Meureudu, Line1News – Sisa lumpur akibat banjir bandang pada akhir tahun 2025 lalu di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua, Kabupaten Pidie Jaya memang perlahan mulai mengering. Namun, jejak pilu dari musibah terparah di kecamatan tersebut masih jelas membekas di wajah dan ingatan warganya.
Meski begitu, duka tidak dibiarkan berlarut. Menatap Iduladha 1447 Hijriah, masyarakat setempat membuktikan bahwa cobaan sedahsyat apa pun tidak mampu memadamkan api kebersamaan dan semangat berkurban mereka.
Sejak fajar menyingsing pada Kamis (28/5/2026), gema takbir yang bersahut-sahutan di meunasah berpadu dengan riuh rendah suara warga. Tanpa komando, mereka langsung membagi tugas: para pria menyiapkan tali dan mengasah bilah pisau, pemuda sigap mengurus tempat penyembelihan, sementara kaum ibu mulai menata dapur umum untuk memasak hidangan sederhana.
Magnet Pemersatu di Tengah Trauma
Bagi warga Blang Dalam, Iduladha kali ini bukan sekadar ritual tahunan atau bagi-bagi daging biasa. Momentum ini adalah media penyembuh (healing) massal untuk bangkit bersama.
Keuchik Gampong Blang Dalam, Mukhtar, mengakui bayang-bayang trauma pascabencana masih menggelayuti warganya. Di tengah proses pemulihan ekonomi yang tertatih, ia sempat khawatir antusiasme warga akan menyusut.
“Alhamdulillah, (kekhawatiran itu keliru) masyarakat tetap semangat berkurban. Walau sempat diuji dengan musibah besar, tradisi berbagi dan kebersamaan di gampong ini tetap hidup,” ujar Mukhtar, Kamis (28/5), dilansir NU Online pada Jumat (29/5).
Mukhtar, yang juga dikenal sebagai alumni terbaik DTD Ansor angkatan ke-3 Pidie Jaya ini, menambahkan bahwa nilai kurban tahun ini terasa jauh lebih sakral. Banyak warga yang rumah dan sawahnya hancur diterjang banjir, tetap datang ke meunasah untuk menyumbangkan tenaga.
“Iduladha membuat kami kembali berkumpul utuh. Ada rasa haru yang membuncah karena kami bisa merayakan hari kemenangan ini bersama-sama setelah melewati ujian yang begitu berat,” tambahnya.
Simbol Harapan yang Terus Menyala
Keterbatasan ekonomi memang tidak bisa ditutupi. Teungku Imum (Imam) Gampong Blang Dalam, Teungku Junaidi, menyebutkan ada penurunan jumlah hewan kurban dibanding tahun-tahun sebelum banjir.
“Tahun ini kami menyembelih enam ekor hewan kurban, terdiri dari empat ekor lembu, satu ekor kibas, dan satu ekor kambing,” rinci Teungku Junaidi.
Namun, bagi alumnus STIS Ummul Ayman Pidie Jaya tersebut, esensi kurban tidak berkurang sedikit pun. Esensinya justru menebal di tengah keterbatasan.
“Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi tentang bagaimana kita belajar ikhlas, peduli pada sesama, dan tetap bersyukur di dalam keadaan sesulit apa pun,” tutur Teungku Junaidi.
Alumni Dayah Ruhul Fata Seulimeum ini juga menitipkan pesan mendalam kepada generasi muda agar merawat warisan budaya gotong royong ini. Menurutnya, ukhuwah islamiyah dan solidaritas sosial khas masyarakat Aceh adalah fondasi utama yang membuat mereka selalu kuat menghadapi bencana.
Di sudut meunasah, tawa anak-anak kecil yang berlarian menjadi latarnya. Luka akibat banjir bandang mungkin belum sepenuhnya sembuh, namun dari Blang Dalam kita belajar: di mana ada kebersamaan, di situ selalu ada harapan yang menyala.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy