Oleh: KH. Misbahul Munir, S.Ag. MM, Sekretaris Umum MUI Tangerang
Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Takwa yang sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad SAW.
Baru saja kita melewati hari-hari yang penuh berkah: Hari Raya Iduladha dan kita masih berada di hari-hari Tasyrik. Sebagian dari saudara kita sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, dan sebagian lainnya di tanah air telah melaksanakan ibadah penyembelihan hewan kurban.
Namun, pertanyaan besar yang harus kita renungkan hari ini adalah: Apakah setelah momentum Iduladha berlalu, semangat (spirit) ibadah tersebut juga ikut berlalu?
Ketika kita berqurban, Allah SWT secara tegas mengingatkan kita bahwa yang sampai ke haribaan-Nya, yang mengetuk pintu rida-Nya, bukanlah tumpukan daging yang melimpah, bukan pula tetesan darah hewan yang membasahi bumi. Allah SWT sama sekali tidak membutuhkan itu semua. Yang Dia tatap dengan penuh rahmat, yang Dia timbang di atas neraca keadilan-Nya, adalah ketakwaan yang terhujam kuat di dalam lubuk hati kita yang paling dalam.
Hakikat dari ibadah kurban bukanlah tentang seberapa mahal harga hewan yang kita beli, seberapa gemuk fisiknya, atau seberapa megah nama kita tertulis di papan pengumuman masjid. Semua itu hanyalah bungkus luar. Isi yang sesungguhnya adalah keikhlasan yang murni, ketundukan jiwa tanpa tapi, dan rasa takut kita kepada Allah SWT.
Di sinilah letak ujian batin bagi setiap mudhahi (orang yang berkurban). Allah ingin melihat apakah di dalam setiap rupiah yang kita keluarkan ada rasa pamer (riya’), ataukah murni karena rindu akan cinta-Nya. Jika ketakwaan menjadi motor penggeraknya, maka kurban tersebut akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi hati kita pasca-Iduladha, yang membuat kita sadar bahwa segala yang kita miliki di dunia ini adalah titipan yang sewaktu-waktu harus siap kita kembalikan kepada-Nya.
Maka celakalah jika kita berkurban namun hati kita masih dipenuhi rasa sombong. Merasa lebih mulia daripada tetangga yang belum mampu membeli hewan kurban. Ingatlah, hewan kurban yang kita sembelih itu akan sirna dan menjadi daging yang habis dikonsumsi, namun catatan takwa di dalam hati kita, itulah yang akan abadi menghadap Allah di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj: 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.”
Spirit kurban pada hakikatnya adalah tentang “menyembelih” egoisme, mengikis ketamakan, dan meruntuhkan menara kesombongan yang sering kali tumbuh subur di dalam dada kita. Hewan ternak yang kita sembelih kemarin hanyalah simbolik, namun target sejatinya adalah menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia; seperti rakus, mau menang sendiri, dan acuh terhadap penderitaan sesama.
Jika saat momentum Iduladha kita begitu ringan tangan dan ikhlas mengorbankan sebagian harta yang kita cintai demi membeli hewan kurban, maka lembaran baru pasca-Iduladha adalah ujian konsistensi yang sesungguhnya. Kita dituntut untuk tetap menjaga nyala api keikhlasan tersebut dalam setiap amal perbuatan kita sehari-hari, tanpa lagi mengharapkan pujian (riya’) maupun popularitas (sum’ah).
Pascahari raya ini, mari kita buang jauh-jauh sifat kikir dan pelit. Jangan sampai setelah kurban berlalu, tangan kita kembali menggenggam erat harta dunia dan menutup mata dari jeritan kaum duafa. Sebaliknya, jiwa kita harus bertransformasi menjadi pribadi yang selalu siap berkorban—baik mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hingga materi—demi terwujudnya kemaslahatan umat, tegaknya keadilan sosial, dan kejayaan agama Allah SWT. Sebab, seorang mukmin sejati tidak akan pernah berhenti berkurban hingga ia melangkahkan kaki ke dalam surga-Nya.
“Maka tanyakan pada diri kita masing-masing: Jika untuk membeli hewan kurban jutaan rupiah kita mampu, mengapa untuk sekadar bersedekah ribuan rupiah di kotak amal masjid setiap Jumat kita masih merasa berat?”
Oleh karena itu, mari kita buktikan bersama-sama bahwa kebaikan, ketaatan, dan kesalehan yang kita tunjukkan selama ini bukan sekadar ibadah musiman yang datang dan pergi mengikuti kalender tahunan. Kita bukan hamba Allah yang saleh hanya di bulan Ramadan atau saat Iduladha saja, lalu kembali menjadi pribadi yang lalai ketika momentum itu berlalu. Kesalehan kita jangan seperti riak gelombang yang pasang saat hari raya, namun surut dan kering di hari-hari biasa.
Sebaliknya, mari kita transformasikan spirit ibadah tersebut menjadi sebuah kepribadian, sebuah karakter, dan identitas diri yang melekat erat dalam sanubari hingga akhir hayat menjemput. Kita ingin agar sifat dermawan, keikhlasan berkorban, semangat berjemaah di masjid, dan kebersihan hati dari sifat sombong, benar-benar menyatu dalam darah dan urat nadi kita.
Ketika kebaikan telah menjelma menjadi kepribadian yang mengakar, maka dalam kondisi pasang-surut kehidupan pun kita akan tetap istikamah. Inilah sejatinya pembuktian iman yang jujur: menjadi hamba Allah yang setia di setiap waktu dan tempat, hingga kelak Allah memanggil kita pulang dalam keadaan husnul khatimah, membawa catatan amal kebaikan yang tak pernah terputus.
Bagi saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah haji, puncak perjuangan mereka bukanlah saat melempar jumrah atau tawaf wada’, melainkan saat mereka kembali ke tanah air.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim mengenai balasan haji yang mabrur:
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ
“Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya melainkan surga.”
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda utama haji yang mabrur adalah adanya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci. Jika sebelum haji ia jarang ke masjid, setelah haji ia menjadi ahli masjid. Jika sebelum haji ia kurang peduli pada sesama, setelah haji ia menjadi sosok yang dermawan.
Spirit ini juga berlaku bagi kita yang belum berhaji. Kebersamaan, kesetaraan tanpa memandang kasta (yang disimbolkan dengan pakaian ihram), serta fokus berdzikir kepada Allah selama hari raya harus tetap membekas dalam kehidupan sosial kita sehari-hari.
Konsistensi atau istikamah dalam menjaga spirit ibadah adalah kunci utama sekaligus tolok ukur utama diterimanya amal shaleh kita di sisi Allah SWT. Para ulama sering kali mengingatkan bahwa tanda paling nyata dari sebuah ibadah yang diterima (maqbul) adalah lahirnya ibadah dan kebaikan baru setelahnya. Jika semangat bertauhid, berbagi, dan mendekatkan diri kepada Allah menguap begitu saja seiring berlalunya gema takbir Iduladha, maka kita patut khawatir bahwa ritual yang kita lakukan kemarin barulah sebatas penggugur kewajiban, belum menyentuh esensi takwa.
Istikamah pasca-Iduladha adalah ujian keimanan yang sesungguhnya. Beramal secara musiman atau hanya saat berada di momen-momen besar keagamaan memang indah, namun mempertahankan ritme ibadah tersebut di hari-hari biasa jauh lebih mulia. Allah SWT tidak melihat seberapa besar ledakan amal kita pada satu waktu, melainkan seberapa kokoh kontinuitas amal tersebut dalam mengarungi pasang surutnya kehidupan.
Di sinilah letak rahasianya: istikamah dalam kebaikan—meskipun hal itu tampak kecil dan sederhana di mata manusia—memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ia adalah benteng yang menjaga hati kita agar tidak layu setelah musim ibadah usai, sekaligus menjadi bukti paling jujur bahwa kita menyembah Allah yang Maha Kekal, bukan menyembah bulan atau momentum yang akan hilang.
Maka ketahuilah, wahai saudaraku, Allah SWT tidak mendesain Iduladha agar kita menjadi saleh selama empat hari saja. Iduladha adalah madrasah spiritual singkat yang kurikulumnya harus kita praktikkan sepanjang tahun. Konsistensi kita setelah hari raya ini adalah jawaban konkret, apakah kurban kita benar-benar karena Allah, ataukah hanya sekadar rutinitas budaya yang berulang tanpa makna.
Jangan pernah biarkan Iduladha yang mulia ini menguap begitu saja dan hanya menjadi sekadar ritual tahunan yang tanpa bekas dalam kehidupan kita. Amat disayangkan jika jutaan rupiah yang kita keluarkan untuk berkurban, atau lelahnya fisik saudara kita dalam menunaikan manasik haji, hanya menyisakan cerita sejarah tanpa membawa perubahan pada kualitas akhlak kita sehari-hari. Jangan biarkan momentum ini berlalu bagai angin lalu, di mana setelah Iduladha usai, kita kembali bergelimang dalam kelalaian, kembali memelihara sifat egois, dan kembali menjauh dari masjid-masjid Allah.
Sebaliknya, jadikanlah momentum Iduladha ini sebagai batu loncatan (starting point) yang kokoh untuk mengakselerasi dan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah SWT di bulan-bulan berikutnya. Anggaplah kurban dan haji kemarin sebagai bahan bakar spiritual yang baru saja diisi ulang. Hari ini dan hari-hari ke depan adalah pembuktiannya. Jika kemarin kita mampu takbir berhari-hari, maka hari ini lidah kita harus lebih basah dengan dzikir. Jika kemarin kita mampu berbagi daging kurban, maka hari-hari ke depan kepedulian sosial kita kepada tetangga dan fakir miskin harus semakin nyata.
Mari kita langkahkan kaki keluar dari masjid ini dengan komitmen baru: menjadikan hari esok lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih bermanfaat bagi sesama, demi menyongsong rida Allah SWT sebelum ajal menjemput kita.
Mari kita tutup khutbah yang singkat ini dengan berdoa kepada Allah SWT, semoga kita senantiasa diberikan kekuatan dan keistikamahan untuk mempertahankan spirit kurban dan haji dalam kehidupan kita sehari-hari. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy