Lhokseumawe, Line1News – Hutan Aceh sedang sekarat, dan jeritan alamnya kini menjelma menjadi ancaman nyata bagi keselamatan manusia. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia kali ini menjadi refleksi kelam yang disuarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara. Mereka memperingatkan dengan keras bahwa deforestasi yang tak terkendali di Tanah Rencong bukan lagi sekadar isu lingkungan biasa, melainkan bom waktu kemanusiaan yang siap meledak kapan saja.
Aceh, yang selama ini diagungkan sebagai salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis dunia sekaligus rumah bagi Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), kini perlahan kehilangan mahkota hijau dan keunikan hayatinya. Gempuran pembalakan liar, ekspansi korporasi perkebunan, pertambangan, hingga alih fungsi lahan yang brutal, terus menguliti paru-paru bumi Serambi Mekah dari tahun ke tahun.
Angka yang Mengerikan: Lebih dari 77 Ribu Hektare Sirna
Data pemantauan dari Yayasan HAkA melukiskan potret yang sangat menyayat hati. Sepanjang tahun 2024 saja, Aceh telah kehilangan 10.610 hektare tutupan hutan—sebuah lonjakan mengerikan sebesar 19 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika ditarik garis lurus dalam rentang waktu lima tahun terakhir (2020–2024), akumulasi kehancuran ini telah menembus 77.400 hektare. Artinya, rata-rata 19.350 hektare hutan Aceh musnah setiap tahunnya. Angka-angka ini bukan sekadar statistik dingin di atas kertas, melainkan bukti nyata dari ruang hidup masyarakat dan satwa langka yang sedang dirampas secara paksa.
Bukan Sekadar Seremoni Simbolis
Ketua Umum HMI Cabang Lhokseumawe–Aceh Utara, Mohamad Muhaymin, menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak boleh terjebak dalam seremoni tahunan yang palsu, penuh pidato manis, atau sekadar aksi penanaman pohon simbolis tanpa adanya penegakan hukum yang konkret.
“Kerusakan hutan di Aceh bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Ketika hutan hilang, yang terancam bukan hanya satwa dan ekosistem, tetapi juga urat nadi kehidupan masyarakat yang bergantung pada alam. Penyelamatan hutan harus menjadi agenda prioritas utama pemerintah,” tegas Muhaymin dalam keterangan tertulis diterima Line1News, Jumat, 5 Juni 2026.
Menolak Lupa: Trauma Banjir Besar 2025
HMI juga mengetuk kembali ingatan publik dan pemangku kebijakan pada tragedi pilu akhir November 2025 lalu. Banjir bandang dan air bah meluluhlantakkan sejumlah kabupaten dan kota di Aceh. Tangis ribuan warga yang kehilangan harta benda, rusaknya fasilitas publik, lumpuhnya ekonomi, hingga trauma mendalam yang ditinggalkan, adalah saksi bisu dari hulu sungai yang telah gundul.
Ketika hutan di daerah tangkapan air dirusak, alam kehilangan kemampuannya untuk memeluk air hujan. Akibatnya, air berubah menjadi monster yang menyapu pemukiman warga. HMI mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi ini murni terjadi akibat kegagalan manusia dalam menjaga titipan alam.
Empat Ancaman Domino Mengintai Aceh
HMI merinci bahwa deforestasi yang tidak terbendung ini membawa dampak berantai yang sangat mengerikan bagi kelangsungan hidup generasi masa depan Aceh:
* Kerusakan Ekosistem: Mengubah bentang alam dan merusak tatanan ekologis penyangga kehidupan.
* Meningkatnya Risiko Bencana: Lonjakan frekuensi banjir bandang dan tanah longsor yang kian mematikan.
* Krisis Air Bersih: Mengeringnya sumber-sumber mata air alami yang mengancam kebutuhan domestik warga.
* Hilangnya Habitat Satwa: Sirnanya ruang hidup bagi keanekaragaman hayati dan satwa langka endemik Aceh.
Desakan Aksi Nyata dan Penegakan Hukum
Melihat kondisi yang kian kritis, HMI menuntut pemerintah untuk segera mengambil tindakan radikal dan bersikap tegas:
1. Perketat Pengawasan: Lakukan patroli berlapis di kawasan hutan lindung dan zona konservasi.
2. Hukum Tanpa Pandang Bulu: Seret para aktor intelektual, cukong pembalakan liar, dan korporasi nakal ke meja hijau.
3. Evaluasi Izin Usaha: Cabut izin konsesi yang terbukti merusak bentang alam Aceh.
4. Rehabilitasi Masif: Genjot program pemulihan hutan dan lahan yang sepadan dengan masifnya laju kerusakan.
Mewariskan Kesejahteraan, Bukan Bencana
Momentum 5 Juni ini harus menjadi titik balik bersama bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh menumbalkan kelestarian alam. Aceh membutuhkan kebijakan pembangunan yang berkeadilan ekologis, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan hidup.
“Jangan sampai pembiaran terhadap deforestasi hari ini membuat Aceh kembali tenggelam dalam banjir besar seperti tahun lalu. Menyelamatkan hutan Aceh berarti menyelamatkan masa depan Aceh. Jika kerusakan ini terus dibiarkan, generasi mendatang akan mewarisi bencana, bukan kesejahteraan. Sudah saatnya pemerintah bertindak lebih tegas sebelum semuanya terlambat,” pungkas Mohamad Muhaymin.
SETOP DEFORESTASI! TEGAKKAN HUKUM! SELAMATKAN HUTAN, SELAMATKAN ACEH! HUTAN LESTARI, ACEH BERKELANJUTAN![]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy