Lhoksukon, Line1News – Kabar duka menyelimuti Gampong Matang Lada, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Di saat warga masih terlelap, sebuah bangunan yang menjadi tumpuan hidup sekaligus tempat bernaung bagi Fahmi (38) ludes tak bersisa dilalap si jago merah pada Selasa, 12 Mei 2026 dini hari sekitar pukul 04.00 waktu Aceh.
Tragedi ini tidak hanya menghanguskan material bangunan, tetapi juga melumat habis usaha warung kopi (warkop) yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian korban. Kerugian material ditaksir mencapai Rp130 juta—sebuah angka yang sangat besar bagi warga kecil yang sedang merintis ekonomi.
Detik-Detik Penyelamatan Diri
Saat musibah terjadi, Fahmi sedang tidak berada di rumah karena sedang bekerja di tambak. Di dalam bangunan tersebut, hanya ada kakaknya, Nurazizah (32), yang tengah beristirahat.
Kapolsek Seunuddon Iptu Edi Suparman mengungkapkan berdasarkan keterangan saksi api pertama kali terlihat muncul dari bagian depan bangunan. Diduga kuat, percikan api berasal dari meteran listrik akibat korsleting arus pendek.
“Saksi (Nurazizah) terbangun dan mendapati api sudah membesar di area depan warkop. Dalam kepanikan, ia berhasil menyelamatkan diri melalui pintu belakang sambil berteriak meminta bantuan warga,” ujar Iptu Edi Suparman dalam keterangannya.
Api Begitu Cepat, Harta Benda Tak Tersisa
Meski warga sekitar telah berjibaku memadamkan api dengan peralatan seadanya, material bangunan yang mudah terbakar membuat si jago merah dengan cepat merayap ke seluruh sudut ruangan. Seluruh isi rumah dan peralatan warkop milik Fahmi kini hanya menyisakan puing dan arang hitam.
Petugas pemadam kebakaran yang tiba satu jam kemudian langsung melakukan pendinginan untuk memastikan api tidak merembet ke pemukiman padat di sekitarnya.
Imbauan Kepada Masyarakat
Atas kejadian ini, pihak kepolisian kembali mengingatkan warga untuk lebih waspada terhadap kondisi instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha.
“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa kondisi kabel dan tidak menumpuk sambungan listrik secara berlebihan. Pastikan semuanya aman saat ditinggalkan atau saat kita beristirahat,” tambah Kapolsek.
Kini, yang tersisa dari bangunan di Gampong Matang Lada itu hanyalah puing-puing bisu. Fahmi dan keluarganya harus berlapang dada menerima kenyataan pahit bahwa rumah dan sumber penghidupannya telah rata dengan tanah.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy