Jakarta, Line1News – Gema takbir yang menggetarkan dinding-dinding Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Rabu, 27 Mei 2026 pagi, bukan sekadar ritual tahunan. Di hadapan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta ribuan jemaah yang memadati ruang utama, sebuah pesan mendalam tentang kehidupan ditiupkan dari atas mimbar.
Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah kali ini membawa pesan sarat makna melalui tema, “Meneguhkan Spirit Qurban, Merawat Alam dan Kemanusiaan.” Sebuah refleksi bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada kesalehan individu di atas sajadah, melainkan harus berdampak nyata pada bumi dan sesama.
Tamparan Keras Bagi Kesombongan Manusia
Suasana takzim mendadak hening saat Rektor UIN Alauddin Makassar, Profesor Hamdan Juhannis, yang bertindak sebagai Khatib, mulai membagikan sebuah kisah sederhana namun menohok ego siapa saja yang mendengarnya.
Ia bercerita tentang seorang profesor yang juga peneliti ternama sedang berlibur di sebuah kawasan pantai dengan pemandangan pegunungan nan indah. Profesor itu menyewa sampan kecil dari nelayan yang tinggal di pantai tersebut. Dia meminta untuk dibawa naik sampan agak keluar dari bibir pantai untuk menikmati pemandangan pegunungan di sekitar.
Melihat nelayan itu terdiam, profesor itu bertanya kepada nelayan: “Pak nelayan, apakah Anda pernah belajar filsafat, ilmu tentang mengolah pikiran?”
Nelayan itu menjawab: “Tidak pernah, Pak.”
Profesor itu merespons: “Sayang sekali, Anda kehilangan seperempat peluang hidupmu.”
Nelayan itu mengangguk dan terus mendayung.
Profesor itu untuk kedua kalinya bertanya: “Apakah Anda pernah belajar ilmu fisika, tentang bagaimana matahari dan air itu melahirkan energi?”
Nelayan itu menjawab: “Tidak pernah, Pak.”
Profesor itu menimpali: “Sayang sekali, Anda kehilangan lagi seperempat dari peluang hidupmu.”
Nelayan itu tetap mengangguk dan melanjutkan mendayung.
Profesor itu ketiga kalinya bertanya: “Apakah kamu pernah belajar bahasa asing, seperti Bahasa Inggris atau Bahasa Arab?”
Nelayan itu menjawab: “Sama sekali tidak pernah, Pak.”
Profesor itu mengunci dengan mengatakan: “Sayang sekali, Anda sudah kehilangan tiga perempat dari peluang hidupmu.”
Setelah profesor itu bertanya ketiga kalinya, tiba-tiba ombak besar datang mendera dan mengempas sampan hingga oleng. Keadaan pun berbalik seratus delapan puluh derajat. Sang profesor panik luar biasa.
Lalu, nelayan dengan santai berkata: “Pengalaman saya melaut di pantai ini, saya yakin akan ada ombak susulan yang lebih besar lagi, dan sampan ini pasti akan tenggelam. Saya ingin bertanya kepada Bapak profesor: Apakah Bapak pernah belajar berenang?”
Dengan muka pucat ketakutan, profesor itu menjawab: “Tidak pernah.”
Nelayan itu dengan datar mengatakan: “Sayang sekali, Bapak akan kehilangan seluruh peluang hidup Bapak.”
Hamdan menyebut kisah ilustrasi tersebut bertutur tentang fenomena krisis nilai kemanusiaan, praktik kesombongan, dan lakon tentang absennya penghargaan terhadap jati diri.
“Profesor itu sombong di depan kesederhanaan seorang nelayan kampung, karena dirinya menguasai banyak ilmu pengetahuan; menguasai filsafat, fisika, dan bahasa asing. Namun dia abai bahwa dalam hidup ini ada yang disebut dengan berenang, keterampilan yang tentunya sangat dikuasai oleh nelayan sederhana itu, tapi profesor itu lupa untuk mempelajarinya,” ujar Hamdan di hadapan ribuan pasang mata yang menyimak.
Haji dan Kurban: Menguliti Ego, Kembali Membumi
Hamdan kemudian merajut kisah itu dengan makna spiritual ibadah haji dan kurban. Menurutnya, ibadah haji adalah medan pelatihan untuk mengikis kesombongan diri. Ibadah haji melibatkan proses perpindahan dari tataran kehidupan profane kepada kesucian, yang disimbolkan dengan pakaian ihram yang serba putih tanpa jahitan.
Proses penyucian diri tidak hanya mencakup penyucian fisik, tetapi juga penyucian dari tanda-tanda lahiriah yang menunjukkan perbedaan sosial. “Bukan justru setelah pulang dari haji adalah kecenderungan menempatkan diri pada status sosial yang lebih tinggi dengan aksesoris haji yang dibawa pulang. Dari ajaran ibadah haji itulah, Iduladha yang kita lakukan saat ini disebut juga sebagai Idulhaj, karena sarat dengan ajaran kesetaraan, solidaritas sosial, kontrol egoisme dan keangkuhan,” tutur Hamdan.
Iduladha juga disebut sebagai Idulkurban, yaitu momentum untuk menapaktilasi kisah kenabian yang dilakoni oleh dua figur penting, yaitu Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kisah Ibrahim dan Ismail tidak hanya berbicara tentang ketaatan, tetapi juga tentang cinta yang diuji dan kemanusiaan yang diteguhkan.
“Nabi Ibrahim tidak sekadar diperintahkan untuk menyembelih putranya, tetapi diuji apakah cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada dunia. Itulah esensi kurban,” tegas Hamdan.
Kurban bukan hanya ritual, tetapi proses untuk bertransformasi. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh dikuasai oleh kepemilikan, melainkan harus menguasai dirinya untuk berbagi. “Spirit kurban sejatinya harus melampaui batas-batas simbolik,” ucapnya.
Jeritan Bumi yang Minta Dirawat
Di pengujung khutbah, sang Khatib membawa jemaah melihat realitas dunia yang menghadapi krisis kemanusiaan dan krisis lingkungan. Di berbagai belahan dunia, manusia menderita karena perang, kemiskinan, dan ketidakadilan.
“Sementara itu, bumi yang menjadi rumah kita bersama terus terluka akibat eksploitasi tanpa batas. Kita hidup dalam peradaban yang seringkali lupa bahwa alam bukanlah objek, melainkan amanah,” ungkap Hamdan.
Padahal, kata Hamdan, Allah telah mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi karena ulah tangan manusia, seperti dalam Surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ia menutup pesan sucinya untuk menyentuh nurani jemaah dengan sebuah kutipan legendaris dari aktivis lingkungan dunia, sebuah pengingat bagi generasi masa depan: “We don’t inherit the earth from our ancestors, we borrow it from our children. Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita hanya meminjamnya dari anak-anak cucu kita.”
Pagi itu, di bawah kubah besar Istiqlal, Iduladha tidak hanya dirayakan dengan jabat tangan dan air mata kebahagiaan, tetapi juga dengan komitmen baru: pulang ke rumah dengan jiwa yang lebih bersih, hati yang lebih peduli pada sesama, dan tangan yang siap menjaga kelestarian bumi pertiwi.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy