (29/6).

Keberhasilan besar ini diakui Jol Paloh tidak lahir dari kerja sendiri, melainkan buah dari sinergi dan gotong royong banyak pihak yang peduli pada nasib komoditas lokal. Secara khusus, ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Pelindo Cabang Lhokseumawe, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Lhokseumawe, serta Bea Cukai Lhokseumawe.

“Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mengawal dan mendukung ekspor perdana ini dari hulu hingga hilir, hingga semuanya berjalan sukses tanpa kendala berarti,” ucapnya tulus.

[Suasana di Port Klang, Malaysia, Senin (29/6/2026). Foto: Dok. ATC]

Pelayaran perdana ini membawa total muatan seberat 10.310 kg (10,3 ton). Sebagian besar lambung kapal didominasi oleh hasil keringat petani Aceh berupa produk pertanian segar dan rempah-rempah andalan, seperti kelapa, kunyit, alpukat segar, kemiri, serta mi instan sebagai produk olahan pendukung.

“Alhamdulillah, semua komoditas yang kita kirim tiba dalam kondisi sangat baik dan segar, karena memang dipilih dari produk yang tahan lama,” tambah Jol Paloh.

Dari Pelabuhan Asa Niaga, komoditas berharga ini kemudian diangkut menuju para pembeli (buyer) di Kedai Runcit seputaran Kuala Lumpur, untuk langsung menyapa konsumen di sana.

[Bukti autentik digital kehadiran Sofyan dan tim ATC di Jalan Kem, Kawasan 14, Pelabuhan Klang, Selangor, Malaysia pada Senin (29/6/2026) saat memantau distribusi barang bersama mitra dagang lokal. Foto: Dok. ATC untuk Line1News]

Siasat Efisiensi dan Rencana Pengiriman Kedua

Demi menjaga keberlanjutan mimpi besar ini, ATC bergerak taktis. Untuk sementara waktu, demi efisiensi jalur transportasi, KM Fajar 99 akan bersiap (stand by) di Tanjung Balai. Siasat ini diambil karena perjalanan laut dari Tanjung Balai ke Port Klang hanya memakan waktu sekitar 12 jam, jauh lebih singkat dibanding dari Krueng Geukueh yang mencapai 30 jam.

“Jadi, untuk sementara, komoditas dari Lhokseumawe, Aceh Utara, dan sekitarnya akan kita angkut terlebih dahulu lewat jalur darat ke Tanjung Balai, baru dimuat ke kapal. Langkah ini demi efisiensi biaya dan waktu. Nanti, jika sudah ada barang impor balik dari Port Klang, kapal akan langsung kembali masuk ke Krueng Geukueh,” jelas Jol Paloh menyusun strategi.

Langkah kaki ATC tidak akan berhenti di sini. Pengiriman kedua bahkan sudah dijadwalkan matang pada Minggu, 5 Juli mendatang, demi memenuhi permintaan buyer Malaysia yang sangat tinggi terhadap kelapa butir, kemiri, cengkeh, kulit manis (kayu manis), hingga arang kayu.

Merajut Silaturahmi Lewat Jalur Dagang

Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, ekspor ini mengemban misi kemanusiaan yang lebih mulia: mempererat ikatan persaudaraan yang telah lama terjalin antara warga Aceh dan Malaysia. Jol Paloh mengetuk hati dan mengimbau seluruh masyarakat Aceh yang memiliki komoditas siap ekspor untuk tidak ragu melangkah dan membangun komunikasi langsung dengan pasar Malaysia.

“Silakan bangun komunikasi dagang dengan saudara-saudara kita di Malaysia. Kami di ATC siap memfasilitasi pengirimannya. Kita kedepankan bisnis dengan family concept (konsep kekeluargaan), agar komunikasi dan silaturahmi antara warga Aceh dan Malaysia terbangun jauh lebih erat,” harapnya.

ATC juga memberikan kebebasan penuh bagi para petani dan pengusaha lokal dalam menentukan keuntungan mereka sendiri tanpa adanya intervensi modal yang menjerat.

“Soal harga silakan diputuskan langsung dengan pembeli di Malaysia. Sistemnya bisa door to door atau port to port. Tugas kami adalah memastikan barang-barang hasil bumi Aceh sampai ke tangan pembeli dengan aman dan selamat,” pungkas pria berbadan gempal ini dengan optimisme tinggi.[]

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy