Jakarta – Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya menapakkan kaki kembali di tanah air dengan selamat pada Minggu, 24 Mei 2026, pukul 15.30 WIB. Kepulangan mereka menyisakan cerita mencekam tentang kekejaman militer Israel di perairan internasional.
Para relawan kemanusiaan yang berangkat lewat organisasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) ini mendarat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah melalui proses diplomasi berlapis yang sangat intensif. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono.
“Kami mengucapkan selamat datang kembali ke tanah air dan selamat berkumpul bersama keluarga,” ujar Menlu Sugiono dalam sambutannya, dilansir laman Kemlu RI.
Baca Juga: 9 WNI yang Ditahan Israel Bebas, Menlu Sugiono Kecam Tindakan Zionis
Kronologi Penghadangan dan Diplomasi Kilat
Perjalanan para relawan kemanusiaan ini berubah menjadi urusan diplomasi tingkat tinggi setelah kapal mereka diintersepsi oleh militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, pada 18 Mei 2026. Para relawan kemudian disandera dan ditahan di kota Ashdod, Israel.
Merespons situasi darurat tersebut, Pemerintah RI bergerak cepat. Kemlu RI melalui Direktorat Pelindungan WNI menggerakkan lima perwakilan RI di kawasan strategis secara simultan, yaitu KBRI Ankara, KJRI Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, dan KBRI Roma.
Berkat kerja keras diplomatik tersebut, kesembilan WNI berhasil dibebaskan pada 21 Mei 2026. Mereka sempat diterbangkan ke Istanbul, Türkiye untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum akhirnya bertolak ke Indonesia menggunakan maskapai Emirates rute Istanbul-Dubai-Jakarta.
Menlu Sugiono menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Turki atas dukungan penuh mereka dalam memfasilitasi proses pembebasan. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia mengecam keras tindakan sewenang-wenang militer Israel yang dinilai melanggar hukum humaniter internasional.
Kesaksian Korban: “Kami Dipukul dan Ditendang”
Di balik keberhasilan pemulangan tersebut, cerita mengerikan diungkapkan oleh para relawan saat tiba di bandara. Ronggo, salah satu relawan WNI, membeberkan kekejaman yang mereka alami sejak kapal mereka dibajak pada 19 Mei 2026.
“Kapal kami di-intercept, dibajak, dirusak. Kami dipaksa pindah ke kapal militer,” kata Ronggo di Terminal 3 Bandara Soetta, Minggu (24/05), dilansir Antara.
Ronggo menambahkan bahwa militer Israel melakukan tindakan sangat agresif kepada sekitar 400 relawan dari berbagai negara yang ada di kapal tersebut.
“Kami mendapatkan pukulan, tendangan di kapal militer. Lalu dipindahkan lagi ke Pelabuhan Ashdod untuk mengurus imigrasi, dan di sana kami mendapatkan pukulan kembali,” ungkapnya. Setelah dari Ashdod, seluruh sandera dipindahkan ke kamp tahanan di Negev, wilayah selatan Israel, sebelum akhirnya diterbangkan ke Yordania melalui Bandara Ben Gurion.
Penderitaan Relawan Belum Sebanding
Sementara itu, jurnalis Republika yang juga menjadi relawan dalam misi ini, Thoudy Badai, mengaku bersyukur bisa pulang dengan selamat. Namun, ia menegaskan bahwa kekerasan yang ia dan rekan-rekannya alami belum ada apa-apanya dibanding penderitaan warga Palestina.
“Apa yang saya dan teman-teman alami, kekerasan dan kesedihan yang dilakukan Zionis Israel itu tidak sebanding dengan apa yang dialami ribuan tahanan Palestina, yang kebanyakan anak-anak, ibu-ibu, dan ibu hamil,” tutur Thoudy.
Ia pun mengetuk hati masyarakat internasional untuk tidak berhenti menyuarakan kemerdekaan Palestina. “Saya harap semua masyarakat di dunia tetap dukung, tetap suarakan isu Palestina karena dengan begitu bisa mendorong Palestina untuk terus merdeka,” pungkasnya.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy